SEPULUH FAEDAH TENTANG HAJI

Kiriman sigit budi | cahaya_sunnah@yahoo.com

HAJI MABRUR
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘ahu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Umroh ke umroh berikutnya merupakan pelebur
dosa antara keduanya, dan tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga”
[HR Bukhari : 1683, Muslim : 1349]

Haji Mabrur memiliki beberapa kriteria.

Pertama : Ikhlas. Seorang hanya mengharap pahala Allah, bukan untuk pamer,
kebanggaan, atau agar dipanggil “pak haji” atau “bu haji” oleh masyarakat.

“Artinya : Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan
penuh keikhlasan” [Al-Bayyinnah : 5]

Kedua : Ittiba’ kepda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berhaji sesuai
dengan tata cara haji yang dipraktekkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan menjauhi pekara-perkara bid’ah dalam haji. Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Contohlah cara manasik hajiku” [HR Muslim : 1297]

Ketiga : Harta untuk berangkat haji adalah harta yang halal. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang
baik” [HR Muslim : 1015]

Keempat : Menjauhi segala kemaksiatan, kebid’ahan dan penyimpangan

“Artinya : Barangsiapa menetapkan niatnya untuk haji di bulan itu maka tidak
boleh rafats (berkata-kata tidak senonoh), berbuat fasik, dan
berbantah-bantahan pada masa haji..”[Al-Baqarah : 197]

Kelima : Berakhlak baik antar sesama, tawadhu’ dalam bergaul, dan suka
membantu kebutuhan saudara lainnya.

Alangkah bagusnya ucapan Ibnul Abdil Barr rahimahullah dalam At-Tamhid
(22/39) : “Adapun haji mabrur, yaitu haji yang tiada riya dan sum’ah di
dalamnya, tiada kefasikan, dan dari harta yang halal” [Latho’iful Ma’arif
Ibnu Rajab hal. 410-419, Masa’il Yaktsuru Su’al Anha Abdullah bin Sholih
Al-Fauzan : 12-13]

HAJI AKBAR
Pendapat yang populer dalam madzhab Syafi’i, hari “Haji Akbar” adalah hari
Arafah (9 Dzul-Hijjah). Namun pendapat yang benar bahwa hari haji akbar
adalah pada hari Nahr (penyembelihan kurban, yakni 10 Dzul-Hijjah],
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan rosul-Nya kepada
umat manusia pada hari haji akbar…” [At-Taubah : 3]

Dalam shahih Bukhari 8/240 dan shahih Muslim : 1347 disebutkan bahwa Abu
Bakar dan Ali Radhiyallahu ‘anhuma mengumumkan hal itu pada hari nahr, bukan
pada hari Arafah.

Dalam sunan Abu Dawud 1945 dengan sanad yang sangat shohih, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

“Artinya : Hari haji akbar adalah hari nahr (menyembelih kurban)”

Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Hurairah dan sejumlah shahabat
radhiyallahu ‘anhum [Lihat Zadul Ma’ad Ibnul Qayyim 1/55-56]

GANTI NAMA USAI HAJI
Soal : Apakah hukumnya mengganti nama setelah pulang haji, seperti yang
banyak dilakukan mayoritas jama’ah haji Indonesia, di mana mereka mengganti
nama di Makkah atau Madinah, apakah ini termasuk sunnah ataukah tidak?

Jawab : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti nama-nama yang
buruk dengan nama-nama yang bagus. Maka apabila jama’ah haji Indonesia
tersebut mengganti nama mereka lantaran tersebut, bukan disebabkan usai
melakukan ibadah haji atau karena berziarah ke Masjid Nabawi, maka hukumnya
boleh. Namun apabila jama’ah haji Indonesia mengganti nama mereka lantaran
alasan pernah di Makkah/Madinah atau usai melakukan ibadah haji, maka hal
itu termasuk perkara bid’ah, bukan sunnah. [Fatawa Lajnah Daimah 2/514-515]

AIR ZAM-ZAM
Al-Humaidi rahimahullah berkata : Saya pernah berada di sisi Sufyan bin
Uyainah rahimahullah, lalu beliau menyampaikan kepada kami hadits.

“Artinya : Air zam-zam tergantung keinginan seorang yang meminumnya”

Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi
seraya mengatakan : “Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau
ceritakan kepada kami tadi tentang zam-zam adalah hadits yang shahih?” Jawab
beliau : “Benar”, Lelaki itu lalu berkata : “Baru saja aku meminum seember
air zam-zam dengan harapan engkau akan menyampaikan kepadaku seratus
hadits”. Akhirnya Sufyan rahimahullah berkata kepadanya : “Duduklah!”,
Lelaki itupun duduk, dan Sufyan rahimahullah menyampaikan seratus hadits
kepadanya. [Al-Mujalasah Abu Bakar Ad-Dinawari 2/343, Juz Ma’a Zam-Zam Ibnu
Hajar hal. 271]

Semoga Allah merahmati Imam Sufyan bin Uyainah, alangkah semangatnya dalam
menebarkan ilmu! Dan semoga Allah merahmati orang yang bertanya tersebut,
alangkah semangatnya dalam menuntut ilmu dan sindiran lembut untuk
mendapatkannya! [Fadhlu Ma’a Zam-Zam Sayyid Bakdasy hal. 137]

ASAL HAJAR ASWAD
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata : Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Hajar aswad (ketika) turun dari surga lebih
putih dari pada salju, lalu dosa-dosa anak Adam membuatnya hitam” [Shahih HR
Tirmidzi : 877, Ibnu Khuzaimah : 1/271, Ath-Thabrani dalam Mu’jam Kabir
3/155, Ahmad 1/307, 329, 373. Lihat Silsilah Ash-Shahihah Al-Albani : 2618]

