Tanazul ke Arafah

26 November 2009 13:34

Perlengkapan itu sudah masuk di ransel. Isinya hanya berupa handuk, Al-Qur’an, buah dan sedikit makanan kecil. Tak lupa bendera regu yang memang menjadi kewajibanku membawanya, aku selipkan di sisi kanan ransel. ‘Bismillahirrahmanirrahim, ayo jalan..’

Mina, 9 Dzulhijjah 1426H masih pukul 03.30 WAS. Mulailah kami bergerak dari depan tenda, berjalan kaki menuju Muzdalifah. Para Karom sibuk mengatur rombongannya yang masing-masing berjumlah 40 orang dan sebagai Karu aku membantunya dengan ikut menghitung para jamaah, takut ada yang tertinggal. Subuh itu kami berhenti sejenak di Muzdalifah untuk sholat subuh berjamaah. Aa Gym menjadi imam dan memberikan sedikit tausiyah sebelum kami melanjutkan lagi perjalanan menuju tanah suci Arafah.
Kaki yang lecet, lanjut disini..

Pentingnya Sebuah Manasik

23 Oktober 2009 13:33

Simulasi Umrah/Haji

Simulasi Umrah/Haji

JAKARTA – Subhanallah, sudah masuk musim haji lagi. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik. Entah mengapa, setiap musim haji tiba, hati ini langsung terasa rindu untuk berada di sana lagi. Ya maklum, berhaji kan sungguh sebuah pengalaman rohani yang tidak mungkin bisa dilupakan.

Rasulullah bersabda, bahwa siapa yang hendak meraih dunia harus dengan ilmu. Demikian juga akhirat, meraihnya juga dengan ilmu. Oleh sebab itu lah para penyelenggara KBIH/Kelompok Bimbingan Ibadah Haji selalu menyelenggarakan manasik untuk para calon jamaah haji. Manasik ini bukan sekedar pengetahuan untuk beribadah haji saja namun juga memberikan bekal yang insyaAllah cukup dan bermanfaat dipraktekkan di tanah suci.

Mari lanjut disini..

Baju Batik dan Himbauannya

1 Oktober 2009 14:56

JAKARTA – Sudah sejak pertengahan bulan lalu aku menerima email yang mengharapkan para pegawai kantor mengenakan batik pada hari Jum’at 2 Oktober 2009. Ini berhubungan dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO/United Nations Educational Scientific and Cultural Organization pada tanggal tersebut. Entah siapa yang memulainya, email ini saling berantai kesana kemari, dari mailing list, forum sampai facebook.

Ya memang, namanya saja himbauan, boleh diikuti atau tidak tanpa ada hukumnya. Aku pribadi memilih tidak mengenakan batik esok hari, apalagi besok hari Jum’at. Bukan karena aku gak senang batik diresmikan sebagai warisan budaya kita, tapi aku lebih memilih sunnah Rasulullah untuk mengenakan baju berwarna putih untuk beribadah.

Rasulullah SAW bersabda ‘Kenakanlah pakaian putih karena lebih suci dan lebih indah, dan kafanilah mayat-mayat kalian dengan kain putih‘ [dari HR. Ahmad dan selainnya dengan sanadnya yang shahih] memperkuat keyakinanku bahwa beribadah dengan pakaian yang putih dan suci lebih disukai Allah SWT dan RasulNya.

Aku berpikir, mengenakan pakaian bercorak saat sholat berjamaah mengandung resiko mengurangi kekhusyu’an sholat, baik bagi diri kita apalagi jamaah di belakang kita. Bukan tidak mungkin mereka lebih asyik mengamati ornamen batik atau corak gambar kain yang kita kenakan dibanding khusyu’ dalam sholatnya, kan? Kalau itu dicatat sebagai pengurang amal kita atau bahkan sebagai dosa yang kita perbuat, siapa yang mau menanggungnya? Hmm..

