Terngiang Masa Kecilku

Kemarin putriku Najah memberitahu bahwa hari ini [23 Juli] adalah Hari Anak Nasional. Sesaat aku teringat masa-masa kecilku di kota Bontang, Kalimantan Timur. ‘Duh, rasanya kok saat itu enak banget jadi anak kecil, apa-apa ada, mudah dan murah. Setiap hari Ahad ada yang ditunggu, tayangan film boneka si Unyil atau Aneka Ria Anak-anak Nusantara. Kadang juga lomba nyanyi Ibu Meinar, yang sama sekali berbeda dengan Idola Cilik saat ini, hehehe..

Permainan dengan kawan-kawan sebaya pun banyak banget. Belum jamannya video game, jadi kita lebih banyak bermain di luar rumah. Aku coba ingat-ingat permainan masa kecil yang indah dulu disini ah:

1. Petak Umpet
Semua anak Indonesia pasti senang memainkannya. Jengkelnya kalau yang ngumpet jauuuuh banget. Malah pernah ‘pal’nya di rumahku, dianya ngumpet di rumahnya, langsung pulang dan tidur gak balik lagi. Yee, curang.. eh, namanya juga anak kecil, hehehe..


2. Benteng
Wah ini permainan favoritku. Sederhana saja, ada dua ‘benteng’ yang dijaga oleh kawan satu tim. Tujuannya satu, bagaimana anak buah bisa merebut benteng dengan menyentuh benteng lawannya tanpa ketahuan atau tertangkap. Dulu kami memainkannya di sekolah yang memang punya banyak tiang. Tiang itulah yang dijadikan benteng. Saat jam istirahat tanpa diatur-atur lagi sudah ngumpul aja kawan-kawan penjaga benteng A dan benteng B. Langsung deh lari sana sini, kadang ngumpet di balik kawan perempuan [halah ini sih ada maunya kekekek] yang berjalan ke arah benteng lawan dan… teriak ‘BENTEENG!’, seraya bersorak seperti sudah menjadi juara dunia saja hehe..

3. Caluk Cadang
Di sini dikenal dengan nama Galasin atau Gobak Sodor. Permainan sederhana ini bisa dimainkan juga dengan anak perempuan. Tugasnya adalah mencapai garis akhir yang harus melalui beberapa garis tengah yang dijaga oleh ‘musuh’. Seingatku, ada 4 garis yang harus dilalui dengan 1 komandan yang menjaga garis vertikal. Butuh kelihaian dan kerja sama untuk meloloskan kawan agar bisa sampai garis finish.

4. Kasti
Kayanya ini ‘olahraga’ wajib ya di SD dulu. Seingatku, pak guru selalu menggabungkan anak laki dan perempuan untuk bermain bersama. Butuh satu pemukul bola dari kayu dan satu bola tenis. Di lapangan seukuran lapangan softball, ditentukan dua bendera sebagai ‘stop point’. Regu yang bertahan bertugas menahan sebisa mungkin para pemukul bola ini mencapai stop point tersebut. Cuma caranya ini yang tergolong ‘kejam’ menurutku, yaitu membidik lawan yang sedang berlari menuju stop point tersebut dengan bola tenis tadi. Bila lawan kena lemparan bolanya, ia pun ‘mati’ dan harus minggir. Regu siapa yang paling banyak meloloskan anggotanya ke stop point tersebut yang menang. Kayanya udah gak ada lagi ya anak SD yang bermain kasti? Entah gak ada lapangannya atau dinilai kejam, kok jarang aku lihat anak SD main kasti saat ini. Seingatku, teman perempuanku pernah pingsan karena kena lemparan bola kasti di kepalanya. ‘Duh..

5. Patuk Lele
Wah sebenarnya udah agak lupa ini mainnya gimana. Yang jelas dibutuhkan dua ranting pohon atau kayu yang digunakan sebagai alat pukul. Ranting kayu itu diletakkan dengan bertumpu pada sebuah batu, lalu kita pukul ujung yang satunya. Saat ranting itu belum jatuh ke tanah, kita pukul ke arah depan sejauh-jauhnya. Pemain lawan bertugas menangkap ranting yang kita pukul. Bila gagal menangkap, ranting yang terpukul jauh kita ukur dengan memakai bilah pemukul tadi. Dihitung dengan memutar-mutarkan sampai tempat awal pukulan. Yang meraih nilai tertinggi/pukulan terjauh dialah yang menang. Masih ada yang mainan ginian gak ya?

6. Gambaran
Dulu produsen kertas bergambar ukuran kartu banyak sekali. Ada gambar ‘jagoan’ atau superhero, pemain sepak bola, robot dan lain sebagainya. Biasanya masing-masing anak mempunyai kartu jagoan sendiri-sendiri. Kartu-kartu itu diadu dengan kartu lawannya. Caranya ya dengan melemparkannya ke udara dan membiarkannya jatuh. Kartu siapa yang terbuka dan menampilkan gambar jagoannya, dialah yang menang dan berhak membawa pulang kartu lawannya. Sederhana ya, tapi seingatku gak pernah berantem tuh mainnya walaupun harus menyerahkan ‘miliknya yang berharga’ kepada lawannya hehehe.

