Merekonstruksi Sejarah untuk Peradaban Masa Depan

Pengirim: Budi <budiharis@hotmail.com>

Buku HT March 3rd, 2007

(Telaah Kitab Kayfa Hudimat al-Khilâfah karya ‘Abdul Qadim Zallum)
Oleh: Fathiy Syamsuddin Ramadlan al-Nawiy

Pengantar
Melalui buku ini, Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh ingin mengingatkan kita, agar pembacaan kita terhadap sejarah tidak sekadar dari sisi târîkhi belaka (historis naratif-diskriptif), tetapi secara komprehensif; baik dari sisi hukum, ekonomi, demografis, geografis, dan politik. Selanjutnya, sejarah harus direkonstruksi sedemikian rupa hingga kita bisa membangun peradaban masa depan sesuai dengan sejarah-sejarah terpilih (sejarah keemasan), bukan dari sejarah yang menyimpang, suram, dan kelam.¼br />

Sayang, banyak peristiwa sejarah Islam ditulis hanya menonjolkan konteks historisnya belaka. Akibatnya, peristiwa sejarah tidak ubahnya dongeng menjelang tidur yang hanya berfungsi sebagai pengantar tidur dan meninabobokan siapa saja yang mendengarnya.

Jika pembacaan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah masih seperti ini, umat akan terpisah dari sejarah itu sendiri; umat tidak pernah mampu memahami dengan cermat peristiwa-peristiwa politik yang melatarbelakanginya dan hal-hal penting apa saja yang bisa direkonstruksi untuk kepentingan masa depan. Lambat-laun umat akan kehilangan kepekaan dan kesadarannya terhadap bahaya-bahaya yang tersembunyi di balik peristiwa sejarah.

Misalnya, ketika Musthafa Kemal mendirikan Turki Muda, Khilafah tidak menyadari bahaya di balik pendirian partai sekular ini. Sebab, Khalifah tidak lagi bisa dan biasa membaca peristiwa sejarah dengan pembacaan yang komprehensif. Khalifah tidak mampu mengaitkan dan mengurai keseluruhan peristiwa sejarah yang bersinggungan dengan kemunculan partai ini. Begitu pula ketika kaum misionaris mendirikan gerakan-gerakan misionaris di Beirut dan mengkonsentrasikan dirinya untuk menyebarkan paham nasionalisme.

Lagi-lagi, sang Khalifah tidak bisa bertindak dengan tepat dan akurat. Ketika negara-negara besar mulai menekan Khilafah Islamiyah untuk melakukan pembaruan-pembaruan di segala bidang dengan acuan hukum positif Barat, lagi-lagi Khalifah tidak bisa membaca peristiwa ini dengan benar. Begitu pula ketika dunia diseret oleh Perang Dunia. Khalifah tidak bisa bersikap dan bertindak dengan akurat. Akibatnya sungguh memiriskan hati dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Khilafah akhirnya diruntuhkan oleh Musthafa Kemal yang didukung sepenuhnya oleh Inggris. Gerakan-gerakan yang dulunya “dianggap bukan ancaman” oleh Pemerintahan Islam justru menikam dari belakang dan meruntuhkan Daulah Khilafah.

Ironisnya, ketika bencana terbesar ini menimpa kaum Muslim, sebagian besar kaum Muslim masih saja belum sadar. Kebanyakan mereka telah buta dengan syariah Islam dan sistem pemerintahannya. Akhirnya, mereka hanya berpangku tangan ketika agama dan umatnya mengalami kejatuhan. Sedihnya lagi, penguasa-penguasa boneka yang dibentuk untuk mencabik-cabik kesatuan Khilafah Islamiyah justru mereka anggap sebagai pahlawan pembebasan dari penindasan “bangsa Turki” (Khilafah Islamiyah). Padahal penguasa-penguasa itu adalah segerombolan penjahat yang bersekongkol dengan negara kafir dalam sebuah kejahatan yang paling keji.

Urgensi Buku Ini
Sejak dulu, umat Islam telah membaca sederet buku sejarah, misalnya, Târîkh al-Khulafâ’ karya as-Suyuthi, Târîkh ath-Thabari, Sirâh Ibnu Hisyâm, dan lain sebagainya. Sayang, umat Islam membaca kitab-kitab ini dengan pembacaan historis belaka. Mereka bisa menghapal dan menyebut Kekhilafahan Islam beserta para khalifahnya. Namun, mereka tidak memiliki kesadaran untuk merekonstruksinya demi kepentingan masa depan. Mereka belum tergerak untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Padahal mereka telah membaca buku sejarah Kekhilafahan Islam.

