Najah, si Imam

Bermula dari penjelasan singkatku kepada dua gadis kecilku di rumah, bahwa keutamaan sholat berjamaah di masjid atau musholla adalah wajib hukumnya bagi abi sebagai seorang laki-laki, apalagi tempat tinggal kami yang hanya sepelemparan batu jauhnya dari musholla. Saat mereka menanyakan kewajiban itu bagi mereka di rumah, aku pun mengiyakan, bahwa sebaiknya mereka sholat berjamaah juga di rumah.

Awal mula mereka enggan sholat berjamaah, baik berdua atau bertiga bersama uminya. Kadang-kadang uminya juga sih, sering mendahulukan mandi sepulangnya dari kantor sehingga anak-anak malas menunggu dan akhirnya mereka pun sholat sendiri-sendiri. Tapi perlahan-lahan dengan metode ‘pegang telinga‘ -seolah-olah menjewer namun hanya memegangnya saja- mereka pun sadar diri menyerahkan ‘kupingnya’ untuk ‘dijewer’ bila tidak sholat berjamaah. Alhamdulillah mereka kini sering sholat berjamaah di rumah.

Aku pun menyitir sebuah hadits yang mengatakan bahwa bila jamaah tahu keutamaan seorang muazin dan imam dalam sholat berjamaah, maka mereka pun akan memperebutkannya walaupun harus dengan cara mengundinya. Sayangnya banyak yang enggan menjadi muazin atau imam karena merasa belum mempunyai kemampuan untuk itu.

Nah, kini muncul persoalan baru. Si Najah, si bungsu yang jalan 8 tahun, merasa hafalan Qur’annya setara atau paling tidak, lebih banyak daripada kakak maupun uminya sehingga ia sering ngotot untuk menjadi imam. Jadilah sebuah pemandangan yang unik sepulangnya aku dari musholla, melihat ketiga wanita terindah di dunia bagiku itu sedang sholat berjamaah namun yang menjadi imam adalah yang paling kecil.

Namun tadi malam aku mendapatkan istriku sedang sholat sendiri di kamar tapi anak-anak berjamaah di musholla rumah. Aku menanyakannya, jawab istriku, ‘Takut sholatnya tidak sah karena berimam pada anak kecil yang belum baligh.’

Selanjutnya, menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi abinya untuk menjelaskan permasalahan ini berdasarkan dalil hadits, bukannya dalih. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari RA, bahwa dia menuturkan: Rasulullah SAW bersabda: “Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qu’rannya. Kalau di dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling faham tentang ajaran sunnah. Kalau di dalam sunnah juga sama, dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau di dalam berhijrah juga sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam.

Mungkin redaksi ‘lebih dahulu masuk Islam’ bisa kita tafsirkan sebagai ‘usia‘. Itu bisa berarti bahwa usia bukanlah faktor utama menjadi seorang imam. Seorang yang lebih muda bisa menjadi imam selama ia menguasai Al-Qur’an lebih banyak dibanding yang lebih tua.

Bahkan ada hadits yang khusus menyebutkan seorang anak yang berusia 7 tahun dipilih menjadi imam selepas penaklukan kota Mekkah, karena hanya ialah yang paling menguasai Al-Qur’an saat itu. Dari Jabir bin Abdillah bahwa Amr bin Salamah RA berkata, ‘Aku telah mengimami shalat jamaah di masa Rasulullah SAW sedangkan usiaku saat itu baru tujuh tahun.‘ (HR Bukhari).

Namun memang, seorang imam yang ditunjuk sebagai pemimpin haruslah dapat memimpin jamaahnya dengan tata cara sholat yang sah, benar dan tuma’ninah. Kadang Najah memimpin sholat terlalu cepat atau terburu-buru, ini bisa menyebabkan kakak maupun uminya ‘terpaksa’ mengikuti gerakan yang Najah lakukan padahal bacaan sholatnya bisa jadi belum sempurna.

Juga karena statusnya yang belum baligh, sholat wajibnya Najah dihitung sholat sunnah. Dalam sebuah dalil hadits sahih pun disebutkan tak mengapa kita sholat wajib berimam kepada yang sedang sholat sunnah, selama sholat itu tidak berbeda jenisnya, misalnya kita sholat dzuhur berimam kepada orang yang sedang sholat jenazah/ghoib.

Akhirnya aku pun memberitahu Najah bahwa bila hendak menjadi imam sebaiknya bertanya dulu kepada kakaknya, atau uminya bila ada. Kalau mereka bersedia berimam kepada Najah, silakan. Juga bila umi merasa tidak sreg berimam kepada yang belum baligh, maka jadilah imam, ajak putrinya untuk sholat berjamaah. Sudah saatnya umi menambah hafalan surah agar dapat mengimami putri-putrinya dengan banyak hafalan surah yang lain.😀

Semoga ‘kengototan’ si Najah menjadi imam sholat di rumah memberikan rahmat tersendiri bagi ‘jamaahnya’ yaitu umi dan kakak agar terus berfastabiqul khairat: berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbaiki bacaan dan menambah hafalan yang semata-mata hanya untuk meraih ridha Allah SWT.

Abi mencintai kalian semua, bidadari-bidadariku. Tetap sholat berjamaah ya, siapapun imamnya.

2 pemikiran pada “Najah, si Imam

  1. Imam yang belum baligh namun sudah mummayiz adalah biasa, dan di sunnahkan kalau memang dia mampu.

    Kami sering berimam kepada anak usia 7 – 8 tahun di salah satu Masjid besar di Khamis Muzayt daerah selatan di Saudi Arabia, untuk sekedar pengetahuan, bahwa penunjukan Imam Masjid di Saudi dilakukan oleh Kementrian Waqaf pemerintah sehingga tidaksembarang orangbisa jadi Imam.

    Artinya,harus difahamkan kepada umminya bahwa tidak boleh ada perasaan enggan terhadap sunnah, dan inipun bagian dari sunnah yang memiliki hikamh yang kadang tidak terfikir oleh manusia kebanyakan.

    Tidakboleh pula memisahkan anak anak mummayiz dari shaf orang dewasa.

    Pertama :karena sunnahnya begitu
    kedua :
    Salah satu hikmahnya adalah inilah tarbiyatul Aulad secara sosial, tarbiyah secara sosial kepada anak anak sehingga muncul pemimpin pemimpin muda berkualitas seperti Usamah bin Zaid, Ibnu Umar, 3 anak Afra Ra, Tariq bin Ziyad dan banyak lagi, ketika mereka baligh di usia 14 – 15 tahun mereka menjadi mukallaf yang mulai berdosa namun juga secara mental siap untuk memimpin dan dipimpin tanpa rasa canggung.

    Jangan hanya karena mengejar yang abstrak (shalat khusyuk ala Ust S misalnya) lalu sunnah yang himahnya mungkin hanya diketahui oleh ALLAH SWT menjadi hilang….. Wallahu’alam

    subhanallah, jazakallahu khair atas penjelasannya ustadz. saya pada prinsipnya pun setuju, selama sudah bisa melakukan sholat secara benar mengapa kita enggan untuk mengajaknya berjamaah atau bahkan menjadikannya imam.

    terima kasih sekali lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s