Soal Rokok (lagi)

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS 2:265)

JATIBENING – Pertama kali blog ini aku tulis, aku pernah memuat tulisan Taufik Ismail soal Tuhan 9 Senti, yang semenjak fatwa MUI soal rokok keluar beberapa pekan lalu, beredar lagi di banyak milis dan blog. Di Dakta FM juga ramai diperdebatkan masalah haram atau makruhnya hukum merokok ini. Banyak yang mendukung MUI tapi tidak sedikit pula yang menolaknya. Tulisan ini tidak untuk ikut meramaikan polemik itu, tapi lebih dari sisi diriku yang mantan perokok selama hampir 20 tahun

Pada tulisanku terdahulu, waktu itu ku akui kalau merokok bisa memperluas pergaulan. Namun saat ini, tanpa rokok pun pergaulan malah lebih luas dan lebih baik. Kalau dulu ‘bermajelis’ dikelilingi para ahli hisap, Subhanallah, saat ini kawan-kawan di beberapa majelis pengajian tidak ada satu pun yang merokok. Kegiatanku di Terios Rush Club Indonesia pun, masih banyak yang merokok, tapi yang tidak merokok atau yang sudah tobat, juga tak kalah banyaknya. Lebih banyak malah. Jadi, ketergantungan rokok dengan alasan untuk memperluas pergaulan adalah omong kosong.

Tanpa rokok, dulu aku kira aku gak bisa berpikir. Hahaha, ternyata itu hanya tipu daya setan. Justru tanpa rokok pikiran bisa fresh. Ya iya lah, bagaimana mungkin benda dengan ribuan zat yang merusak tubuh bisa menelurkan ide-ide yang brilian? Itu hanya membuat kita memiliki ketergantungan terhadap sebuah benda, yang dalam agama Islam diharamkan selain bergantung kepada Allah SWT. Rokok tidak membuat kita dapat berpikir, namun rokok membuat kita kepikiran untuk menghisapnya dulu baru bisa berpikir. Nah, kalau saat kita dituntut untuk berpikir namun tidak ada rokok, apa yang bisa kita hasilkan? Paling-paling keluar ruangan, hisap satu dua batang, lalu masuk lagi. Jreng! ‘I have an idea!’ ujarnya. Lalu ia berpikir, rokok memang hebat, bisa membuatnya menghasilkan ide baru. Padahal itu hanya sebuah bukti dirinya mempertuhankan sebuah rokok, menganggap rokok lah yang memberikannya ide, bukan Allah. Mungkin karena itulah muncul jargon bikin hidup lebih hidup, hehehe.. kasihan sekali ya..πŸ˜€

Selama hampir 20 tahun aku merokok, seingatku tak pernah sekalipun mengucapkan Bismillah saat menyalakan rokok. Ini juga bukti bahwa merokok adalah perbuatan sia-sia. Teman-temanku yang masih merokok hingga saat ini saat kutanya hal tersebut, dengan malu-malu pun mengakui tidak pernah mengucapkannya saat membakar rokok. Jelas tidak akan pernah ingat, karena merokok bukan perbuatan yang diridhoi oleh Allah SWT. Padahal sebagai seorang muslim, kita diingatkan untuk selalu mengucapkan Basmalah saat hendak memulai segala aktifitas.

Beberapa orang mengatakan bahwa merokok hanyalah makruh, bukan haram. Mereka lupa akan ayat-ayat Allah di surah Al Baqarah ayat 265 yang aku tulis diatas. Dari ayat tersebut, bukankah Allah sudah memerintahkan kita untuk tidak memilih yang buruk-buruk? Apakah rokok itu adalah hal yang baik untuk dikonsumsi? Jelas tidak. Lihat saja di setiap kemasan dan iklan rokok yang ditulis dengan huruf kapital ‘MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN’. MasyaAllah, dua penyakit pertama yang merenggut jiwa paling banyak di bumi ini disebut disana. Tapi biasa laah, para perokok itu kan kebanyakan ‘buta huruf’, kalau bukan buta hatinya..πŸ˜€

Para perokok, termasuk diriku sewaktu masih menuhankannya, sama sekali gak peduli tuh sama zat-zat berbahaya yang jumlahnya ribuan meracuni tubuh. Idiom yang sering didengar seperti ‘merokok atau tidak toh sama-sama mati‘ seakan-akan mengamini kegiatan egoistik para perokok. Dengan tubuh sendiri saja tidak peduli, bagaimana dengan lingkungan sekitar, bahkan terhadap anak dan istrinya sendiri yang turut menghisap bau rokoknya? Itulah sifat sejati para perokok, yang maunya menang sendiri. ‘Elu-elu, gue-gue..

