Negeri Sembalap

Sudah lebih dari sebulan ini sejak Ummi bedrest dan cuti melahirkan, aku memakai sepeda motor untuk pergi bekerja. Enak sih, lebih cepat, irit uang bensin dan penuh pengalaman baru. Aku pun bisa berangkat lebih siang, jadi punya waktu untuk bermain-main dengan si kecil dulu. Rasanya kalau naik motor lewat jalanan mana saja OK, mau jalan raya atau jalan tikus ayo aja. Kendalanya paling kalau pas hujan deras, di belakang truk sampah atau berkendara di bawah matahari yang terik. Tak sepadan memang bila dibandingkan dengan naik mobil yang ber-AC, semua kendala itu jadi tak ada artinya.

Rute setiap hariku dari Jatibening ke Pulomas memang tidak terlalu jauh, paling hanya 17-20 km tergantung lewat mana. Bisa ditempuh dalam 45 menit sampai 1 jam dengan kecepatan yang normal, gak pakai ngebut. Kalau naik mobil, paling cepat satu jam, itu juga lewat jalan tol. Kalau lewat jalan arteri seperti jalur aku naik motor, bisa tambah 30 menit lagi.

Nah yang menjadi perhatianku, para bikers -istilah untuk pengendara motor- ini kurang sekali disiplin berlalu-lintasnya. Entah sejak kapan, mungkin sejak jaman reformasi, mereka-mereka ini kalau berhenti di lampu merah sering kali melanggar garis/marka berhenti. Mereka cenderung berhenti (jauh) di depan garis stop, bahkan di tempat dimana pengendara dari arah berlawanan melintas dekat di depan mereka. Anehnya, polisi yang mengatur lalin pun terkadang membiarkan walau ada juga beberapa yang menertibkan untuk mundur di belakang garis.

Di jalan utama yang memiliki jalur cepat dan lambat, masih sering kita temui bikers yang main slonong aja masuk ke jalur cepat, padahal udah jelas-jelas rambunya segede bagong menunjukkan verbodden untuk kendaraan roda dua. Belum lagi yang menabrak lampu merah. Pernah di sebuah perempatan lampu merah aku diminta untuk maju karena motorku menghalangi motornya. Aku tunjuk lampu merah yang masih menyala, tapi si kawan ini tak peduli. Ia terus mengebel dan memintaku jalan. Yasud, aku hanya beringsut dan ia pun bergegas menerobos lampu merah itu. Masih untung tak terjadi kecelakaan, padahal pengikut di belakangnya lumayan banyak. Yang begini ini sering terjadi dan kerap terlihat di setiap lampu merah, apalagi yang tidak ada polisinya.

Bikers juga banyak yang ogi, ogah rugi. Kayanya gak ada sabar-sabarnya sama sekali kalau sudah lihat ada antrian dan kemacetan di depan. Maunya seruduk sana seruduk sini bahkan sampai lewat trotoar segala. Badan jalan arah berlawanan pun diokupasi, gak tau apa kalau itu justru membikin macet lebih parah?

Mau lihat yang lebih sangar? Tunggu lampu hijau menyala. Bak lintasan sirkuit, mereka saling beradu kecepatan, mencari tempat untuk menjadi yang terdepan. Ups, kaya slogan iklan merek motor nih, sorry sorry gak ada maksud kesana. Tapi kenyataannya memang begitu, para bikers ini seperti pembalap motoGP. Bunyi knalpot yang meraung ditambah postur tubuh yang condong ke depan persis dah kaya mas Rossi si pembalap kampiun itu.

Ya, negeriku, atau setidaknya, kotaku, memang negeri penuh pembalap motor. Rata-rata mereka memacu motornya dengan kencang di waktu-waktu rush hour sekalipun. Kadang sampai miris melihat mereka meliuk-liukkan motornya, menerobos antrian mobil dan motor saat menyalipnya, edun tenan dah. Tak heran banyak yang berperilaku seperti itu di jalanan karena iklan di televisi pun menjadikan pengendaranya bak pembalap dan jago ngebut sehingga banyak yang menirunya. Padahal tidak sekali saja aku menjadi saksi serempetan motor dengan mobil atau bahkan yang terlindas bis, tapi nampaknya itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka.

Namun pengendara yang berdisiplin lalu lintas pun masih banyak kok, walau jumlahnya lebih sedikit dibanding yang jago-jago ngebut itu. Biasanya yang sudah sadar lalin dan tidak diburu waktu lebih bisa berempati, masih mau berbagi dengan sesama pengendara jalan. Mungkin juga mereka-mereka ini sudah dewasa dalam bersikap, yang sudah mengerti akan keselamatan diri dan orang lain. Atau mungkin setuju dengan spanduk pak polisi ‘Hati-hati di jalan, anak dan istri menunggu di rumah‘, yang membuat mereka (dan saya) lebih berprinsip ‘pelan-pelan asal selamat‘ demi berjumpa dengan mereka yang sudah menungguku hadir di rumah dengan utuh.

Mari disipilin di rumah, di tempat kerja juga di jalan raya.
Catatan Pengendara Mio Merah B6859KXO

 

4 pemikiran pada “Negeri Sembalap

  1. mengerikan memang melihat para pembalap beraksi di jalan. selama masih ada celah ya berusaha dimasuki. trotoar, salah satunya. dan, yang lebih hebat lagi, para pengendara wanita tidak kalah hebat.

    hahaha, bener kang. pokoknya kita main selamat aja deh.. thanks udah mampir ya.. serasa jaman dulu sebelum ada FB, hehehe.. 😀

  2. Wah, kalau ngomongin masalah pembalap liar tinggal ngurut dada aja. Asal ngga kena kita aja, biarin dah mereka mau terbang kemana-mana. Ntar kalau kecelakaan baru bilang “SYUKURIN…”, hehehe…

    benar mas dwi, suka menghela nafas dan mengurut dada bila melihat mereka ‘beraksi’ semaunya. kadang kasihan juga kalau sudah kecelakaan, mau diumpat kok tambah kasihan. kita doakan semoga cepat kembali ke jalan yang benar ya, hehehe. makasih komentarnya.

  3. vwheheh.. don-gret jadi motobiker yah sekarang.. 🙂
    saya mbalah don-gret dari motobike ke dengkulbike.. 😀

    emang tuh, banyak pemotor(mBetawi) yang jadi sasaran hujatan dan cacian gara2 ulah mereka.. enggak pemobil, enggak penyepeda, banyak yang menghujat mereka..

    masa-masa jadi sembalap sudah selesai.. menkeu sudah mulai masuk kerja lagi dan belum siap naik omprengan, jadinya kita kembali ke pekerjaan awal: sopir. whahahaha.. 😀
    dengkulbike isdabes.. keep it going brother, suwun!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s