Jumatan di Masjidil Haram

JAKARTA – Tak terasa telah sepekan berlalu sejak melakukan sholat Jum’at di Masjidil Haram. Ya, pengalaman berumrah kemarin memang menumbuhkan tekadku untuk membayar penyesalan atas gagalnya sholat Jum’at di lingkaran Ka’bah pada musim haji 1426H yang lalu.

Ceritanya, saat musim haji yang begitu padat jamaahnya, aku pun bergegas berangkat lebih awal dari makhtab untuk berniat mencari shaf terdepan sesuai sunnah Rasulullah. Shaf terdepan di Masjidil Haram dimana lagi kalau bukan di lingkaran Ka’bah, bukan? Sesampainya di Haram, niat mulai goyah. Bukan shafnya sudah terisi, justru di lingkaran Ka’bah itu masih banyak tempat yang kosong. Aku lihat jam tanganku, masih pukul 10.30. Ah, azan masih 2 jam lagi, kira-kira bisa tahan gak ya duduk di situ sampai dua jam lagi? <-setan udah mulai berbicara, hehehehe. Akhirnya saat itu aku coba maju dan mencari shaf yang masih lowong di depan Multazam.

Namun apa daya, niat dan semangat dowang masih kurang. Perlu tekad yang kuat untuk mengalahkan panasnya sinar matahari yang serasa membakar kepala [maklum, habis tahalul/bercukur sampai plontos] namun -maaf- pantat ini terasa dingin [karena memang dibawah marmer anti panas itu diberi pendingin]. Bisa bayangkan rasanya, atas panas bawah dingin? Alhasil, kurang setengah jam lagi azan Dzuhur, aku pun menyerah. Tak kuat lagi menahan derasnya keringat dari kepala yang membasahi tubuh. Aku pun beranjak, meninggalkan tempat yang disekelilingnya mulai dipadati jamaah yang tetap kuat menahan panas. Jumat itu, aku justru pindah ke lantai dua, yang jauh dari shaf utama..

Oleh sebab itu, saat diberikan kesempatan untuk berumrah kemarin, aku bertekad untuk tidak mengulangi kesalahanku 3  tahun yang lalu. Dari hotel aku berangkat pukul 09.30. Kali ini aku duduk di lantai satu namun di tempat yang masih ada atapnya. Suasana thawaf tidak terlalu ramai, suhu saat itu sekitar 40°celcius. Aku bertadarus sembari menunggu azan Dzhuhur, sehingga stamina ini tidaklah terkuras seperti saat berhaji dulu.

Pada saat azan dikumandangkan, aku berdiri. Aku lihat lantai thawaf masih belum begitu ramai. Nampaknya orang-orang lebih memilih berdiam di lantai satu yang ada atapnya. Aku pun bergerak menuruni tangga untuk menuju ke pelataran Ka’bah. Subhanallah, lantai itu tetap dingin sehingga menambah tekadku untuk berthawaf sembari menunggu saat sholat tiba. Sudah menjadi kebiasaan bila berthawaf aku mencopot peciku. Biar seperti thawaf umrah gitu, hehehe. Nah, panas matahari memang terasa hangat di kepala, namun Maha Suci Allah, siang itu kita yang thawaf diberikan banyak kemudahan.

Kemudahan pertama, diberinya angin yang berhembus. Sungguh, angin ini sangat membantu mendinginkan suhu kepala dan tubuh. Kedua, jamaah yang thawaf tidak terlalu banyak. Masih tersedia space kosong sehingga kita bisa menunaikan sunnah thawaf yaitu berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama. Ketiga, banyak orang yang secara sukarela mengambilkan gelas berisi air zam-zam. Alhamdulillah, hampir setiap putaran kuambil gelas itu dan meminumnya lalu menuangkannya ke atas kepala, membasahi tubuh ini. Mak nyessss.. sueger! Dan kemudahan terakhir, saat khatib menyelesaikan khotbahnya, thawafku pun selesai sehingga bisa langsung berhenti dan mencari tempat untuk sholat. Siang itu, aku merasa telah melunasi hutang tekadku tiga tahun yang lalu, Alhamdulillah.

Mungkin ada yang bertanya dimana letak khatib di Masjidil Haram? Mimbar khatib diletakkan di belakang maqom Ibrahim, kira-kira 5-10 meter. Saat berkhutbah, beliau membelakangi Ka’bah dan menghadap ke jamaah yang duduk di bawah tenda. Nah ini dia, sepertinya tenda portable itu disiapkan untuk keluarga Kerajaan, karena para askar yang berdiri di depannya banyak sekali, membentuk barikade yang melarang kita mendekati mimbar khatib sekalipun.

Demikianlah, sejumput pengalaman yang semoga dapat bermanfaat bagi yang hendak berkunjung ke Tanah Suci. Memang, bila kita sudah berada disana segala doa insyaAllah diijabah, seperti doaku yang meminta dimudahkan dalam melakukan sholat Jumat pekan lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s