Bagi diriku yang baru 3 tahun berhenti merokok, sungguh sekarang sangat sebal melihat orang merokok, terlebih yang tidak pada tempatnya. Misalnya merokok di kendaraan umum atau pribadi, di depan anak kecil, di tempat-tempat olah raga, di ruangan ber-ac, bahkan di lingkungan Masjid. Namun apa yang bisa diperbuat selain menegurnya dengan sopan. Kadang teguran yang halus bisa meluluhkan hati perokok, yang serta merta mematikan rokoknya. Namun ada juga yang cuma bergeser tanpa sepatah kata dan tetap menghisap tuhan sembilan sentinya itu. Kalau sudah begini, yang waras ngalah deh..πŸ˜€

Menuntut pemerintah menutup pabrik industri rokok pastilah seperti bertepuk dengan sebelah tangan alias kaga bunyi. Sama seperti bisnis minuman alkohol yang sudah lama diharamkan, toh tetap buka dan produknya dijual dimana-mana. Yang heran, mengapa saat rokok ini difatwakan haram, kok banyak yang nyolot? Biarlah masyarakat saja yang memilih, hendak mengikuti fatwa para ulama atau tidak, yang penting segera diharamkan saja rokok itu untuk semua kalangan, bukan hanya untuk anak-anak dan wanita. Kalau cuma setengah-setengah seperti saat ini, ya hasilnya barisan para perokok pun tak akan pernah surutnya.

Wallahua’lam bisshowab.

6 pemikiran pada “Soal Rokok (lagi)

  1. setuju..Pak.
    merokok lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya.
    seharusnya yg merokok, menjual, membuat rokok tahu hal ini.
    tapi kenapa (yg saya tahu)yg mendesak MUI Kak Seto, bukan para ulama?..

    wassalam.

    wa’alaikumussalam,

    para ulama terpecah menjadi dua golongan, yaitu yg menganggap merokok adalah makruh dan satunya lagi menganggap haram. kak seto mendukung pengharaman rokok karena fatwa ini menyinggung juga pada anak-anak yang menjadi tanggung jawab komisi perlindungan anak dengan kak seto sebagai ketuanya.
    sebagai umat, kita wajib bersandar kepada sunatullah dan sunnah rasul, serta umara/pemimpin yg dalam hal ini adalah MUI, selama fatwanya tidak bertentangan dengan hukum Allah dan RasulNya. jadi bila MUI telah memfatwakan rokok itu haram, sebaiknya sebagai umat yg taat hendaknya mengikuti fatwa itu karena tidak berseberangan dengan sunatullah dan sunnah rasul.

    Jazakallah akhi, Allahua’lam.

  2. wiih tulisan yang enak dibaca.
    tapi surah Al Baqarah ayat 265 sebagai rujukan sepertinya kurang tepat deh pak.
    bukannya ‘..yang buruk-buruk…’ yang dimaksudkan dalam ayat itu sesuatu yang tidak pantas untuk disodakohkan (dinafkahkan)?

    jazakallah koreksi & komentarnya akhi agus. tulisan itu ana buat sepulangnya dari sholat jum’at, ketika seorang khatib menyitir ayat tersebut dalam pembahasan fatwa MUI mengenai larangan merokok. insyaAllah kekeliruan ada di pihak ana apabila ana mengutip ayat yang kurang tepat. sekali lagi terima kasih masukannya.

  3. Salam yi,

    Bagus juga tulisan tentang rokok ini. Aku masih merokok sampai sekarang. Dari keterangan tulisan ente diatas aku masih kurang sreg.

    Point pertama :
    Tentang pengaruh rokok dan pikiran : Rokok adalah zat yang masuk tubuh dan bisa merusak tapi bisa juga menjadi stimulus untuk berpikir. Karena zat nikotin masuk tubuh dan itu bukan sugesti. Hal ini mirip kalo makan daging banyak lemak bisa berpengaruh buruk kalo makan kebanyakan tapi bisa juga membuat badan lebih kuat dan bertenaga.

    Point kedua :
    Saya setuju kalo ada larangan merokok sembarangan seperti ente ceritakan diatas. Merokok memang sebaiknya diruangan khusus. Kaya di diplaza bapindo lantai 22 biasanya gerombolan gtz merokok di tangga turun-naik. Walaupun dilarang satpam tetap aja disana termasuk pak erntz, pak marcus , yasmine, dan etc. yaitu tadi cari inspirasi heheheh.

