Pentingnya Sebuah Manasik

Simulasi Umrah/Haji
Simulasi Umrah/Haji

JAKARTA – Subhanallah, sudah masuk musim haji lagi. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik. Entah mengapa, setiap musim haji tiba, hati ini langsung terasa rindu untuk berada di sana lagi. Ya maklum, berhaji kan sungguh sebuah pengalaman rohani yang tidak mungkin bisa dilupakan.

Rasulullah bersabda, bahwa siapa yang hendak meraih dunia harus dengan ilmu. Demikian juga akhirat, meraihnya juga dengan ilmu. Oleh sebab itu lah para penyelenggara KBIH/Kelompok Bimbingan Ibadah Haji selalu menyelenggarakan manasik untuk para calon jamaah haji. Manasik ini bukan sekedar pengetahuan untuk beribadah haji saja namun juga memberikan bekal yang insyaAllah cukup dan bermanfaat dipraktekkan di tanah suci.

KBIH yang memberangkatkan kami pada musim haji 1426H yang lalu, sungguh mempunyai program manasik yang lengkap. Mereka mengadakan manasik baik teori maupun praktek hingga 6 kali pertemuan. Selain ilmu yang diperoleh, manasik ini juga bermanfaat untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri di antara jamaah calon haji, khususnya yang satu kelompok. Setelah manasik selesai, masih ditambah lagi dengan seminar esensi haji sampai 4 pertemuan. Kesemuanya diakhiri dengan manasik qubro, yaitu kami diberangkatkan ke Bandung dalam satu bis yang sudah dibagi per kelompok, menginap di tenda sebagai simulasi berada di Mina maupun wukuf hingga praktek umrah lengkap dengan miniatur Ka’bahnya. Kesemuanya dikondisikan mirip dengan kenyataan di lapangan kelak, termasuk bagaimana kita belajar mengantri untuk mengambil makanan sampai mempergunakan kamar kecil. Sungguh bermanfaat.

Apabila kita mengikuti semua teori dan praktek manasik itu, insyaAllah pada benak kita sudah terbayang prosesi umrah dan haji yang akan kita lakukan. Setidaknya itulah yang terjadi pada diri kami, yang begitu bersemangat mengikuti manasik karena meyakini bahwa ilmu adalah salah satu sarana kesuksesan dunia akhirat, apalagi manasik adalah ilmu untuk pergi berhaji.

Hasil dari manasik yang intensif itu langsung diujikan oleh Allah pada kesempatan pertama kami tiba di Masjidil Haram. Sesuai arahan saat manasik, kami memasuki Masjidil Haram melewati pintu 23/Babussalam secara berombongan, dipimpin oleh ketua rombongan/karom. Namun saat kami menuruni tangga yang berada di atas lintasan sa’i dan aku melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri, hati ini yang sudah menantikan saat-saat pertama perjumpaan itu justru tergetar, terguncang dan terharu karena merasa manusia hina seperti ini kok diijinkan sampai di Masjidil Haram.

Sesaat tubuh ini tidak bisa dikontrol lagi, larut dalam emosi yang berkepanjangan dan akhirnya batal lah wudhu karena tidak sengaja ‘terbuang angin’. Sejenak aku merasa bingung, baru juga memasuki Masjidil Haram namun harus wudhu lagi. Satu rombongan yang berjumlah 40 orang itu tidak mungkin menunggu aku mencari-cari tempat wudhu, dan aku pun tak mungkin berpura-pura batal wudhunya karena Allah pasti tahu aku sudah batal.

Aku pun berbisik kepada istri ‘Aku batal wudhu. Buang angin. Kamu mau ikut mereka atau aku?‘. Walaupun terkejut, istri pun menjawab ‘Kamu imamku. Aku ikut mas saja.

Jawaban yang mantap, jawaban yang membuatku yakin untuk berpisah dengan rombongan. Aku sampaikan ke karom dan ia pun berkata, ‘Bapak bisa umrah sendiri kan? Kan sudah manasik.‘ ujarnya. ‘Nanti kita ketemu di Marwah saja setelah tahalul ya pak.‘ katanya lagi. Aku pun mengangguk tanda setuju.

Aku pun menggandeng istriku mencari tempat berwudhu. Beberapa orang aku tanyai tapi tak satupun yang mengerti maksudku. Hingga akhirnya kami bertemu dengan seorang jamaah dari Indonesia dan menunjukkan tempat berwudhu di dekat arah Pasar Seng.

Selesai berwudhu, kami berdua memasuki lagi pintu nomor 23 dan memulai prosesi umrah sesuai yang telah diajarkan saat manasik. Subhanallah, saat itu kami begitu yakin akan pertolongan Allah dan bersandar padaNya untuk diberikan kemudahan mengingat dan melakukan ibadah sesuai urutan rukunnya. Hingga akhirnya kami menyelesaikan prosesi itu dan berkumpul kembali dengan rombongan yang sudah menunggu di tempat tahalul sesuai kesepakatan.

Dari situ kami pun sadar, bahwa manasik adalah salah satu bekal untuk kesempurnaan ibadah haji. Bisa dibayangkan bila kita tidak mengikuti manasik, mana lah mungkin kita mempunyai pengetahuan tentang rukun-rukun umrah dan haji, denah Masjidil Haram hingga lokasi makhtab kita. Memang, ada kepala rombongan atau ketua regu yang mungkin bisa memandu dan membantu, namun bila keadaannya darurat seperti cerita diatas, keberadaan sebuah ilmu berhaji tentu sangatlah dibutuhkan.

Dari tuntunan Rasulullah SAW bahwa salah satu syarat berhaji adalah berakal, seharusnyalah dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesempurnaan ibadah kita. Tanpa ilmu kita buta, tanpa ilmu kita tak bisa apa-apa.

2 pemikiran pada “Pentingnya Sebuah Manasik

  1. Assamamu’alaikum wr wb

    mas, terima kasih ringkasan manasiknya. tolong dong, kalau punya peta mekkah, saya mau mencari mahbaz jin dan aziziyah janubiah. saya cari di google map tidak ketemu. insya allah kami berangkat tgl 19 nov 2009.
    tolong kalau ada.

    Wassalamu’alikum wr wb

  2. Assalamu’alaikum wr wb

    Alhamdulillah, petanya sudah ketemu. Bagi rekan-rekan yang membutuhkan peta pemondokan Ring I – II dapat di unduh di http://haji.depag.go.id/index.php/info-umum/Peta_Perumahan_Jemaah_Haji_Indonesia_di_Mekkah_Tahun_1430H/2009M

    wassalamu’alaikum wr wb

    wa’alaikumussalam,
    mohon maaf sekali pertanyaan anti tidak terjawab karena kesibukan jadi terbengkalai mengurus blog ini. terima kasih infonya ya, sangat berguna untuk calon jamaah haji tidak hanya tahun ini namun insyaAllah tahun-tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s