Atas dasar itu, buku Kayfa Hudimat al-Khilâfah diketengahkan untuk memberikan kesadaran kepada kaum Muslim, bahwa kehancuran Khilafah Islamiyah bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah belaka. Akan tetapi, ia adalah peristiwa politik dan rekayasa sosial yang dipenuhi dengan intrik, makar, dan persekongkolan. Dengan kata lain, peristiwa kehancuran Khilafah Islamiyah adalah bagian dari peperangan yang dilancarkan kaum kafir untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim.

Kronologi Kehancuran Khilafah Islamiyah
Dalam buku Kayfa Hudimat al-Khilâfah ini, dipaparkan kronologi kehancuran Khilafah Islamiyah secara ringkas sebagai berikut.

Pertama: munculnya gerakan pemikiran di Dunia Islam. Gerakan ini didirikan oleh orang-orang kafir untuk menyebarkan pemikiran beracun yang di kemudian hari memberikan andil terbesar bagi keruntuhan Khilafah Islamiyah. Gerakan-gerakan ini mengkonsentrasikan diri pada penyebaran pemikiran-pemikiran yang memecah-belah kesatuan kaum Muslim, merongrong kewibawaan hukum Islam dan sistem pemerintahannya, sekaligus membangkitkan semangat perpecahan di kalangan kaum Muslim. Pemikiran yang disebarkan di antaranya adalah nasionalisme, patriorisme, fanatisme mazhab, dan sebagainya. Tidak hanya itu, Barat juga berusaha menikam Daulah Islamiyah dari dalam, dengan memanfaatkan gerakan Wahabi melalui seorang agen Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud. Gerakan ini secara masif mulai menyerang mazhab-mazhab Islam lain dan menggelorakan permusuhan antarmazhab di dalam Islam. Bahkan pada tahun 1788, dengan didukung sepenuhnya oleh Abdul Aziz, gerakan ini menyebarluaskan mazhabnya dengan jalan peperangan. Akhirnya, Saud berhasil mendirikan Kerajaan Saudi sekaligus memisahkan diri (melakukan tindakan separatis) dari kekuasaan Khilafah Islamiyah melalui bantuan Inggris.

Kedua: munculnya fatwa-fatwa ulama—syaikhul Islam—yang membolehkan pengadopsian perundang-undangan, konstitusi Barat, dan paham demokrasi ke dalam sistem peradilan dan pemerintahan Islam. Fatwa ini secara langsung telah membuka jalan bagi masuknya pemikiran dan budaya Barat ke tengah-tengah kaum Muslim. Pemikiran-pemikiran Barat, yang berhubungan dengan hukum maupun pemerintahan, mulai menggeser syariat Islam. Sedikit demi sedikit, penyelenggaraan urusan negara dan masyarakat diatur dengan aturan-aturan Barat.
Tidak hanya itu, serangan pemikiran Barat ini telah berhasil menyingkirkan pemikiran Islam dari benak mayoritas kaum Muslim dan benar-benar telah mengguncang akidah mereka. Lebih jauh, serangan pemikiran ini telah mengguncang eksistensi Negara Khilafah Islamiyah, bahkan telah menghancurkan substansinya.

Akhirnya, yang tertinggal hanyalah bangunan fisiknya saja. Sebab, substansi negara—yakni mafâhîm (pemahaman), maqâyîs (tolok ukur), qanâ’at (keyakinan), dan manusia yang diikat menjadi satu oleh kekuasaan—telah berubah. Ketika substansinya berubah, sesungguhnya eksistensi negara telah lenyap, dan sangat mudah untuk dihancurkan.

Atas dasar itu, Syaikh Abdul Qadim Zallum berkata, “Tanpa serangan pemikiran dan budaya ini (al-ghazw al-fikrî wa ats-tsaqâfî), bangsa kafir tidak akan mampu menghancurkan Negara Islam.”

Ketiga: berdirinya partai-partai politik sekular di pusat kekuasaan Islam. Berdirinya partai politik sekular, semacam Turki Muda, merupakan “kesalahan terbesar” dalam sejarah Kekhilafahan Islam. Sebab, bagaimana mungkin Daulah Islamiyah membiarkan partai politik yang bertujuan menghancurkan sistem Khilafah, meminggirkan syariah Islam dari kehidupan negara dan masyarakat, dan memecah-belah kaum Muslim dengan paham nasionalisme? Selain itu, partai inilah yang sejatinya menyulut instabilitas negara, persekongkolan, serta sejumlah peristiwa politik penting di balik kehancuran Daulah Khilafah Islamiyah.