    Point ketiga : Merokok dalam islam adalah bahasan tengah (agak samar). Dan biarkan dia samar… hehehe karena memang dibuat demikian oleh Tuhan. Kalo ada larangan misalkan merokok hukumnya sama dengan larangan berjudi atau minum arak atau mengundi nasib dengan anak panah dan jelas tertulis, maka saya yakin umat islam apalagi kyai-kyai langitan sana ngak bakal berani merokok sampe saat ini. Jadi merokok yah masalah samar..tidak perlu diperjelas kali atau sampai di kategorikan haram. Itu sebabnya ada ayat yang menceritakan tentang malaikat yang bertanya pada Tuhan ” Kenapa Engkau Rabb ciptakan manusia yang dapat merusak di muka bumi ?” dan jawab Tuhan ” Sesungguhnya Aku lebih mengetahui daripada kalian”. Jadi malaikat juga tahu rupanya bahwa penciptaan manusia dapat merusak dan yang merusak pasti jelek akibatnya. Dan saya yakin bahwa malaikat juga pasti bertanya pada Tuhan untuk apa dibuat daun namanya tembakau kalo itu untuk merusak. Dan untuk apa diciptakan babi atau arak kalo itu juga membuat kerusakan dimuka bumi. Dan jawaban Tuhan sudah jelas ” Babi haram , arak haram ” dan jawaban untuk Tembakau haram saya kira tidak tertulis. “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui” itu kata Tuhan

    Salam

    Rahmad

    biasa, para perokok selalu mencari alasan kebenaran. tidak usah lewat agama deh, dari segi ilmu dan kesehatan saja mereka tidak mau dengar, apalagi dari sisi dakwah? para perokok itu kan buta huruf semuanya. larangan merokok atau peringatan soal bahaya rokok di tiap bungkus dan iklan rokok mana pernah bisa dibaca. aku bisa menulis seperti itu karena aku juga dulunya perokok berat. tidak seberat dirimu mungkin, tapi satu bungkus untuk dua hari, sudah cukup memenuhi rongga paru-paruku ini dengan racun yang tak berguna.

    tanggapanmu pada poin pertama jelas menyatakan persetujuanmu denganku, bahwa dirimu sebagai perokok rupanya masih menuhankan rokok. tanpa rokok dirimu tak bisa berpikir, dengan rokok bisa. hebat sekali rokok ini. bukankah sebaiknya bila kita dapat berpikir kita spontan memuji Allah yang memiliki diri dan anugerah yang diberikan, termasuk kemampuan berpikir?

    yang poin ketiga, grey area dalam islam, disebut makruh. mungkin benar, segala yang bersifat makruh tidak dilarang. namun bagi yang mau berpikir, sekali lagi nih, yang mau berpikir, akan lebih memilih meninggalkan yang makruh ini dan menaikkan status makruh menjadi haram. karena makruh itu tidak memberi manfaat apa-apa, selain kemudharatan. merokok, apa manfaatnya? okay, seperti katamu, untuk berpikir. lalu, apa mudharatnya? wah, banyak sekali. dari pemborosan uang, merusak kesehatan, mengganggu orang sekitarnya dan banyak alasan lain. kalau otak bisa dipakai berpikir, masa milih yang lebih sedikit manfaatnya daripada banyak mudharatnya?

    hahaha, gak pernah nih aku kasih balasan komentar sampai panjang begini kalau bukan sodaraku yang memancingku demikian, hehehe..πŸ˜›
    jazakallah akhi.

  4. Salam lagi yi

    Saya hanya mencari dasar sungguh-sungguh apa benar rokok itu haram. Kalo dasar hukum rokok di tarik dari arah pemikiran saya kira tidak tepat sama sekali. Dasar hukum yang mengatakan rokok itu haram atau halal kan datangnya dari MUI. Kalo datangnya dari pemikiran tentu saja menteri kesehatan yang menerangkan dasarnya.Padahal pokok atau ilat hukumnya kan datangnya dari Tuhan. Ini halal ini haram itukan hak penuh Tuhan. Itu yang saya maksudkan.
    Kalo dari alasan pemikiran saja tidak cukup bukti asap rokok saja yang menyebabkan kematian. Kenapa anda tidak bertanya dan menarik kesimpulan bahwa asap bajaj atau mobil jauh lebih berbahaya dari asap rokok? Kalo asap rokok membahayakan bagi si perokok dan perokok pasif dalam radius 2 sampe 5 meter. Kenapa anda tidak bertanya Asap mobil yang tidak membahayakan bagi si pengemudi(make AC tutup kaca) tapi sangat membahayakan bagi yang tidak berkendaraan pada radius sampe 1 kilometer. Asap timbal dibanding asap rokok dari tembakau 1 : 10000 bahayanya.

    Jadi dalam teori penciptaan dalam islam pada awalnya semua penciptaan adalah halal. Kemudian turun syariah untuk setiap umat. Halal dan haram tiap umat berbeda.dan sumber pembedanya adalah aturan halal-haram yang di atur didalam kitab suci. Jadi aturan halal-haram turun secara bertahap. Lihat saja tentang khamar…pada masa awal islam tidak dilarang kemudian bertahap turun per ayat sampe mempunyai hukum tetap sampe sekarang yaitu haram. jadi halal atau haram pun Tuhan secara perlahan menurunkannya.
    Dan kita sepakat tidak ada lagi nabi baru atau kitab baru setelah rasul. Dan kita tidak akan pernah menemukan ayat baru lagi yang turun mengatakan rokok itu haram atau mobil dan bajaj haram.

    Salam

    rahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s