Kupotong Sendiri Qurbanku

JATIBENING – Purna sudah rasa penasaran itu. Pada Hari Raya Qurban 1429H kemarin untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyembelih seekor binatang. Jangankan kambing, menyembelih ayam pun aku belum pernah. Rasanya tidak tega melihat binatang menjemput ajalnya melalui tangan kita.

Namun rasa penasaran itu makin membuncah saat mengikuti pengajian menyambut Idul Adha di Masjid Al Falah Jati Agung 1 sepekan sebelumnya. Pengajian yang menghadirkan ustadz dari warnaislam.com, Ustadz Ahmad Sarwat itu, berhasil mengazzamkan niat di dalam hati ini untuk meneteskan darah hewan sembelihan sebagai pemenuhan atas syariat dan hakikat persembahan terbaik bagi Allah Azza wa Jalla.

dsc_0034_resizeSaat tiba giliranku, detak jantung yang tadinya tenang berubah menjadi agak cepat degupannya. Namun tekadku sudah bulat, kudatangi pak Sulis yang sedang mengasah pisau agar tetap tajam. Kambingku bernomor urut 38, berarti sudah 30 lebih hewan qurban yang sudah disembelih. Tak heran bila pak Sulis perlu meyakinkan dirinya agar pisau itu tetap setajam saat sembelihan yang pertama dilakukan.

‘Ini pengalaman saya yang pertama pak, nyembelih kambing qurban’ ujarku, seperti meminta permakluman kalau nanti aku kelihatan gugup.

‘InsyaAllah bisa pak, yang penting jangan ragu-ragu.’ jawabnya sembari menyerahkan pisau kepadaku.

Sang hewan qurban sudah dipegang mulut dan kakinya oleh para petugas. Aku meraba lehernya, mencari kerongkongan seperti yang kawan-kawan jamaah sarankan, agar memotong persis di kerongkongan supaya cepat memutus aliran darah dan nafasnya sehingga tidak terlalu menyiksa.

‘Bismillahi Allahu Akbar’ ucapku sambil memulai menekan pisau, mengiris bulu leher kambing yang cukup lebat itu. Dalam sekali hentakan, subhanallah, pisauku sudah memotong leher sebelah atasnya. Ternyata tidak sekeras yang aku kira, leher itu cukup lembut. Dan saat darahnya pun membasahi bumi, syariat pemotongan qurban itu pun telah terpenuhi.

‘Ditekan agak kebawah pak’ ujar pak Haji Entang, yang turut menemaniku. O, ya, aku sadar belum memotong kerongkongannya secara sempurna. Ku tekan agak kebawah pisau itu, memotong bagian bawah lehernya. Cipratan darah hewan itu yang mengalir deras ke bumi seiring dengan gerakan tubuh terakhirnya, melepas nyawanya berpisah dengan raga. Sempurnalah sudah ikhtiar kami berdua. Aku telah mengantarkannya menjadi hewan pilihan untuk menantiku di akhirat kelak.

Selesai menyembelih, aku bersihkan hiasan darah di pisau itu dengan mengusapnya ke bulu lehernya. Alhamdulillah, Allah mengijabah doaku, memberikanku kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan sesuatu yang sebelumnya sangat aku hindari. Terima kasih ya Allah, hari ini Anta berikan hamba sebuah pengalaman yang sangat berharga. Semoga diterima amal ibadah dan qurbanku, amin.

4 pemikiran pada “Kupotong Sendiri Qurbanku

  1. saya lelaki,
    .
    tapi ga’ berani liat kambing disembelih,
    .
    liat daging mentah saja ngeri,
    .
    apa lagi yang masih berbentuk hewan,
    .
    alhamdulillah bapak masih berani.

    seperti yang saya tulis di atas, saya pun dulunya tak berani melakukannya. namun karena tahu afdholnya adalah memotong sendiri, saya pun meminta kepada Allah untuk memberi saya kekuatan dan kemampuan.

    silakan dicoba pak tahun depan. sungguh, tidak berat ternyata kalau kita melakukannya hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s