Pilihan Sebuah Malam

Nonton pertandingan sepakbola semifinal Liga Champions tadi malam? Seru ya? Terasa ngantuk nggak? Kalau pertandingannya berjalan seru, insyaAllah ngantuk akan segera hilang. Terpikir tidak, mengapa untuk sebuah pertandingan seru itu kita bisa mudah bangun malam?

Jawabnya karena adanya niat, keinginan dan mungkin, kebutuhan.

Lalu, pernahkah kita merasa butuh dan niat untuk sengaja bangun di malam hari, di jam yang sama dengan pertandingan itu semalam? Namun bangunnya bukan untuk menonton pertandingan sepak bola tapi bangun untuk qiyamul lail, melakukan sholat tahajud. Waktunya sama, kira-kira dari pukul 2 sampai 4 subuh, karena itulah sepertiga malam terakhir yang paling dianjurkan Rasulullah SAW untuk sholat tahajud.

Atau setidaknya, di kala kita sudah bangun dan menonton sepakbola dengan sadar tengah malam tadi, saat 15 menit waktu jeda terpikirkah untuk memanfaatkannya mengisinya dengan bertahajud, 4 rakaat saja mungkin? Atau memilih untuk mendengarkan analisa pertandingan dan membuat secangkir kopi lagi?

Manapun yang anda pilih, bila dirimu seorang muslim, sebaiknya tidak menyia-nyiakan waktu. Kalau belum terbiasa bangun malam untuk bertahajud namun tadi malam bisa sengaja bangun untuk menonton sepakbola, itu dapat dijadikan juga sebagai sarana untuk beribadah. Mumpung bisa bangun malam gitu lho, mengapa tidak sekalian ambil wudhu dan sholat [minimal] 2 rakaat saja sebentar? Duniawi dapat, ukhrawi juga insyaAllah dapat. Enak tho? Islam gitu loh!

Ya, hidup memang pilihan dan harus memilih. Mau bangun tengah malam untuk nonton sepakbola atau bertahajud atau dua-duanya sekaligus, itu juga adalah sebuah pilihan. Allah SWT sudah merancang heningnya malam untuk sebuah kenikmatan beribadah yang diawali dengan modal awal yang sama seperti menonton pertandingan Liga Champions semalam: cukup bangun di sepertiga malam terakhir.

‘Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.’ (QS Al-Israa/17:79).

Bisa bangun mudah tadi malam kan? Mari kita lanjutkan niat itu lagi walaupun tak ada siaran langsung malam ini.

Si Udin

Pemuda kelahiran 1977 itu menelponku subuh kemarin. Ia baru saja tiba di terminal bis Pulo Gadung, mengantar seorang khadimah baru pesananku yang dibawanya dari Jepara. Namanya Muhammad Fakhruddin, biasa dipanggil Udin, pemuda desa Tunggul Pandean di Kecamatan Nalumsari Jepara, tempat aku ber-KKN [Kuliah Kerja Nyata] tahun 1994. Di desanya itulah kami berkenalan dan bersahabat selama 3 bulan lamanya.

Udin adalah pemuda yang lumpuh kakinya sejak kecil karena polio. Hanya kaki kanannya saja yang menopang tubuhnya, dibantu ‘kruk’ yang setia menemaninya kemana pun ia pergi bahkan sampai Jakarta ini. Kaki kirinya tidak bisa berfungsi sama sekali karena ukurannya yang lebih kecil dari kaki sebelahnya.

Mari lanjut dimari..

Ana Uhibbuki Fillah

Aku mencintaimu karena Allah. Pertama kali mendengar istriku mengucapkan kalimat itu, ada yang aneh kedengarannya. Seperti bukan sebuah kalimat percintaan atau ungkapan kemesraan. Aku berusaha menolak maknanya karena bagaimana bisa dirinya mencintaiku karena Allah? Itulah dhoifnya seorang manusia. Sudah lemah, sombong pula. Mau jadi apa nanti, naudzubillah.

Mari lanjut membaca disini…

Najah, si Imam

Bermula dari penjelasan singkatku kepada dua gadis kecilku di rumah, bahwa keutamaan sholat berjamaah di masjid atau musholla adalah wajib hukumnya bagi abi sebagai seorang laki-laki, apalagi tempat tinggal kami yang hanya sepelemparan batu jauhnya dari musholla. Saat mereka menanyakan kewajiban itu bagi mereka di rumah, aku pun mengiyakan, bahwa sebaiknya mereka sholat berjamaah juga di rumah.

