Boleh Nonton Tivi ‘Gak?

Pukul 12.05 siang hari WIB. Ponselku berdering. Biasanya jam segitu si Najah, anakku yang kedua, menelpon. Benar, nomor telepon rumah tertera di layar.

“Assalamu’alaykum abi. Boleh nonton tivi gak?” tanyanya langsung, tanpa menunggu abinya menjawab salamnya.

“Wa’alaykumussalam adek. Boleh, tapi sambil makan dan cuma sampai jam satu ya.”
“Hmm, kalau sampai jam dua, boleh tidak?”
“Nonton apa sih kok sampai jam dua segala?”
“Film kartun. Ditemenin mbak.”

Percaya atau tidak, konversasi itu hampir terjadi setiap hari. Merepotkan dan menghabiskan pulsa banget yah? Nyatanya tidak, dari segi manfaat kami merasa lebih aman untuk menerapkan kebijakan seperti ini.

Percaya saja sama anaknya? Kan bisa saja ia menonton lebih dari yang ditentukan. Oh, tentu, bisa saja ia tak mematuhi waktu yang disepakati. Namun untuk sekedar mencuri waktu menonton, ia tak perlu harus menelpon abinya kan?

Kok ribet banget sih pakai minta ijin segala? Ya itu lah salah satu seni dalam mengatur anak, apalagi yang separuh waktunya mereka habiskan sendiri di rumah tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Asas yang kami pakai adalah kejujuran dan kepercayaan. Kami menerapkan aturan, mereka harus jujur melaksanakannya. Dan kami pun percaya mereka patuh pada aturan kami.

Apakah mereka pernah melanggar aturan? InsyaAllah pernah, namanya juga anak-anak. Namun Alhamdulillah, karena sering diminta bertindak jujur, berbohong pun mereka sepertinya tidak bisa. Saat sorenya kutanya, ‘Tadi siang jam berapa tivinya dimatikan?’, anakku menjawab ‘Jam 2. Eh, lebih 5 menit ding, habis filmnya belum selesai, ‘Bi.’ Jujur insyaAllah, kami tak perlu tanya simbak ia berkata benar atau tidak.

Oke, lalu untuk apa semua aturan ini dilakukan? Pertama, kami bukanlah pecinta televisi. TV di rumah lebih banyak matinya daripada hidupnya. Menurut kami, anak-anak kita belum mempunyai acara tivi yang aman untuk ditonton. Bila menyebut judul acara yang sering ditonton mereka, seperti si Bolang, Upin dan Ipin atau Laptop si Unyil, itu hanyalah sebagian kecil acara yang kontennya cocok untuk anak-anak. Lagi pula tidak semua film kartun mempunyai muatan visi yang baik. Kekerasan, adu licik sampai menampilkan adegan tak pantas lainnya, sering ditampilkan. Bagaimana kami tidak was-was? Belum lagi kalau terselip konten acara untuk dewasa di sela-sela tayangan iklan, sungguh, kami tak mau seorang generasi Qur’ani teracuni hal-hal yang demikian.

Belum lagi ‘pemandangan’ anak yang serius menonton tivi itu sungguh tidak indah. Ia hanya duduk atau berbaring terdiam kadang melongo, melototi layar kaca itu, berjam-jam (!). Apa mau kita membiarkan anak-anak membuang waktu kecilnya hanya di depan tivi dan otaknya teracuni apa yang ditontonnya?

Masih banyak yang bisa dilakukan dari sekedar menonton tivi. Belajar, tadarus sudahlah tentu. Tapi anak-anak kan butuh hiburan juga? Iya benar, namun yang namanya hiburan menonton tivi ada jamnya, tak bisa semaunya. Dari pagi sampai dini hari tivi kita diisi oleh acara kehidupan duniawi yang memabukkan dengan sangat sedikit sekali konten edukasinya, membuat kami dengan senang hati membatasi akses anak-anak menonton tivi.

Alhamdulillah, karena diberi pengertian dan sudah terbiasa dengan aturan ini, anak-anak kami pun tidak pernah memprotes orang tuanya. Bila mereka hendak menonton, mereka cukup bertanya ‘boleh nonton tivi gak’, dan apapun jawaban kami hari itu mereka patuh mentaatinya.

Itu semua demi masa depanmu, anakku..

4 pemikiran pada “Boleh Nonton Tivi ‘Gak?

  1. Subhanallah…
    Ana pengen mencontoh kluarga akhy,, bgitu bijak menerapkan aturan dlam kluarganya…
    Sungguh… Ana bgitu tergugah…
    Salam ukhuwah dri ana tuk Istry & buah hatinya .

    jazakillah ukhti atas komentarnya. alhamdulillah bila tulisan ana bisa menggerakkan semangat untuk mendidik anak-anak kita -generasi qura’ani yang qurotaa’yun- menjadi muslimin dan muslimah yang lebih baik lagi.

    mari sama-sama fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan, semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. syukran.

  2. Subhanallah…Ana pengen mencontoh kluarga akhy,, bgitu bijak menerapkan aturan dlam kluarganya…Sungguh… Ana bgitu tergugah…Salam ukhuwah dri ana tuk Istry & buah hatinya .
    +1

    subhanallah walhamdulillah. syukran katsira pak robby atas komentarnya. salam ukhuwah juga untuk keluarga. jazakallahu khairan katsira.

  3. syukron jazakallah …
    artikel dan tips yang bagus pak…penting..walo sederhana..
    anak2 saya hanya boleh nonton kartun..dan film anak2..mrk suka sekali upin dan ipin…
    kalo udah ga ada film anak lagi saya pilih Elshinta..masih lebih aman…tidak ada sinetron dsb yang menayangkan kekerasan…
    baik kekerasan verbal maupun fisik…

    syukran ibu putri. senang rasanya mempunyai banyak kawan yang sepakat bahwa acara televisi kita sangat berbahaya untuk dikonsumsi anak-anak. tv elshinta ya, walau jarang ditonton tapi pernah melihat tayangannya memang lebih banyak fitur dan edukasi kayanya ya. jazakillah khair ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s