Lebih dari itu, partai-partai ini juga menjadi dalang dari seluruh konspirasi dan intrik politik yang ditujukan untuk memalingkan umat dari ajaran Islam, merongrong kewibawaan negara Khilafah Islamiyah, serta memecah-belah kaum Muslim dengan paham nasionalisme, mazhabisme, patriotisme, dan lain sebagainya. Bahkan, partai inilah yang telah membuka jalan selebar-lebarnya bagi kaum kafir untuk menguasai kaum Muslim, baik langsung maupun secara tidak langsung.

Keempat: persekongkolan dan pengkhianatan para ulama, tokoh masyarakat, dan petinggi Negara Islam dengan pemerintahan kafir, yakni Inggris, Prancis, dan Jerman. Dari kalangan penguasa, misalnya, kita mengenal Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, Muhammad Ali (Gubernur Mesir), Syarif Husain bin Ali, dan lain sebagainya. Merekalah yang telah menyerahkan Islam dan kaum Muslim kepada kaum kafir untuk disembelih dan dibinasakan.
Inilah fragmen sejarah penting yang menyebabkan runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah.

Merefleksikan Sejarah untuk Membangun Kembali Khilafah Islamiyah
Berdasarkan fragmen sejarah di atas, kita bisa menarik pelajaran penting berikut ini:

Harus disadari sepenuhnya bahwa negara apapun di dunia ini, termasuk Daulah Khilafah Islamiyah, ditegakkan di atas mafâhîm, maqâyîs dan qanâ‘ât tertentu, serta diterapkannya konstitusi dan undang-undang tertentu di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, jika kaum Muslim hendak menegakkan kembali Khilafah Islamiyah, mereka harus meletakkan kembali unsur-unsur tersebut di tengah-tengah masyarakat; serta menghancurkan mafâhîm, maqâyîs, dan qanâ‘at kufur.
Sesungguhnya persoalan utama kaum Muslim sekarang adalah bagaimana menegakkan kembali syariah Islam secara menyeluruh dalam koridor sistem pemerintahan islami, yakni Khilafah Islamiyah. Inilah induk dari seluruh permasalahan yang mendera kaum Muslim di seluruh penjuru dunia. Hanya saja, masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan kerja yang bersifat kolektif (‘amal jama‘i). Oleh karena itu, kaum Muslim harus membentuk sebuah partai yang concern dan fokus pada persoalan utama tersebut, dan tidak boleh berpaling pada persoalan-persoalan cabang lainnya.
Partai harus berdiri di atas landasan akidah Islam dan berjuang bersama umat untuk menegakkan kembali hukum-hukum Allah Swt. secara sempurna melalui penegakkan Khilafah Islamiyah. Partai inilah yang akan melakukan serangkaian kerja politis; mulai dari membina umat dengan tsaqâfah islâmiyyah; menanamkan mafâhîm, maqâyîs, dan qanâ‘at Islam; menyerang mafâhîm, maqâyîs, dan qanâ‘at dan sistem hukum kufur; mengungkap makar, konspirasi, dan pengkhianatan para penguasa terhadap Islam dan kaum Muslim; menyingkap rencana-rencana jahat kaum kafir, terutama negara-negara besar, terhadap Islam dan kaum Muslim; hingga mencari dukungan kepada tokoh-tokoh berpengaruh untuk mendirikan kekuasaan Islam (Khilafah Islamiyah).
Partai harus berdiri tegak di atas semua golongan, dan tidak terjebak pada “dukung-mendukung” salah satu kelompok tertentu. Partai tidak boleh membesar-besarkan perbedaan pendapat dalam masalah furû‘ (cabang), tidak mengobarkan ‘mazhabisme’, ‘kelompokisme’, dan lain sebagainya. Selama perbedaan ini menyangkut masalah cabang, seluruh kaum Muslim wajib tasâmuh (toleran) kepada saudaranya yang lain. Adapun jika perbedaan tersebut menyangkut masalah-masalah prinsip, partai harus bersikap tegas, tanpa kompromi sedikitpun.
Partai harus sudah mempersiapkan mulai sekarang sistem kemasyarakatan dan model pemerintahan Islam yang kelak akan ditegakkan di atas masyarakat. Partai harus mampu mendeskripsikan secara jelas dan detail, sistem kemasyarakatan (anzhimah al-mujtama‘, yang meliputi sistem pemerintahan, ekonomi, peradilan, pendidikan, dan lain sebagainya serta nizhâm ijtimâ‘i-nya (interaksi sosial).
Inilah yang bisa kita refleksikan, setelah kita membaca kitab Kayfa Hudimat al-Khilâfah karya Syaikh Abdul Qadim Zallum.