Belanja Barokah

JATIBENING – Belanja, siapa coba yang dalam hidupnya belum pernah belanja, pasti menggelengkan kepala semua kan€? Apalagi untuk mahluk yang bernama perempuan, mungkin tidak sehari pun bisa lepas dari aktivitas yang satu ini. Bahkan banyak yang menjadikan belanja alias shopping ini sebagai hobbinya, sebagai pelipur lara kalau lagi jutek, stres, atau sebagai kegiatan memanjakan diri setelah capek kerja. Hmm, yang ini biasanya buat working woman nih€..🙂

Pokoknya perempuan memang identik dengan belanja, dan belanjanya perempuan biasanya lebih mementingkan keinginan, mode, prestise, image daripada belanja karena kebutuhan. Dimana ada kata S A L E disitu pun banyak perempuan€, hehehe, menjiwai banget ya? Pengalaman pribadi kaleeee€€€.. (untung ada si Abi yang jadi Polisi hihihi..)

Saat ini aku ingin membahas tentang tempat belanja kebutuhan rumah tangga, alias kebutuhan pokok seperti beras, gula, teh, susu, sabun, shampo dan lainnya. Dimana biasanya belanja? Yakin deh kalo polling jawabannya adalah€ Carrefour, Giant, Hypermart, Hero, Indomart, Alfamart, €.. eh sebentar, ada juga yang menjawab TIP TOP tuh€ (wah berarti rumahnya di sekitar Rawamangun nih€, hehehe..)

Pernahkah saat berbelanja kita berpikir siapa yang akan diuntungkan ketika kita belanja di tempat itu?

Alhamdulillah, beberapa tahun silam ada seorang ustadzah dalam kajian muslimah di kantor mengajak ibu-ibu yang hadir untuk berbelanja ke pasar tradional tidak hanya ke Mall. Mengapa? Karena insyaAllah, bila yang punya toko/warung itu seorang muslim yang membayar zakat, dengan zakatnya itu akan sampai ke tangan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Selain itu dengan belanja di pasar tradisional juga terjalin silaturahmi, ada ukhuwah€, yang tidak mungkin kita dapatkan ketika kita belanja di mall.

Dari kajian yang aku ikuti, bacaan yang kubaca, diskusi dengan teman-teman dan radio yang kudengar, semakin menguatkan azzamku untuk lebih selektif dalam berbelanja. Saat akan belanja aku mulai berpikir untuk lebih memberi keuntungan kepada saudara seiman/tetangga, tentu dengan tidak mengabaikan kualitas dan harga˜. Lebih memilih-milih dalam jual beli selain pertimbangan harga & kualitas juga kepada siapa kita belanja. Dan jika bukan muslim paling tidak dia bukan PMA (Perusahaan Milik Asing) apalagi asing yang afiliasinya Israel€€, uh€.. ditahan banget€€ dah!

Sebagai contoh, sejak rumah masih mengontrak di Pondok Bambu, kami selalu berbelanja kebutuhan rutin bulanan di TIP TOP Rawamangun yang notabene dimiliki oleh orang Islam dan selalu memperdengarkan adzan bila waktu sholat telah tiba. Supermarket ini juga memiliki musholla dan tempat wudhu yang baik. Alhamdulillah tidak lama kemudian TIPTOP pun buka di Pondok Bambu, jadi tidak perlu jauh-jauh lagi untuk berbelanja bulanan. Bahkan sampai pindah rumah di Jatibening pun kami tetap berbelanja disini.

Untungnya sejak awal akhir 2007 TIPTOP membuka cabang baru di Pondok Gede, jadi lebih dekat rumah. So sepertinya kok kemana-mana ngejar TIPTOP,  ya karena itulah satu-satunya supermarket di Jakarta dan sekitarnya yang kita tahu dimiliki orang muslim dan harganya juga miring. Kalau sehari-hari ada kekurangan dan di warung tetangga barang yang kita cari gak ada, yaaaa baru ke Indomaret deh€..🙂

Dari sebuah buku tentang keberhasilan bisnis muslimah, aku juga tahu kalau di Yogya pun ada supermarket sejenis yaitu Pamela, yang dipimpin oleh seorang ibu yang hebat. Beliau memulai bisnisnya dari sebuah warung kecil sampai menjadi supermarket, subhanallah.

