Hafair

Nama itu akan selalu aku ingat. Saat manasik, aku bertanya banyak hal mengenai Hafair, tempat dimana kami tinggal selama 25 hari di Mekkah. Soal maktab, warung, transportasi, kontur tanah hingga jauh dekatnya daerah itu ke Masjidil Haram. Jawab pembimbing, kira-kira 1,5 km jauhnya, kalau berjalan kaki bisa 15-20 menit. Banyaknya flyover akan membuat perjalanan terasa sedikit capai karena harus menanjak. Kalau naik mobil atau bis, biasanya membayar 1 sampai 2 riyal.

Maktab kami ada di bangunan/rumah nomor 394. Bangunan 5 lantai ini mempunyai 15-20 kamar kurang lebih. Dari stiker di depan pintunya, gedung ini sudah berulang kali menjadi makhtab jamaah haji Indonesia. Ada liftnya juga, serta 3 kamar mandi di setiap lantainya. Secara umum bisa dikatakan bersih dan nyaman. Kamarnya berpendingin udara, kamar mandi pun ada hot showernya. Dapur dengan kompor plus galonan air mineral, tersedia 24 jam. Di meja ‘resepsionis‘ tersedia saluran telpon internasional untuk menelpon sanak famili di tanah air. Mau nonton tivi [halah ngapain coba], juga ada di ‘lobby‘nya yang kecil.

Di sekitar maktab banyak terdapat warung kelontong dan rumah makan. Rumah makannya kebanyakan dikontrak musiman oleh pedagang dari Indonesia. Tak heran, masakan kita pun mudah ditemui di sana. Jadi gak serasa di luar negeri kalau tiap hari makan sate ayam atau sayur asem plus tempe goreng hehehe. Kalau mau sarapan tapi malas antri, di warung kelontong itu pun ada yang menjual Indomie Goreng, tapi tetap saja bumbunya berasa Arab..

Walaupun dekat Masjidil Haram, di Hafair banyak kita temui musholla maupun masjid. Ada yang kecil, ada juga yang besar. Sebenarnya sayang kalau sholat di tempat itu secara dekat banget ke Haram, namun ada kalanya kita kudu mengatur strategi agar badan tidak capai akibat diforsir beribadah di Masjidil Haram. Biasanya kami sholat Dzuhur di musholla depan makhtab karena pada waktu antara Dhuha hingga Dzuhur itulah yang kami sering pergunakan untuk istirahat, mencuci pakaian atau sekedar berinteraksi dengan sesama jamaah. Selepas makan siang hingga Isya dan sepertiga malam hingga dhuha, kami habiskan di Haram.

Di jalan utama yang menuju ke Haram yaitu Jl. Ummu Al Qura, terdapat banyak toko dan kios. Dari barang kebutuhan ibadah, tempat potong rambut, toko elektronik, rumah makan, apotik, hotel, sampai wartel pun ada. Jalanan ini tak pernah sepi, selalu berdenyut walaupun malam telah larut. Banyak penduduk menawarkan tebengan mobil menuju Haram 24 jam. Biasanya mereka melipir ke tepi jalan sambil mengacungkan tangan dan berteriak ‘Haram, Haram, Haram..‘. Kalau satu telunjuk, biasanya itu tandanya 1 riyal. Kalau 2 jari, ya 2 riyal. Namun pernah aku dan Utami nebeng mobil ‘omprengan‘ itu dan sesampainya di Haram sopirnya tak mau dibayar. Amal, katanya. Thoyib, thoyib, syukran ya, sering-sering aja akhi.. 😀

Untuk menghemat waktu dan biaya, biasanya kami naik omprengan itu hanya saat berangkat ke Haram. Pulangnya, karena telah selesai beribadah, kami memilih berjalan kaki saja dengan santai. Jalan kaki 30 menit tak terasa karena selain banyak teman satu arah juga jadi asyik melihat-lihat pedagang yang menjajakan dagangannya. Lagi-lagi banyak pedagang dari Indonesia. Mungkin TKI yang cuti dari pekerjaannya dan memanfaatkan musim haji untuk mencari tambahan rejeki. Bila pedagang itu bukan dari Indonesia, umumnya mereka sudah paham cara menarik calon pembeli dengan sapaan khasnya ‘Indonesia Haji, haji.. murah, murah. Satu riyal, satu riyal.‘ Itulah mengapa kali ye, ibu-ibu jamaah haji kita dijuluki Siti Rahmah, karena sering mampir untuk belanja.. 😀

Kini setelah 5 tahun berlalu, menurut situs pemondokan jamaah haji Departemen Agama RI, daerah Hafair selamat dari penggusuran dan tetap dipilih sebagai makhtab para jamaah haji Indonesia. Hafair yang kini menjadi area ring-1 nyatanya memang menjadi ‘lebih dekat’ dengan Masjidil Haram akibat perluasan masjid. Saking dekatnya, harusnya dari tempat ini jam raksasa Mekkah yang berada di pucuk Makkah Clock Tower Royal Hotel bisa mudah terlihat walaupun tertutup oleh bangunan gedung bertingkat di sekitar Hafair.

Namun mendapat makthab yang dekat atau jauh dari Masjidil Haram, tetap segeralah bersyukur. Kita bisa berada di tanah Haram untuk menunaikan haji itu sudah merupakan karunia dan rahmat Allah SWT. Kedepankanlah prasangka baik dan jauhi prasangka buruk terhadap Sang Penguasa Hidup. Bila kita memperoleh makhtab yang tidak sesuai dengan harapan kita, terima lah dengan tawakal karena kesabaran kita menghadapi itu semua insyaAllah ada balasannya dari Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s