Dari Perjalanan ke Pantai Timur dan Barat NAD

Rute Aceh via GarminQueACEH – Usai sudah kunjungan ke empat kabupaten dan kota hari Jumat yang lalu. Tugas dari kantor untuk mentraining, memantau dan mendampingi penggunaan perangkat lunak MobilePAS di empat Kabupaten Kota (Banda Aceh, Kab. Pidie, Kab. Bireuen dan Kab. Aceh Jaya) selesai seperti jadwal yang telah direncanakan.

Minggu pertama kami ke pesisir pantai Timur NAD. Kota pertama adalah ke Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie. Di tempat ini kami menyiapkan 20 komputer untuk keperluan pemasukan data. Satu tim ditinggal di Sigli, kamipun beranjak ke Kabupaten Bireuen. Disini hanya 5 komputer yang diinstal karena kantor Dinas di Bireuen kekurangan tenaga operator entry. Hanya semalam di Bireuen, kami pun kembali lagi ke Sigli.

Indahnya pantai Barat..

NgeBlog lagi..

LHOK SEUMAWE – Hhhh, akhirnya bisa nulis lagi. Hampir sebulan aku meninggalkan blog ini sejak terakhir kali mengisinya setelah kunjungan wisata kuliner ke Semarang. Tidak sepenuhnya ditinggal sih, karena ada beberapa komentar yang masuk ke inbox, aku sempatkan untuk membalasnya via japri. Mohon maklum, pekerjaan menyiapkan Data Pemilih Pilkada Aceh 2006 adalah pekerjaan yang seperti tak ada habisnya. Hampir setiap hari kami harus menghadapi petugas-petugas data entry dari seluruh pelosok propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang kadang melaporkan ada permasalahan ini itu di daerah mereka. Asyik juga sih, bisa berkenalan dengan banyak saudara di Aceh sini, yang berbeda kultur budaya dan bahasa, menjadikan pertemuan itu bisa sangat bermakna.

Saat ini aku sedang berada di sebuah hotel di kota Lhok Seumawe. Sudah 4 hari aku dan tim dari GTZ berada di kota ini untuk membantu pencetakan Data Pemilih Tetap (DPT) di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhok Seumawe. Masih tersisa 3 hari lagi sebelum pulang ke Banda Aceh.

Lanjutkan membaca “NgeBlog lagi..”

Puasa di Serambi Mekkah

BANDA ACEH – Saat ini pukul 03:52 WIB di Banda Aceh. Kami berlima belumlah tidur dari tadi malam karena mengejar dead line pekerjaan. Tempat pilihan untuk sahur pagi ini adalah Rumah Makan Padang “Bunda” di Pertokoan Simpang Lima, nama yang mengingatkanku pada landmark kota Semarang.

Sahur dan berbuka puasa di Banda Aceh tidaklah seramai yang aku kira. Terutama saat berbuka, terasa sepi sekali. Mobil atau motor yang lalu lalang bisa dihitung dengan jari, sungguh berbeda sekali dengan di Jawa. Yang menarik, di kota Banda Aceh ini digunakan sirene yang berbunyi saat imsak atau buka puasa, sehingga kita yang jauh dari masjid pun akan tahu telah tiba waktu imsak atau berbuka.

Update: Kemarin setelah berbuka seadanya di Kantor KIP [Komisi Independen Pemilu] di Jl. Tengku Nyak Arief, sekitar pukul 20 kami keluar mencari kedai kopi di seberang jalan. Ternyata keadaan agak gelap, Pom Bensin yang biasanya terang benderang pun tutup, beberapa warung makan pun terlihat mematikan lampu dan menutup sedikit pintunya. Usut punya usut, ternyata saat itu masih waktunya sholat Tarawih, sehingga semua aktifitas perdagangan harus dihentikan. Setelah pukul 21, barulah keadaan kembali seperti semula. Subhanallah!

Satu hal yang menggodaku, aku belum sempat tarawih di Masjid Raya Baiturrahman, suatu hal yang aku ingin tunaikan sebelum pulang ke Jakarta. Mungkin bila intensitas pekerjaan sudah mulai mereda, aku ingin bisa berbuka dan kemudian tarawih berjamaah disana, insya Alloh.

Update: Keinginan yang terkabul, baca disini.

Still Connected!

LEMBAH SEULAWAH – Alhamdulillah, walaupun baru sampai di Aceh, langsung diminta terjun ke lapangan, tepatnya ke Kantor Kecamatan Lembah Seulawah di Kab. Aceh Besar.

Yang membesarkan hati, di 55 km dari kota Banda Aceh, sinyal GPRS xplorku tetap ada, dan message ini dipost ‘live’ dari Lembah Seulawah, Subhanallah! Nggak pernah membayangkan suatu saat akan ngeblog dari daerah yang dulu menjadi salah satu basis konflik GAM & RI, wirelessly!