Namun aku tidak akan melarang apalagi mencela para muslimin yang mengenakan baju batik saat sholat berjamaah/Jum’atan. Apalah diri ini ya tho? Tapi coba dipikir, kalau kaum muslimah saja mukenahnya tidak ada yang bercorak, mengapa kita kaum muslimin memakainya saat sholat? Toh kita punya baju taqwa, atau sering juga disebut baju koko, itu kan cenderung polos dan tak bercorak. Mengapa tidak dibudayakan saja memakai baju taqwa itu di hari Jum’at? Ini malah menggunakan batik. Cari hari lain saja lah untuk berbatik ria, asalkan bukan hari Jum’at.

Ayo, dahulukan sunnahNya dan rasulNya, insyaAllah lebih barokah. Setuju?

PURWOKERTO – Selamat Idul Fitri 1430H. Mohon maaf lahir dan bathin. TaqabalAllahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, taqabal Ya Karim.

Bulan suci telah pergi, meninggalkan harapan agar apa yang kita lakukan satu bulan penuh kemarin diterima oleh Allah SWT. Berharap agar kita tidak menjadi muslimin yang tak mendapat apa-apa kecuali menahan lapar dan dahaga. Karena bila itu terjadi, betapa ruginya diri kita. Bukankah Allah sudah menjanjikan bahwa siapa yang berpuasa akan naik ke maqom taqwa?

Namun ternyata tidak semua yang berpuasa di bulan Ramadhan naik derajatnya. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa banyak umatnya yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, karena tidak memaksimalkan ibadah di bulan suci. Mereka hanya berpuasa perut, tidak berpuasa hati dan panca indera lainnya.

Mereka begitu meremehkan bulan Ramadhan, menganggap bulan suci itu tak ubahnya bulan-bulan yang lain. Sholatnya ya begitu-begitu saja, puasa tapi tetap dengki, tidur sepanjang hari, Al-Qur’an tak dijamah apalagi dibaca dan tak ada keinginan untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan yang terbaik.

Itulah mengapa, malam kemarin betapa berat diri ini melepas kepergian Ramadhan. Pergi sudah bulan yang penuh rahmat dan ampunan, bulan yang setiap ibadah diganjar pahala puluhan kali lipat dan bulan dimana setiap amal sunnah diberi hadiah amalan wajib. Siapa yang mau menolak hadiah-hadiah surga itu? Pastinya tak ada, bila kita semua mau berpikir.

Sejumput doa pun terlantun agar Allah SWT berkenan memberikan kesempatan menikmati semua itu lagi tahun depan. Sembari menunggu, amalan yang kita lakukan sebulan penuh jangan pula ditinggalkan. Tetaplah sholat berjamaah di masjid, tetaplah berpuasa [di Senin dan Kamis], tetaplah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tetaplah bersedekah. Semoga ke-istiqomah-an itu mencerminkan suksesnya kita digodok selama bulan suci Ramadhan, amin.

Aku tunggu kehadiranmu lagi, Ramadhan..

Si Dia

10 September 2009 16:10

Dia tuh sebentar saja mampirnya. Bentar lagi juga ngilang. Kalau dia udah gak ada, semuanya balik ke awal lagi. Yang tadinya kosong, balik lagi ke kosong walaupun kemarin penuh. Yang tadinya buka-bukaan, ya buka-bukaan lagi, walaupun kemarin ditutup-tutupi. Yang kemarin rajin baca kitab, bentar lagi sepi lagi.

Padahal dia tuh baik banget deh. Apa-apa dibawa. Mau 70 kali lipat? Dia punya. Mau yang sunnah jadi wajib? Di dia ada. Baik kan? Tapi sebaik itu, kenapa orang pada seneng ya dianya pergi?

Eh eh, belum juga pergi, orang-orang udah gak betah ding. Sudah pengen lebaran katanya. Barisan yang lagi ruku’ makin maju. Makin dikit jamaahnya. Padahal dianya masih disini. Dia nangis nggak sih kalau dia datang namu, orang yang didatengin malah pergi dan gak peduli? Buah tangan yang dibawanya dari surga, bisa-bisa dibawa pulang lagi, gak dititipin ke kita.