Kita beriman dengan hadits ini secara tekstual dan pasrah sepenuhnya,
sekalipun orang-orang ahli filsafat mengingkarinya. [Lihat Ta’wil Mukhtalif
Hadits Ibnu Qutaibah hal.542]

Sulaiman bin Khalil rahimahullah (imam dan khatib Masjidil Haram dahulu)
menceritakan bahwa dirinya melihat tiga bintik berwarna putih jernih pada
Hajar Aswad, lalu katanya : “Saya perhatikan bintik-bintik tadi, ternyata
setiap hari berkurang warnanya” [Al-Aqdu Tsamin Al-Fasi Al-Makki 1/68, Asror
wa Fadha’il Hajar Aswad Majdi Futhi Sayyid hal. 22]

Sungguh dalam hal itu terdapat pelajaran berharga bagi orang yang berakal,
sebab jika demikian jadinya bekas dosa pada batu yang keras, maka bagaimana
kiranya pada hati manusia?! [Fathul Bari Ibnu Hajar 3/463]

JEDDAH TERMASUK MIQOT?
Ada sebagian kalangan yang mencuatkan pendapat bahwa kota Jeddah boleh
dijadikan sebagai salah satu miqot untuk jama’ah haji yang datang lewat
pesawat udara atau kapal laut. Namun pendapat ini disanggah secara keras
oleh Ha’iah Kibar Ulama dalam keputusan rapat mereka no. 5730, tanggal
21/10/1399 sebagai berikut.

Pertama : Fatwa tentang bolehnya menjadikan Jeddah sebagai miqot bagi
jama’ah haji yang datang dengan pesawat udara dan kapal laut merupakan fatwa
yang batil, karena tidak bersandar pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya
serta ijma’ salafush shalih. Tidak ada satupun ulama kaum muslimin
sebelumnya yang mendahului pendapat ini.

Kedua : Tidak boleh bagi jama’ah haji yang melewati miqot, baik lewat udara
maupun laut (miqot Indonesia adalah Yalamlam, pent) untuk melampauinya tanpa
ihram sebagaimana ditegaskan dalam banyak dalil dan dilandaskan oleh para
ulama” [Fiqh Nawazil Al-Jizani 2/317, Tisir Alam Al-Bassam 1/572-573]

NAMA MIQOT MADINAH
Miqot penduduk Madinah atau jama’ah haji yang lewat Madinah adalah
Dzul-Hulaifah [1] sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Adapun
penamannya dengan “Bir Ali” sebagaimana yang populer di masyarakat maka
hendaknya diganti. Sebab sebagaimana lafazh yang tertera dalam hadits itu
lebih utama, apalagi kalau kita telusuri ternyata sumber penamaan Bir Ali
(sumur Ali) adalah cerita yang laris manis di kalangan Rafidhah (Syi’ah)
bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah bertarung dengan jin di
sumur tersebut, shingga karena itulah disebut Bir Ali.

Para ulama ahli hadits telah bersepakat menegaskan batilnya cerita tersebut,
seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah
8/161, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah 2/344, Ibnu Hajar dalam
Al-Ishobah 1/498, Mula Ali Al-Qari dalam Al-Maslak Al-Mutaqossith hal. 79,
dan lainnya. [Qashashun La Tatsbutu Masyhur Hasan Salman 7/95-119]

DZIKIR KETIKA THAWAF
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Disunnahkan ketika
thawaf untuk berdzikir dan berdo’a dengan do’a-do’a yang disyariatkan. Kalau
mau membaca Al-Qur’an dengan lirih maka hal itu boleh. Dan tidak ada do’a
tertentu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dari perintahnya,
ucapannya, maupun pengajarannya, bahkan boleh berdo’a dengan umumnya
do’a-do’a yang disyari’atkan. Adapun yang disebutkan kebanyakan manusia
tentng do’a khusus di bawah mizab (talang Ka’bah) dan selainnya [2] semua
itu tidak ada asalnya” [Majmu Fatawa 26/122]

PROBLEM ORANG YANG BOTAK
Telah dimaklumi, dalam haji ada syarat cukur/memendekkan rambut. Namun
bagaimana dengan seorang yang botak dan tidak memiliki rambut untuk dicukur?
Sebagian fuqaha mengatakan. Hendaknya dia tetap melewatkan alat cukur di
kepalanya. Namun pendapat yang benar ialah hal ini dibenci, syari’at bersih
darinya, (perbuatan itu) sia-sia dan tiada faedahnya, sebab melewatkan alat
cukur hanyalah sekedar sebagai wasilah (perantara) saja bukan tujuan utama.
Kalau tujuan utamanya gugur, maka wasilah tidak bermakna lagi. Persis dengan
masalah ini adalah seorang yang lahir sedangkan dzakarnya sudah terkhitan,
perlukah dikhitan lagi? Ataukah melewatkan pisau padanya? Pendapat yang
benar adalah tidak perlu. [Lihat Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud Ibnul
Qayyim hal. 330]

TITIP SALAM UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Budaya titip atau kirim salam untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada para jama’ah haji merupakan budaya yang perlu ditinggalkan dan
diingatkan, sebab hal itu tidak boleh dan termasuk kategori perkara baru
dalam agama. Alhamdulillah, termasuk keluasan rahmat Allah kepada kita, Dia
menjadikan salam kita untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada
beliau di manapun kita berada, baik di ujung timur maupun barat. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jangalah kalian jadikan kuburku sebagai perayaan, dan (jangan
jadikan) rumah-rumah kalian sebagai kuburan, bershalawtlah kepadaku karena
sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada”.