SHALAT ARBA’IN

Kiriman Sigit Budi | cahaya_sunnah@yahoo.com

http://www.almanhaj.or.id/content/2289/slash/0

Semua jama’ah haji Indonesia tentu mengenal shalat Arba’in. Dan
kebanyakannya mungkin pernah menunaikannya. Bahkan demi mendapatkan shalat
ini secara berjama’ah mereka rela terbangun malam, tergopoh-gopoh dan
berebut mendatangi masjid Nabawi. Sebabnya, menurut persangkaan mereka bahwa
hadits yang menjadi dasar amalan tersebut shahih. Bagaimana tidak, hadits
tersebut termuat dalam beberapa kitab dan megnisyaratkan (bahkan
sebagiannya) keshahihannya. Misalnya dalan kitab Fiqih Islami wa Adilatuha
karya Dr Wahbah Zahaili, Jilid 3 hal. 334, setelah mencantumkannya dia
berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Ausath dari Anas bin Malik,
tidak ada yang meriwayatkan dari Anas bin Malik selain Nubaith dan tidak ada
yang meriwayatkan darinya kecuali Ibnu Abi Ar-Rijal”. Kemudian dalam kitab
Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabid Aljazairi hal. 336 dan juga
kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq 2/320 cet Darul Fath Lii’lamil Arabi
dengan berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan sanad shahih!”

Untuk mengetahui permasalahan sebenarnya berikut ulasannya.

Dari Anas bin Malik, berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Artinya : Barangsiapa melakukan shalat empat puluh shalat di masjidku ini,
tidak ketinggalan satu shalatpun maka akan ditulis baginya ; terbebas dari
siksa api neraka, tidak diadzab dan terlepas dari kenifakan”.

Derajat hadits “Mungkar”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 3/155, Thabrani dalam Mu’jam
Al-Ausath 5576 dari jalan Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal dari Nubaith bin Umar
dari Anas bin Malik secara marfu’. Thabrani berkata : “Tidak ada yang
meriwayatkan dari Anas kecuali Nubaith dan Abdurrahman bin Abi Ar-Rijal
bersendiri dalam meriwayatkan dari Nubaith.

Sanad hadits ini dha’if, Nubaith ini tidak dikenal kecuali pada hadits ini
saja [2]. Tetapi Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam kitabnya Ats-Tsiqoot
5/483 sesuai dengan kaidahnya, mentautsiq orang-orang yang majhul. Inilah
sandaran Al-Haitsami dalam ucapannya di Majma Zawa’id 4/8m, “Diriwayatkan
oleh Ahmad dan Thabrani dalam Al-Ausath dan para perawinya tsiqot
(terpercaya)[3].

Dalam As-Shahihah 2652 Al-Albani berkata :

“Nubaith ini majhul, hadits dengan redaksi ini mungkar [4] sebab Nubaith
bersendiri dengan redaksi ini dan menyelisihi para perawi lain yang
meriwayatkan dari Anas juga dan ini nampak jelas. Adapun perkataan
Al-Mundziri dalam At-Targhib 2/136, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan para
perawinya adalah perawi kitab Shahih (Bukhari dan Muslim, -pent),
diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Ausath”, adalah kesalahan yang
jelas, sebab Nubaith ini tidak termasuk perawi shahih bahkan tidak pula
termasuk perawi Kitabus Sittah selain Bukhari dan Muslim.

Dalil lain yang melemahkan hadits ini pula adalah hadits yang diriwayatkan
dari Anas secara marfu dan mauquf dari dua jalan yang saling menguatkan.
Redaksi haditsnya.

“Artinya : Dari Anas bin Malik, berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari
secara berjama’ah, dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram),
maka terlepas dari dua hal ; terlepas dari kenifakan dan neraka”

Dikeluarkan oleh Tirmidzi 241. Kemudian aku temukan jalur ketiga secara
marfu yang dikeluarkan oleh Bahsyal dalam kitab Tarikh Wasith hal. 36.
Dikuatkan oleh hadits Umar bin Khaththab secara marfu yang dikeluarkan oleh
Ibnu Majah 1/266 dengan sanad dha’if, terputus. Hadits-hadits ini redaksinya
sangat berbeda dengan hadits di muka. Hadits ini lebih kuat, lantaran itu
hadits pertama semakin pasti kedha’ifan dan kemungkarannya. Orang-orang yang
menguatkannya sungguh menyelisihi kebenaran dan bisa juga menyelisihi
keadilan.

Dalam Silsilah Shahihah no. 2652, setelah memaparkan semua jalur hadits
terakhir ini Al-Albani berkata : “Kesimpulannya, hadits dengan empat jalur
dari Anas ini adalah minimal hasan, dan dengan jalur yang lainnya mungkin
saja bertambah kuat dan tidak terpengaruh terhadap kedha’ifannya, Allahu
Ta’ala A’lam”.

Dalam kitab Manasik Haji wal Umrah, beliau (Al-Albani) membuat bab :
Bid’ah-bid’ah Ziarah di Madinah Al-Munawarah. Lalu pada hal.63 beliau
berkata, “Menetapnya para penziarah di Madinah selama seminggu sehingga
dapat melaksanakan empat puluh shalat di Masjid Nabawi dengan tujuan
berlepas dari kenifakan dan dari neraka”. Kemudian memberi catatan kaki,
“Hadits yang berkaitan dengan hal itu tidak shahih dan tidak dapat dijadikan
hujjah. Aku telah jelaskan cacatnya pada Silsilah Dha’ifah no. 364. Maka
tidak boleh beramal dengannya sebab bila mengamalkan berarti membuat
syari’at (bid’ah,-pent). Terlebih lagi sebagian jama’ah haji merasa berdosa
karenanya sebagaimana aku ketahui sendiri, karena menyangka bahwa haditsnya
shahih. Dan terkadang karena sebagian shalat terlewatkan, mereka merasa
berdosa.

Sebagian ulama berpendapat hadits tersebut terangkat derajatnya (shahih),
karena bersandar kepada pentautsiqan Ibnu Hibban terhadap salah satu rawi
yang majhul. Para ulama jarh wa ta’dil tidak menganggap tautsiq ini,
termasuk ulama itu sendiri yang aku isyaratkan tadi. Sebagaimana dia katakan
terang-terangan dalam bantahannya kepada Al-Ghumari dalam majalah Al-Jami’ah
As-Salafiyah yang terbit di India”.