10 hari lagi lebaran, kata orang-orang. Si dia mah sekarang cuma jadi hitungan di jari nungguin pergi. Mungkin banyak yang gak peduli dia-nya mau datang lagi apa nggak. Atau banyak yang gak mau tahu, dia ini terakhir kali apa nggak datang ke sini.

Atau mungkin yang ditunggu ternyata bukan dia, tapi tamu lain setelah dia pergi. Tamu yang datang disambut dengan THR itu kayanya lebih menarik. Bisa belanja-belanja, tak perlu nahan lapar dahaga, bisa mudik, jalan-jalan dan hepi-hepi.

Duh, sedihnya kalau aku jadi dia. ‘Aku datang bawa banyak oleh-oleh dari surga tapi tetap saja banyak yang menafikannya. Ini berulang-ulang setiap tahun tanpa aku tahu mengapa. Apa umat Rasulullah ini sudah puas dengan amalan di awalnya saja atau 30 hari itu terlalu lama untuk sebuah istiqomah?’

Maafkan kami Ramadhan. Semoga engkau mau menjumpaiku lagi, dan lagi.. dan lagi..

Memenuhi Panggilan

30 Agustus 2009 16:05

JATIBENING – Azan Ashar baru saja berkumandang. Alhamdulillah beberapa warga terlihat memenuhi panggilan untuk sholat itu. Panggilan itu sederhana sekali, tidak perlu pakai lonceng, bara api, terompet atau bunyi-bunyian. Di dalam panggilan yang berkumandang lima kali dalam sehari itu terselip ajakan untuk sholat dan meraih kemenangan. Sebuah ajakan untuk sebentar berusaha namun mendapatkan manfaat: Sholatlah untuk meraih kemenanganmu. Haiyyalah Sholah, Haiyyalah Falah.

Itu janji Allah SWT. Sholat adalah tiang agama. Sholatlah maka akan tegak agamamu. Bila sudah tegak benteng agamamu, kemenanganlah yang akan kamu raih.

Namun, panggilan itu kadang tidak sampai ke relung hati. Hati yang masih tertutup akan iman, mampu menutup genderang telinga untuk menafikan panggilan itu. Begitulah yang terlihat di sebuah pangkalan ojek di depan musholla kami. Beberapa tukang ojek, yang muslim itu, asyik berbual tanpa menghiraukan panggilan azan dan iqomah.

Sampai kemarin, ada yang biasa ikutan nongkrong di pangkalan ojek itu akhirnya memasuki musholla juga. Itu tak biasanya. Padahal rumahnya ada di belakang musholla. Padahal ia pun seorang muslim. Ya, ia masuk musholla dengan ditandu di dalam sebuah keranda. Kami mensholatinya siang itu.

Betapa semuanya sudah terlambat. Panggilan Allah yang pertama berupa azan, tak dipenuhinya. Panggilan yang kedua, yaitu umrah dan berhaji, apalagi. Ia pun memenuhi panggilan Allah yang ketiga, kematiannya, begitu tiba-tiba namun patuh. Tak bisa lagi mengelak, tak bisa lagi menghindar. Semoga Allah mengampuninya.

Moral dari cerita diatas adalah jangan sia-siakan iman, Islam dan umur yang Allah karuniakan kepada kita. Selagi kita mendengar panggilan Allah dalam keseharian, segera penuhilah agar Allah sudi memanggil kita untuk kedua kalinya ke Baitullah dan bekal kita pun telah banyak saat panggilan ketigaNya datang.

Puasa dan Keimanan

28 Agustus 2009 14:42

Ramadhan KareemJAKARTA – Syukur alhamdulillah kita sudah berpuasa 7 hari di bulan suci 1430H ini. Puasa atau shaum itu satu-satunya ibadah dalam Rukun Islam yang bukan merupakan ibadah ‘demonstratif’. Ibadah lainnya, seperti syahadat, sholat, membayar zakat dan pergi berhaji, orang lain bisa tahu bahwa kita sedang melakukannya.