Kemudian suatu saat sewaktu berkesempatan dinas ke Kuala Lumpur, ada sebuah kartun menggelitikku di sebuah harian setempat. Kartun itu menggambarkan seseorang yang menahan diri untuk tidak membeli produk-produk branded di Duty Free sebuah bandara, karena dia inget dengan Filistin€.. (Palestina gitu€ hehehe..)

Mungkin pengunjung blog ini bisa sharing tentang dimana berbelanja, atau kiat berbelanja agar terjalin ukhuwah dan mengundang barokah, monggo€€ disharing ya.

*Tulisan ini bukan iklan, dan penulis tidak ada hubungan apapun dengan Tiptop maupun Pamela*

4 pemikiran pada “Belanja Barokah

  1. menarik sekali ulasannya, bahkan hingga ke palestine. secara pribadi saya tidak suka belanja, apalagi kalau diajakin mamie ke pasar tradisional, mending nunggu di atas motor atau nongkrong di warung. tiptop yang di ciputat selalu ramai oleh pengunjung, saya tidak terpikir itu milik muslim, karena tidak pernah mengamati, namun memang banyak yang berjilbab menjadi penjaganya. untuk kebutuhan susu dan indomie, biasanya cari yang di sekitaran rumah, dan yang ada di sekitaran rumah adalah alfa, mau ga’ mau seminggu sekali ke sana.

    .

  2. 🙂 terima kasih sudah mampir
    Sekedar sharing, dan aku berharap dalam melakukan kegiatan apapun kita umat Islam selalu berpikir untuk membela/mencintai sesama muslim, bukankah kita Saudara?
    Kemarin saat kuliah dhuhur di masjid kantorku, Ust.Dr A.Samiun Jazuli, MA menyampaikan bahwa salah satu tanda benarnya keimanan kita adalah mahabbah (CMIIW), cinta sesama muslim.
    Yang terbayang olehku adalah ketika setiap kita selalu mengutamakan transaksi/muamalah dengan sesama muslim (dengan tidak melupakan profesionalitas lho yaaa….) maka para pengusaha muslim menjadi maju, kemudian zakat yang mereka bayar menjadi lebih besar, zakat menolong para fakir dst…dst…Sehingga secara tidak langsung mengurangi kemiskinan, ekonomi dari umat untuk umat gitu…… Jauh banget ya? Tapi logis kan?

    Oia, alfamart sekarang dimiliki carrefour, orang asing lagi deh yang untung🙂

    Semoga pengusaha muslim kita makin bertebaran, sehingga mudah dijangkau dan semakin sedikit alasan kita untuk tidak bermuamalah dengan sesama muslim.
    Amin

  3. Assalammualaikum Wr. Wb.
    Oooooo pantes ane belanja nya dianjurkan untuk pindah yah Yik… ok ok… ngerti sekarang… mulai bulan depan yaks… Trism ingpo nya bro…

    wa’alaikumussalam akhi,
    sama-sama bro. ini hanya sekedar memberikan saran, bagaimana kita berbelanja namun dapat memberi kebaikan selain bagi kita & keluarga juga untuk orang lain, misalnya kaum dhuafa. kok bisa?
    di tip-top, mereka punya program belanja sambil berinfaq yaitu bila kembalian belanjaan kita dibawah Rp 100, mereka akan menyumbangkannya ke badan amil zakat. ini tentu lebih bermanfaat dibanding kita mendapatkan kembalian permen misalnya. coba cek di http://tiptop.co.id/bsb.php

  4. Selama ini lagu untuk anak seakan-akan tenggelam di blantika musik Indonesia. Sebetulnya keadaan ini tidak adil bagi anak-anak. Mereka seharusnya diberikan banyak lagu untuk menjadi pilihan sesuai jiwa mereka. Selama ini mereka terpengaruh oleh lagu-lagu orang dewasa seperti lagu yang berlirik cinta, patah hati dan selingkuh. Semua itu tidak baik bagi perkembangan jiwa anak-anak. Ini adalah tanggung jawab moral bersama seperti pemerintah, dunia pendidikan, industri musik dan masyarakat untuk bersatu menjadikan generasi bangsa yang jauh lebih baik dan bermoral.

    Kunjungi : http://www.pasarxdami.blogspot.com

    lho, kok gak nyambung sama konten-nya ya mbak? tapi, tetap, jazakillah sudah mampir ya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s