Awal mula mereka enggan sholat berjamaah, baik berdua atau bertiga bersama uminya. Kadang-kadang uminya juga sih, sering mendahulukan mandi sepulangnya dari kantor sehingga anak-anak malas menunggu dan akhirnya mereka pun sholat sendiri-sendiri. Tapi perlahan-lahan dengan metode ‘pegang telinga‘ -seolah-olah menjewer namun hanya memegangnya saja- mereka pun sadar diri menyerahkan ‘kupingnya’ untuk ‘dijewer’ bila tidak sholat berjamaah. Alhamdulillah mereka kini sering sholat berjamaah di rumah.

Anak kecil menjadi imam, bolehkah?

Keutamaan Sayyidul Ayyam

“Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya orang-orang mengetahui (keutamaan) mengumandangkan azan dan shaf yang pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali harus dengan mengundi, niscaya mereka akan melakukan undian (untuk mendapatkannya).” (HR. Bukhari)

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa saat jaman kenabian Rasulullah SAW pun banyak kaum muslimin yang masih enggan mencari shaf terdepan dalam sholat berjamaah. Apalagi sekarang, yang masjidnya besar-besar, indah-indah namun jamaah sholatnya hanya ramai saat sholat Jum’at, banyak yang lebih memilih tempat di belakang atau sengaja mencari pilar atau dinding untuk bersandar, dan tertidur. Betapa sayangnya..

Padahal kalau diperhatikan, shaf terdepan saat sholat Jum’at itu terkadang masih lega dan bisa disisipi satu dua atau tiga orang lagi. Ini juga acap kali terjadi karena sifat jamaah kita yang masih enggan merapatkan barisan dalam shaf. Saat khatib naik mimbar misalnya, atau saat orang-orang mulai berdiri hendak menunaikan sholat sunnah [bila masjid itu mengumandangkan dua azan], itu adalah saat-saat krusial bagi kita yang telat datang untuk menyeruak mencari shaf yang terdepan.

“Sebaik-baik shaf (barisan) laki-laki itu di bagian depan, dan seburuk-buruknya di bagian belakang. Dan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah di bagian belakang dan seburuk-buruknya di bagian depan.” (HR Muslim)

Apa mungkin masih banyak yang enggan mencari keutamaan-keutamaan dalam beribadah kali ya, sehingga kata ‘sebaik-baiknya’ pada hadits diatas tak berarti apa-apa. Mereka menunaikan sholat untuk sekedar menggugurkan kewajiban. Datang ke masjid pun sekali sepekan, itu pun saat iqomah sudah dikumandangkan pula, betapa meruginya.

Padahal bila kita meniatkan diri untuk mandi besar, menggunting kuku serta segala bulu dan rambut yang tidak perlu, hadir sebelum azan sholat Jumat berkumandang untuk mencari shaf terdepan, memakai busana yang terbaik, membubuhi wewangian secukupnya dan berdoa diantara dua khutbah, bukan kah akan dihapus segala dosa kita dari Jumat ini dan Jumat sebelumnya? Betapa nikmatnya, betapa murahnya rahman dan rahim Allah SWT.

Namun sayang, begitu banyak keutamaan sholat Jum’at yang masih disia-siakan oleh kaum muslimin hanya karena alasan duniawi. Padahal Allah SWT sudah mengingatkan “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Memang, Allah SWT banyak menyebutkan dalam firmanNya kalimat ‘jika kamu mengetahui’ atau ‘jika kamu berfikir‘. Kalimat itu menunjukkan sudah merupakan kewajiban kita untuk selalu mencari ilmu agar selamat dunia akhirat. Tanpa ilmu, kita tak bisa meraih dunia. Tanpa ilmu, kita pun tak bisa menggapai akhirat.

Selamat hari Jumat, penghulunya hari dalam sepekan. Mari meraih segala keutamaan di hari ini. Labbaik Allahumma labbaik.

Macan Mimbar dari Thawalib

Judul diatas merupakan judul artikel di Majalah Gatra di rubrik Ragam pada tanggal 4 November 1995.

Masih merupakan kelanjutan dari kisah ‘pertemuan’ kami dengan almarhum Allahuyarham KH Abdul Gaffar Ismail di radio Islam Sabili 1530AM setiap paginya, seorang sahabat lama bernama Rianda teringat pernah membaca artikel tentang ayahanda Taufiq Ismail ini. Rianda membaca statusku di Facebook mengenai zikir yang diajarkan KH Abdul Gaffar Ismail dan sepulangnya ia dari kantor, ia pun mencari majalah itu di gudang rumahnya.

Subhanallah, majalah 15 tahun yang lalu itu pun ditemukannya dan keesokan harinya ia pun memindai/scan majalah itu dan mengirimkannya kepadaku. Alhamdulillah, dari artikel yang dikirimnya itu kami pun akhirnya bisa mengetahui sepak terjang pak kyai baik di dunia dakwah maupun saat jaman perang kemerdekaan dahulu. Jazakallahu khairan ya Rianda, semoga Allah SWT membalas budi baik antum, amin.
Untuk mendownload PDF dan kelanjutan cerita ini, klik disini..

