Tanazul ke Arafah

Perlengkapan itu sudah masuk di ransel. Isinya hanya berupa handuk, Al-Qur’an, buah dan sedikit makanan kecil. Tak lupa bendera regu yang memang menjadi kewajibanku membawanya, aku selipkan di sisi kanan ransel. ‘Bismillahirrahmanirrahim, ayo jalan..’

Mina, 9 Dzulhijjah 1426H masih pukul 03.30 WAS. Mulailah kami bergerak dari depan tenda, berjalan kaki menuju Muzdalifah. Para Karom sibuk mengatur rombongannya yang masing-masing berjumlah 40 orang dan sebagai Karu aku membantunya dengan ikut menghitung para jamaah, takut ada yang tertinggal. Subuh itu kami berhenti sejenak di Muzdalifah untuk sholat subuh berjamaah. Aa Gym menjadi imam dan memberikan sedikit tausiyah sebelum kami melanjutkan lagi perjalanan menuju tanah suci Arafah.

Tubuh yang hanya dililit dengan sepasang kain ihram diiringi pekik talbiyah, sungguh menggetarkan hati siapapun yang melakukannya. Sepanjang jalan tidak hanya jamaah dari Haji Daarut Tauhiid saja, namun sudah berbaur dengan ratusan ribu manusia yang bergerak menuju titik yang sama, Arafah. Jalur pedestrian ini memang berbeda dengan jalur mereka yang menumpang bis atau mobil sehingga tidak ada polusi sama sekali, menambah semangat perjalanan suci pagi itu.

Tidak diperkenankannya mengenakan ‘daleman’ dan kaos kaki bagi para ikhwan, membuat ada beberapa bagian tubuh lecet dan melepuh. Dari bagian dalam paha, tumit sampai bawah kaki, semuanya seakan kompak melepuh beramai-ramai. Tak ada keringanan, itu adalah konsekuensi yang diambil saat memilih paket ‘tanazul‘ yang ditawarkan. Bila tak mau capek, silakan naik bis namun bosan di jalan karena macet sepertinya tidak ada yang menanggung, hehehe. Oya, tanazul arti harfiahnya menyimpang, maksudnya menyimpang dari apa yang biasa dilakukan para jamaah haji yaitu menaiki bis/kendaraan dari Mekkah ke Arafah pulang pergi. Namun bila ingin mengikuti sunnah Rasulullah, berjalan kaki ini lah yang paling afdhol.

Perjalanan Muzdalifah ke Arafah ditempuh dalam waktu 3,5 sampai 4 jam. Cukup untuk membuat kaki ini pegal dan titik yang melepuh pun bertambah. Namun, demi Allah SWT, semua itu terbayarkan saat melintasi sign board raksasa ‘Arafah Starts Here‘. Ya Allah, Engkau sudi menerima hambaMu yang berlumuran dosa di tempat ini, di padang Arafah yang suci.

Di tenda Arafah inilah kami wukuf. Orang bilang, dilantik menjadi haji ya di tempat ini. Ya, karena wukuf di Arafah adalah salah satu rukun haji yang wajib dilakukan. Aa memberikan ceramah wukufnya yang membuat kami semua merasa demikian kecil dan hina dihadapan Allah dan para malaikatNya. Sungguh, ucapannya yang ‘masih banyak hambaMu yang lebih pantas Engkau hadirkan disini daripada kami‘ benar-benar membuatku tersungkur sembari tiba-tiba tergambar wajah-wajah mereka yang lebih alim dan sholih yang menurutku lebih pantas menggantikanku saat itu di sana. MasyaAllah, betapa Allah saat itu terasa dekaaat sekali.

Sekitar 8 jam kami berdiam di Arafah, tenggelam dalam ibadah masing-masing. Ada yang berzikir, tadarus, berdoa, semua mengharapkan ridhoNya. Sesaat aku melupakan segala luka dan lecet itu, namun saat Karom mengumumkan daftar para jamaah yang hendak mempergunakan bis untuk pulang ke Muzdalifah dan Mina, aku pun tergoda untuk ikut serta. Apalagi dokter yang memeriksa kakiku pun tidak menyarankan aku berjalan kaki lagi mengingat luka di kaki yang cukup parah melepuhnya.

Disinilah peran istri dan para kawan-kawan ‘seperjuangan’ itu. Mereka menyemangatiku untuk tidak menyerah. Kaki yang melepuh pun di’tambal’ seadanya, yang penting tidak menutupi jari dan melindungi luka dari debu. Sesaat aku bimbang, sanggup gak ya berjalan kaki 3-4 jam lagi?

Saat Maghrib mulai beringsut, kami pun mulai meninggalkan Arafah. Di kejauhan terlihat antrian ratusan bahkan mungkin ribuan bis sembari berteriak membunyikan klaksonnya meminta jalan. Macet luar biasa. Aku yang melihatnya dari kejauhan merasakan nikmat Allah sungguh dekat. Luka itu tidak lagi menggangguku. Aku bersyukur memilih berjalan kaki pulang ke Muzdalifah bersama istri dan kawan-kawan satu rombongan. Malam itu, kami tidur di ‘hotel seribu bintang’ di Muzdalifah dengan melupakan kaki yang masih terasa sakit dan pegal mengeras kelelahan setelah berjalan kaki seharian.

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik kalla Syarikalaka Labbaik. Semoga diterima haji kami..

Satu pemikiran pada “Tanazul ke Arafah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s