7. Gundu
Terus terang, aku gak begitu jago main kelereng atau gundu. Kita bawa gundu masing-masing, mencari sebidang tanah untuk bermain. Di ujung sana digambar segitiga untuk menempatkan gundu-gundu pasangan kita. Permainan dimulai dengan melemparkan gundu untuk mencari gundu terdekat dengan segitiga tadi dan permainan dimulai dengan saling menembak gundu lawannya. Siapa yang bisa menembak gundu lawannya, dia berhak membawa pulang gundu tersebut. Udah disebutkan kan kalau aku gak jago main gundu? Ya itu, makanya gunduku cepat habis…😀

© facebook ifa trisye batubara. mauliate butet!

8. Kornel
Kalau ini permainan khusus antara aku dan para sahabatku yang senang bermain sepak bola. Orang tua si John membikinkan gawang di taman belakang rumahnya. Satu saja gawangnya karena lahannya kan kecil. Kami membagi diri menjadi dua tim, masing-masing minimal dua orang lah. Tim yang satu menjadi tim bertahan, alias kiper dan bek. Yang lain menjadi tim penyerang, yang bertugas mencetak gol. Jadi satu orang menendang dari sudut dan satunya lagi bertugas mencetak gol. Bila bola itu tertangkap kiper lawan, tim pun berubah posisi. Yang tadinya bertahan menjadi menyerang dan sebaliknya. Begitu terus sampai bosan. Kami namai permainan ini dengan ‘kornel’, diambil dari bahasa asing ‘corner’ atau sepak pojok.

9. Cak Ingkling
‘Duh namanya ini mengindonesia apa tidak ya? Atau cuma anak-anak di Bontang saja yang tahu? Di tanah dibentuk kotak-kotak untuk dilalui. Seingatku, dimulai dari bawah digambar kotak bujursangkar tiga buah bersusun ke atas, lalu dua kotak sejajar diatasnya dan terakhir satu kotak bujursangkar lagi. Sebelum bermain kita harus punya ‘gacuk’ dulu, bisa dari batu atau pecahan genting. Gacuk ini dilempar sambil membelakangi kotak-kotak tadi. Habis itu ngapain ya, hahaha.. lupa.. seingatku kita melewati kotak-kotak tadi dengan satu kaki. Nah pas tiba di dua kotak sejajar, baru boleh deh kita menjejakkan kedua kaki disitu. Cuma, asli, aku lupa apa tujuan akhirnya bermain ini. Maksudku, menentukan pemenangnya bagaimana aku sudah lupa, maaf yee..

10. Berkemah
Gara-gara cerita Lima Sekawan dari Enid Blyton tuh, membuat kami sok mempunyai jiwa petualang. Mendirikan kemah gak perlu jauh-jauh, cukup di dekat rumah saja. Yang penting tidur di luar rumah bersama kawan-kawan melewati malam bersama-sama, aduh senangnya. Tapi pernah ada lho kejadian luar biasanya. Berawal saat kami melihat ada seseorang mengendap-ngendap di ujung lapangan. Bukannya kami takut lalu pulang ke rumah, justru kami melaporkannya ke pos keamanan yang memang terletak tak jauh dari tempat kami berkemah. Pamper [semacam satpam perusahaan] itu pun lalu mengontak kawan-kawannya dan benar saja, ternyata orang itu hendak mencuri gulungan kabel untuk diambil tembaganya. Buruknya, komandan keamanan itu menyuruh kami mengemasi tenda dan tidur di rumah malam itu, untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, hehehe..

Apa lagi ya? Kalau ada yang ingat, silakan ditambahkan.

Saat ini di komplek tempat kami tinggal, sudah jarang ditemui anak-anak berkumpul dan bermain bersama-sama jenis permainan diatas. Industri video game yang membuat mereka menjadi pribadi-pribadi penyendiri. Main di rumah masing-masing atau kalau pun harus bermain bersama, mereka memanfaatkan teknologi Wi-Fi antar PSPnya. Ya, teknologi yang berbicara sekarang. Mungkin karena itulah arena ‘outbound’ menjadi laris manis. Keterampilan fisik dan berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya baru teruji saat mereka ber-outbound ria.

Nah tugas kita sebagai orang tua yang harus pandai-pandai memilah-milah permainan untuk anak-anak agar mereka menikmati masa kecilnya seindah masa kecil orang tuanya dulu. Menurutku, selain mereka menuntut ilmu, yang namanya bermain dengan kawan sebaya juga penting bagi perkembangan fisik dan jiwa sosial mereka.

Jaman memang sudah berubah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s