Seorang mualaf harus bersyahadat dan bersaksi di depan orang lain sebagai pertanda masuk keislamannya. Sholat bahkan diwajibkan berjamaah di musholla/masjid bagi kaum laki-laki. Zakat pun demikian, kadang namanya sampai diumumkan di media. Apalagi ibadah haji, yang pergi sepasang suami istri, yang mengantar bisa sekampung. Tapi berpuasa? Boleh kita sahur dan berbuka bersama keluarga, tapi siapa yg tahu bahwa kita saat ini sedang berpuasa? Hanya diri kita dan Allah SWT lah yang tahu.

Lalu ada yang menggelitik di hati, apakah kita yang berniat puasa dan sahur tadi pagi, berani membatalkan puasa dengan sengaja siang ini? Karena lapar dan dahaga, sepulang Jumatan bisa saja kita mampir ke warung untuk membeli sebotol minuman. Toh tak ada yang protes, tak ada tang melarang dan tak ada yang tahu. Mungkin hanya kita, penjual minuman itu dan tentu, Allah SWT. Tapi mengapa kita tidak berani melakukannya?

Kita yang tidak berani melakukannya, insyaAllah karena kita memiliki iman di dada. Bersyukurlah kita karena masih mempunyai iman. Hanya yang beriman lah yang dipanggil Allah SWT untuk melakukan shaum Ramadhan, sebagaimana ayat ke 183 di surah Al-Baqarah yang terkenal itu. Hanya dengan iman itu lah kita bisa juga bersyahadat, melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjamaah, membayar zakat dan pergi berhaji (bila mampu).

Sayangnya, kadang kita hanya ‘beriman’ di bulan Ramadhan saja. Setelah ramadhan pergi, seolah-olah tingkatan iman kita baru sampai di rukun islam yg pertama. Rukun Islam sisanya, seolah berlalu bersama munculnya sang Syawal. Lebih sedih lagi kalau tak ada bekasnya sama sekali, bagai Ramadhan yang datang tapi tak mau memberikan oleh-oleh rahmatNya, naudzubillah.

Tulisan ini sebenarnya untuk memotivasi diri sendiri, namun tak ada salahnya bila dapat mengajak pembaca untuk mempertebal kualitas iman dan ibadah agar Allah menggolongkan kita sebagai generasi Qur’ani, bukan hanya generasi Ramadhani. Mumpung baru sepekan kita berpuasa, ayo tingkatkan ibadah dengan mengazzamkan niat di hati agar kualitas ibadah kita akan terus seperti saat ramadhan menemani hari sehingga predikat taqwa yang dijanjikan Allah untuk hambaNya bisa kita raih, amin.

Gambar diambil dari situs B.S.B, Dubai. Diolah.

Menyiapkan Target di Bulan Ramadhan

20 Agustus 2009 11:54

Banner RumahJAKARTA – Tinggal sedikit lagi masuk bulan suci Ramadhan 1430H. Sudah tiga Ramadhan ini rumah kami selalu dihiasi atribut menyambut datangnya sang bulan suci. Ini kami lakukan agar anak-anak tergugah semangat dan motivasinya untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tema tahun ini adalah ‘Ramadhanku Bercahaya Bersama Abi & Ummi‘. Desain itu kami cetak dalam ukuran 1m x 1.5m dan digantung di dekat musholla rumah, yang diharapkan berfungsi untuk mengingatkan anak-anak bahwa saat ini adalah saat yang sangat berharga untuk beribadah sebanyak-banyaknya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga sudah mempunyai target ibadah masing-masing. Si Ummi kemarin menyerukan kepada Ingga dan Najah, akan memberi Rp 50.000,- untuk satu juz Al-Qur’an yang diselesaikan. Mata Ingga pun berbinar-binar, mungkin ia membayangkan akan memperoleh uang seperti di permainan PetSos-nya [yang menjengkelkanku itu] lalu bisa beli ini itu. Ia pun bertanya, ‘Bila khatam Qur’an, bisa dapat satu setengah juta dong ‘mi, nanti uang ummi habis.‘ Si Ummi pun menjawab, ‘Tak apa-apa. Yang penting anak ummi bisa khatam Qur’an.