Pemilik Suara di Pagi Hari

Suara itu begitu lantang. Sudah menjadi kebiasaan kami berdua mendengar suara yang dilantunkan dari radio Sabili AM 1530 sejak pukul 06.30 sampai selesai, yang menemani menyusuri padatnya jalan dari Jatibening menuju Thamrin di pagi hari. Pengajian yang diisi oleh seorang yang sepertinya sudah tua namun sangat vokal suaranya. Isi dakwahnya cukup konsisten, bicara sekitar ketauhidan Allah SWT. Meskipun terkadang radio itu memutar ulang dakwahnya di lain hari, tetap saja pengajian itu menarik kami untuk selalu mendengarkannya.

Dari isi dakwahnya yang kadang menyebut seorang nama menteri di jaman Orde Baru atau menyinggung kehebatan seorang petinju Tyson, membuatku menerka-nerka bahwa khutbah ini pasti sudah lama direkam, paling tidak sekitar tahun delapan puluhan. Namun isi materi dakwah beliau, tetap up-to-date. Hebat sekali, bagaimana sebuah dakwah tidak lekang dimakan usia. Itulah sebabnya, kami pun menjadi penggemar beliau di pagi hari: sepasang penggemar baru yang sudah telat puluhan tahun mendengarkan khutbahnya 😀

Kenali pemilik suara ini disini yuk..

Hijrah itu Perubahan

Diberikannya nama ‘hijrah‘ untuk menyambut sebuah tahun yang baru tentu ada maksudnya. Bergantinya tahun yang lama dengan angka yang baru tak ubahnya waktu yang biasa berlalu bila kita tidak mempunyai niat untuk ‘pindah‘ menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Tak perlu pakai perayaan yang menghabiskan uang jutaan atau berjaga menunggu dan menghitung detik-detik pergantian tahun, sungguh, itu tak ada manfaatnya. Justru tenggelam dalam muhasabah diri untuk menilai perjalanan hidup dan ibadah kita setahun yang lalu dan menjadikannya sebagai bekal serta pengalaman guna menggapai ketakwaan yang lebih tinggi di tahun yang mendatang, tentu akan lebih bermakna.

Menetapkan target apa-apa saja yang hendak diraih serta bertekad mulai meninggalkan semua yang dilarangNya, sebuah tahun yang baru dapat kita jadikan sebagai awal pijakan kaki untuk pindah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat, lebih mengenal dan lebih intim dengan sang Rabb.

Itulah makna hijrah yang sesungguhnya. Sebagaimana hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya menuju penghidupan yang baru dan lebih baik, kita pun dapat mengambil momentum ini untuk berubah. Bila kita mau, kita bisa. InsyaAllah.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431H. Selamat datang perubahan.

Bicara Korupsi

Ribut-ribut besok mau tanggal 9 Desember ada hari Anti Korupsi Sedunia katanya. Yang menentang korupsi mau demo, yang korupsi mungkin pada sembunyi. Atau mungkin ikutan demo seolah-olah gak pernah mengkorup apapun, biar disangka tidak korupsi. ngKali lhoo..

Padahal, kita ini semua bisa jadi ahli korupsi. Gak usah jauh-jauh deh mikirin apa yang dikorupsi para pejabat negara. Diri kita sendiri bagaimana, apakah sudah menjadi teladan yang baik?

Tidak sering menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi misalnya. Bagi yang diberikan fasilitas memadai, misalnya telepon di meja kerja, foto copy, kendaraan dinas dan lainnya, mungkin sering tidak sadar bila memakai semua fasilitas itu untuk kebutuhan pribadi. Ya nelpon anak, istri, suami atau siapa lah, memfoto copy tugas anaknya sampai memakai mobil untuk mudik tanpa ijin. Bila sesekali mungkin masih bisa ditolerir, tapi bila sudah menjadi kebiasaan, bagaimana? Padahal gajinya besar, tunjangannya pun gede. Masa’ sih cuma ngecek anak di rumah pakai telepon kantor? Lha itu HP mahal-mahal untuk apa dianggurin?

Fasilitas internet juga demikian. Diberi notebook dan bandwith yang menggiurkan, isinya penuh dengan download-an file-file urusan pribadi. Lebih mengerikan lagi bila menjadi bandwith killer. Sebentar-sebentar download movie atau mp3. Kawan yang lain, yang membutuhkan jaringan untuk pekerjaan, menjadi terganggu. Ini apa namanya kalau bukan korupsi bandwith?

