Citizen Journalism: Bolehkah Dipakai Tanpa Ijin?

JAKARTA – Demo sopir taksi di Jakarta kemarin, ternyata membawa sebuah cerita sendiri. Aku dan istri yang kebetulan lewat di jalan tol Dalam Kota, menyaksikan pemukulan sopir taksi oleh sopir taksi. Saat itu aku menduga, mereka melakukan pemukulan karena sopir taksi yang dipukul itu tidak mau ikut berdemo. Aku lantas mengabadikan peristiwa itu dengan kamera HP, yang kemudian aku upload ke laman FB pribadiku beberapa menit kemudian dengan status public.

Tak dinyana, video itu menjadi viral. Terlebih setelah aku post ke beberapa group Whatsapp dan Path, juga ke situs pasangmata milik detikcom.

Namun hingga hari ini, hanya stasiun Antv dan Beritasatu.com yang secara tertulis (via Whatsapp) dan telpon (dari kawanku om Bambang) yang meminta ijin menggunakan video ini untuk siaran berita mereka. Belakangan, info dari teman-teman di whatsapp group serta aku saksikan sendiri, 3 stasiun televisi lain juga ikut menayangkan, baik secara parsial maupun lengkap. 3 stasiun televisi itu adalah TVOne, Metro TV dan Kompas TV, yang hingga blog ini aku tulis, sama sekali tidak ada kontak dari mereka.

Adapun urutan kejadiannya adalah sbb:

1. Kejadian pemukulan terhadap sopir taksi berwarna putih yang dikeroyok oleh sopir-sopir taksi berwarna biru terjadi di jalan tol Dalam Kota sebelum gedung LIPI pada pukul 07.24 WIB. Saya rekam memakai HP dari dalam mobil yang bergerak selama 32 detik.

 


2. Video itu pun kemudian saya unggah ke laman Facebook pribadi saya pada pukul 07.29 WIB, yang hingga saya menulis blog ini sudah dishare 459+ kali dengan 33.194+ views.

3. Video itu pun kemudian saya share ke situs http://pasangmata.detik.com/ milik detikcom dan dimuat pada pukul 07.38 WIB. Pada poin ini, secara sadar saya sudah memberikan hak penggunaan video ini untuk detikcom group, dan mereka pun sudah mencantumkan nama saya sebagai kontributor atas video yang saya unggah ini.

 


4. Berikutnya, saya mengupload video itu di Whatsapp Group yang saya ikuti. Saya share ke beberapa group pada pukul 07.49 WIB.


Dan pada pukul 08.52 WIB, salah seorang kawan meminta ijin memakai video itu untuk Berita Satu dan ANTV. Beliau juga menelpon saya langsung untuk permohonan ijin itu dan saya memberikan ijin pemakaian video tersebut kepada 2 stasiun televisi tersebut.

2016-03-23 16.16.39

 

Namun beberapa saat kemudian, banyak kawan yang mengabarkan bahwa video itu juga ditayangkan di beberapa TV lainnya, yang hingga saat ini tidak melakukan kontak untuk meminta ijin pemakaian video tersebut, seperti Kompas TV, Metro TV dan TVOne.

 

Screenshot MetroTV:

Screenshot KompasTV:

Screenshot TVOne:

 

Adapun Berita Satu sebagai pihak yang meminta ijin, menampilkan nama saya dalam tayangannya:



untuk videonya bisa dilihat di sini:

5. Sementara itu, pada pukul 08.14 WIB, saya juga meng-upload video saya ke Path pribadi saya. Video ini pun banyak yang me-repath, yang sayangnya di Path tidak ada info sudah berapa kali video itu di-repath.


Demikian runtutan peristiwa yang bisa saya telusuri berdasarkan time-stamp digital yang tertera pada file-file di atas.

Paham lah kita bahwa media-media sosial sekarang mempunyai kekuatan dan kecepatan untuk menyebarkan berita sedemikian kilatnya. Konsekuensi logisnya, bila kamu men-share propertimu (baik gambar, suara atau video) dengan status public, masuk lah ia ke ranah domain publik. Orang-orang bebas untuk meneruskannya/sharing. Pertanyaannya adalah, boleh kah dipergunakan untuk kepentingan komersil?

Semoga ini bisa menjadi pelajaran bahwa citizen journalism juga memiliki hak kekayaan intelektual yang tidak bisa begitu saja dipergunakan secara komersil tanpa persetujuan pemiliknya.

Ps: Di youtube, video saya ini juga sudah banyak yang menguploadnya tanpa saya ketahui siapa penggunggahnya. Untuk melihatnya bisa klik salah satu pranala ini:

https://www.youtube.com/watch?v=GFKNTsgR3CE
https://www.youtube.com/watch?v=qsVJGkfeLhM
https://www.youtube.com/watch?v=aJOVaqsz36I
https://www.youtube.com/watch?v=zZymqoivrR8

*kronologi ini ditulis setelah mendengar pendapat dari beberapa teman untuk menjadikan momen ini sebagai bahan pendukung #Diskusi bersama AJI Jakarta “Jurnalis dalam Riuh Media Sosial” di  Gedung Dewan Pers – Jakarta, 23 Maret 2016.

 

3 pemikiran pada “Citizen Journalism: Bolehkah Dipakai Tanpa Ijin?

  1. Akhirnya baca kronologi penyebaran konten mas Oyi yang jadi hits😀 … Semoga #Diskusi bersama AJI Jakarta “Jurnalis dalam Riuh Media Sosial” – Jakarta, 23 Maret 2016 bisa ada kajian dan menghasilkan aturan baru mungkin di dewan pers utk upgrade lagi rules jurnalis khususnya untuk penggunaan source🙂

  2. sebenarnya tak susah bagi stasiun2 TV itu sekedar meminta izin atau menuliskan nama pemilik Source, karena mereka adalah tenaga profesional dan tayanan mereka bersifat komersil. jujur saja saya geram kalau soal “plagiat” atau memanfaat source orang lain. sering liat kasus2 kayak begini, mulai dari foto yang dibajak tanpa izin, bahan tulisan blog yang di cpy paste dan lain sebagainya. menjadi pertanyaan besar saya adalah, bisa kah negara ini meminimalisir plagiat? pencurian hak cipta orang lain? supaya bisa lebih maju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s