Sah-sah saja kan, menggugah semangat anak-anak lewat iming-iming sesuatu, baik berupa barang ataupun uang? Karena terkadang anak-anak drop semangatnya di tengah jalan. Bosen lah, capek lah, dan banyak lagi alasan lainnya. Biasanya dengan memberikan suntikan semangat demikian, mereka pun sadar, mereka mempunyai target yang harus dipenuhi.

Bagaimana dengan orang tuanya? InsyaAllah, kita pun tidak mau kalah dengan anak-anak . Bila saat umrah 9 hari saja bisa khatam 1 kali, seharusnya 30 hari bisa lebih dong ya, hehehe. Tapi aku sadar diri, ghirah di sini tidaklah sekuat di Tanah Suci, apalagi waktunya yang susah bila harus lama bertadarus setiap selesai sholat fardhu. Target khatam 1 kali masih realistis namun harus ditambah dengan target menghafalkan semua surah di juz ke 30, insyaAllah.

Nah, bagaimana dengan anda, sudahkan mempunyai target ibadah di bulan suci kali ini?

Bagi pengguna aplikasi CorelDraw [versi 11 atau yg lebih besar] yang mau mengunduh file gambar diatas, silakan download disini (70 Kb).

Jenggot

14 Agustus 2009 11:25

qrJAKARTA – Jenggot, atau janggut dalam Bahasa Indonesia, menurut wikipedia adalah ‘rambut yang tumbuh pada daerah dagu, pipi, dan leher pria.’ Dalam agama Islam, memelihara jenggot ini ada yang mengatakan sunnah, ada pula yang wajib. Tulisan ini tidak mengupas sisi hukum memelihara jenggot dari kaidah agama, namun lebih pada pengalaman penulis dalam memelihara jenggot ini.

Kapan pertama kalinya aku membiarkan jenggot -yang sebenarnya tidak lebat-lebat amat ini- tumbuh di dagu, persisnya aku sudah lupa. Bila melihat arsip foto-foto digital tahun 2002, daguku masih licin, hasil penebangan pisau cukur dan foam/busa cukurnya. Bicara foam itu, seingatku aku jadi korban iklan. Melihat sang model nyaman memainkan pisau cukurnya diatas busanya yang berlimpah, aku jadi tertarik untuk membelinya. Padahal, belakangan aku rasakan pakai sabun cair saja juga sama nikmatnya.. :D

Lanjut cerita jenggot disini yak..

Terbilang – Excel

31 Juli 2009 23:15

JATIBENING – Dari salah satu milis IT yang aku ikuti, kemarin ada yang menanyakan apakah ada yang tahu caranya membuat terbilang di aplikasi Excel. Pertanyaan itu mengingatkanku tentang file sejenis yang pernah aku buat lebih dari 10 tahun yang lalu. Namanya pun mirip dengan yang ditanyakan: Terbilang.

xl-1

Prinsipnya sederhana, mengubah angka menjadi huruf yang menyatakan bilangan itu. Misalnya 154250760 harus ditulis Seratus Lima Puluh Empat Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Tujuh Ratus Enam Puluh. Aku jadi teringat 10tahun yang lalu, saat sedang asyik-asyiknya mengutak-atik Excel, hal itu menjadi tantangan tersendiri. Lembaran kuitansi yang ada, harus dapat diprint menggunakan Excel dan memunculkan bilangan dari nilai yang ada di kuitansi itu. Lanjut baca didalam..