Atau aktif ber-facebook ria di saat jam kantor. Masa baru datang buka notebook/komputer langsung menuju serambinya facebook sih? Ini kan korupsi waktu namanya. Belum lagi kalau ada yang ngajakin chatting. Dijamin konsentrasi pekerjaan jadi buyar. <- sst, pengalaman pribadi ya mas? wkwkwkwkwk..

Dalam urusan agama pun sering terjadi. Yang paling parah mengkorupsi waktu sholat. Sudah jelas perintah sholat itu ada waktu yang disyariatkan, ini malah dikorupsi. Parah lagi, mengkorupsi waktu sholat Dzuhur di dekat waktu Ashar. Tapi kalau ditanya mengapa, jawabnya banyak kerjaan, gak sempat sholat. Kerjaan apa, ya browsing-browsing itu tadi palingan. ‘Duh..

Membaca Al-Qur’an pun bisa dikorup. Huruf yang seharusnya berharokat 5 atau 6, main tabrak saja jadi 2 karena gak sabar untuk mengikuti kaidah yang berlaku. Kalau ditanya alasannya, jawabnya ia memilih metode baca cepat yaitu ambil yang berharokat 2 semua agar cepat khatam bacaannya. Ini kan aneh, tidak mencari keutamaan malah terjebak dalam menyiasati sebuah kaidah hukum. Bisa jadi, ini korupsi juga namanya, korupsi harokat, hehehehe..

Begitulah, kalau dilihat-lihat, aku pun sering melakukan apa yang aku tulis diatas. Kaya nulis tulisan ini, kok diwaktu kerja? Wah, bukannya itu parah, sudah tau itu korupsi kok terus dilakukan saja? Nah itulah, mumpung lagi rame ngomongin kasus korupsi yang gak kelar-kelar, aku mau mengajak yang membaca tulisan ini untuk memperbaiki diri kita sendiri dulu. Jangan kita tunjuk orang lain namun tiga jari menunjuk diri kita sendiri. Kita teriak melawan korupsi namun diri kita sendiri tanpa sadar telah asyik bermain dengan korupsi, walaupun mungkin masih dalam taraf merugikan diri sendiri, belum merugikan orang lain.

Setuju gak nih?

Baju Batik dan Himbauannya

JAKARTA – Sudah sejak pertengahan bulan lalu aku menerima email yang mengharapkan para pegawai kantor mengenakan batik pada hari Jum’at 2 Oktober 2009. Ini berhubungan dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO/United Nations Educational Scientific and Cultural Organization pada tanggal tersebut. Entah siapa yang memulainya, email ini saling berantai kesana kemari, dari mailing list, forum sampai facebook.

Ya memang, namanya saja himbauan, boleh diikuti atau tidak tanpa ada hukumnya. Aku pribadi memilih tidak mengenakan batik esok hari, apalagi besok hari Jum’at. Bukan karena aku gak senang batik diresmikan sebagai warisan budaya kita, tapi aku lebih memilih sunnah Rasulullah untuk mengenakan baju berwarna putih untuk beribadah.

Rasulullah SAW bersabda ‘Kenakanlah pakaian putih karena lebih suci dan lebih indah, dan kafanilah mayat-mayat kalian dengan kain putih‘ [dari HR. Ahmad dan selainnya dengan sanadnya yang shahih] memperkuat keyakinanku bahwa beribadah dengan pakaian yang putih dan suci lebih disukai Allah SWT dan RasulNya.

Aku berpikir, mengenakan pakaian bercorak saat sholat berjamaah mengandung resiko mengurangi kekhusyu’an sholat, baik bagi diri kita apalagi jamaah di belakang kita. Bukan tidak mungkin mereka lebih asyik mengamati ornamen batik atau corak gambar kain yang kita kenakan dibanding khusyu’ dalam sholatnya, kan? Kalau itu dicatat sebagai pengurang amal kita atau bahkan sebagai dosa yang kita perbuat, siapa yang mau menanggungnya? Hmm..

Namun aku tidak akan melarang apalagi mencela para muslimin yang mengenakan baju batik saat sholat berjamaah/Jum’atan. Apalah diri ini ya tho? Tapi coba dipikir, kalau kaum muslimah saja mukenahnya tidak ada yang bercorak, mengapa kita kaum muslimin memakainya saat sholat? Toh kita punya baju taqwa, atau sering juga disebut baju koko, itu kan cenderung polos dan tak bercorak. Mengapa tidak dibudayakan saja memakai baju taqwa itu di hari Jum’at? Ini malah menggunakan batik. Cari hari lain saja lah untuk berbatik ria, asalkan bukan hari Jum’at.

Ayo, dahulukan sunnahNya dan rasulNya, insyaAllah lebih barokah. Setuju?