Jenggot

qrJAKARTA – Jenggot, atau janggut dalam Bahasa Indonesia, menurut wikipedia adalah ‘rambut yang tumbuh pada daerah dagu, pipi, dan leher pria.’ Dalam agama Islam, memelihara jenggot ini ada yang mengatakan sunnah, ada pula yang wajib. Tulisan ini tidak mengupas sisi hukum memelihara jenggot dari kaidah agama, namun lebih pada pengalaman penulis dalam memelihara jenggot ini.

Kapan pertama kalinya aku membiarkan jenggot –yang sebenarnya tidak lebat-lebat amat ini– tumbuh di dagu, persisnya aku sudah lupa. Bila melihat arsip foto-foto digital tahun 2002, daguku masih licin, hasil penebangan pisau cukur dan foam/busa cukurnya. Bicara foam itu, seingatku aku jadi korban iklan. Melihat sang model nyaman memainkan pisau cukurnya diatas busanya yang berlimpah, aku jadi tertarik untuk membelinya. Padahal, belakangan aku rasakan pakai sabun cair saja juga sama nikmatnya..๐Ÿ˜€

Nampaknya sejak tahun 2004, aku membiarkan jenggot ini tumbuh. Semakin asyik membiarkannya setelah si ummi bersedia menjadi tukang cukur untuk meratakan jenggot ini sesekali. Lama-lama, jenggot ini menjadi salah satu kenikmatan sendiri saat mengelus-elusnya. Baca artikel disanasini, aku dapati ternyata memelihara jenggot adalah salah satu sunnah Rasulullah. Yasud, semakin mantap dah memeliharanya.

Namun, sporadisnya pemberitaan media sejak Bom Bali I dan II serta bom-bom di Kuningan yang menampilkan sosok-sosok teroris yang juga berjenggot lebat, menciptakan sebuah stereotype seorang pejuang jihad garis keras. Para teroris yang identik dengan lebatnya jenggot, berdahi hitam, bawa Al-Qur’an dan siap mati, menjadikan orang-orang yang memiliki sifat-sifat jasmani seperti itu dengan mudah dicap seperti teroris. Seperti komentar adikku kemarin saat melihat tayangan penggerebekan di Temanggung, ‘Mas, hati-hati jenggotmu, ntar dijalan ditangkap Densus 88 lho.’ Atau kawan lamaku pun idem berkomentar ‘Jenggot kau ni makin lama makin mirip Amrozi aja.’ lengkap dengan logat Palembangnya. Ya memang konotasinya bercanda, tapi kenapa jenggot sasarannya?๐Ÿ˜›

Padahal, dengan jenggot ini aku merasa menjadi muslim yang sebenarnya. Paling tidak identitas keislamanku terlihat saat orang pertama kali menatap jenggot ini. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang meminta kita mencukur kumis dan memanjangkan jenggot agar tidak sama dengan kaum terdahulu, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Beberapa pengalaman juga membuktikan bahwa jenggot ini bukan sekedar hiasan. Ia mempunyai makna dan fungsi sebagaimana Rasulullah jelaskan.

Misalnya saat berumrah kemarin, aku terlibat tawar menawar dengan seorang pedagang di Madinah. Saking ngototnya kami berdua, tiba-tiba ia mengelus-elus jenggotku sembari tersenyum. Teringat cerita dari seorang ustadz bahwa itu adalah salah satu penghormatan orang Arab, aku pun membalasnya, mengelus jenggotnya. Akhirnya tawar menawar pun selesai dengan kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Gara-gara jenggot..๐Ÿ˜€

Ada lagi, masih di Madinah, saat aku berjalan ada orang bertanya ‘Antum Malaysia?‘. Aku jawab ‘La, Ana Indonesia‘. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memegang jenggotku dan berkata ‘Tak mungkin Indonesia. Jenggot seperti ini punya Malaysia‘. Hah? Padahal jenggotku biasa-biasa saja. Bisa aja ‘tuh orang..๐Ÿ˜€

Efek psikologisnya ada lagi. Bila saat waktu sholat tiba dan kita beribadah di musholla umum, misalnya di tempat perbelanjaan, rumah sakit dan lainnya, pasti deh, yang berjenggot disuruh jadi imam. Mungkin sudah terpatri di pikiran mereka bahwa yang berjenggot ini orang yang paham agama. Tidak sekali dua mengalami hal seperti ini, namun hampir setiap kali. Saran Rasul, kita berlomba dalam hal ibadah. Saat dipersilahkan menjadi imam, sebaiknya diambil bila kita mampu. Namun kadang merasa minder juga, karena kita yang masih fakir ilmu ini sudah dikira ahli agama. Aku memohon ampun kepada Allah untuk itu.

Demikian lah, sedikit curhat di akhir pekan. Bukannya aku menolak pencitraan teroris dengan jenggot lebatnya, namun kadang ketakutan akan Islam ini berlebihan. Agama Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin, agama yang tidak mengajarkan kekerasan. Sedikit saja komunitas sipil berbenturan dengan ormas Islam, beritanya menggema kemana-mana. Namun aksi teror dari negara adidaya yang mengklaim dirinya polisi dunia kepada para pejuang Afghan, Irak dan Palestina, tak ada yang menyebutnya teroris. Inilah yang disebut perang pemikiran, sehingga kadang umat seagama pun saling berseberangan dan berkonflik. Islam di negara ini dibusukkan oleh umatnya sendiri karena tipu daya pihak asing yang tidak suka melihat Islam di Indonesia bersatu. Mau begini terus?

Wallahua’lam Bisshowab.

2 pemikiran pada “Jenggot

  1. cerita (seputar jenggot) yang menarik..๐Ÿ™‚

    saya juga termasuk orang yang memelihara jenggot atas dasar sunnah nabi..

    semoga kita semua dapat istiqamah dalam menegakkan agama islam..

    syukran katsiraa akhi ridho.. amin, semoga tetap istiqomah menjalankan sunnatullah dan sunnah rasulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s