Kebetulan yang Bukanlah Kebetulan

JATIBENING – Pagi kemarin saat sedang menuju tempat beraktifitas, telepon Utami berbunyi. Ternyata dari mbak/pengasuh anak-anak di rumah. Ia meminta maaf karena mas kawin/mahar yang aku serahkan saat menikahi Utami hampir 11 tahun yang lalu telah terjatuh dari tempatnya dan pecah kacanya. Sejenak aku marah, menanyakan kepadanya bagaimana bisa bingkai uang itu yang tergantung rapi selama ini kok bisa jatuh dan pecah. Karena Puji, nama pengasuh anak-anak itu, telah meminta maaf dan menyadari kesalahannya, akhirnya dengan perasaan sedikit kesal aku maafkan dan kututup telepon. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, diingatkan oleh Utami untuk mengucapkan kalimah istirja’ itu.

Mahar yang pecah..Sorenya, sesampai di rumah aku lihat mas kawin tersebut. Yah, benar, sudah berantakan uangnya. Jumlah uang sebesar Rp. 18.497 yang menyimbolkan tanggal pernikahan kami pada 18 April 1997 sudah berantakan tak karuan. Untungnya, kaca bingkai itu tidaklah pecah. Kaca itu masih sanggup menahan kepingan uang untuk tidak berserakan dan hilang.

Sesaat kemudian, Utami memanggil-manggil namaku. Ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan rupanya. Bergegas aku hampiri dan ia pun menunjukkan sebuah halaman pada majalah yang baru saja dibelinya di kantor. Majalah itu adalah majalah Ummi edisi spesial bulan Maret 2008 dan halaman yang ditunjukkannya Our Mahar @ Ummi Magazineadalah rubrik Bahasan Utama yang berjudul Mahar, Bukan Sekedar Cenderamata. Yang mengejutkan kami, ada foto bingkai mas kawin kami yang pecah tadi pagi sebagai foto utama tulisan itu, lengkap dengan alamat blog ini, Subhanallah.

Namun yang sedikit membuatku hampa adalah adanya tulisan yang berbunyi, ‘Apalagi cuma sekedar uang sejumlah 2222 (dengan makna simbolis). Ini sih main-main.‘ mengenai sah tidaknya mahar yang menyimbolkan sesuatu, karena mahar diharapkan tidak sebagai cenderamata atau tanda mata saja. Masya Allah, sepertinya Allah Azza wa Jalla sedang menunjukkan sesuatu kepadaku karena aku meyakini tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah ada yang mengatur dan sebagai manusia kita harus dapat melihat hikmah dari kejadian yang terjadi.

Teman di kantor yang aku ceritakan pun setuju dengan kebetulan yang jelas bukanlah kebetulan ini. Ia malah menyarankan untuk tidak lagi memajang mahar itu. ‘Allah tidak suka itu. Masih mending maharnya yang jatuh, kalau dinding rumahmu bagaimana?‘ ujarnya.

Aku pun dengan agak berat hati mengiyakannya, karena masih mencari maksud Allah dengan kejadian ini. Salah satu jalan untuk segera mendapatkan jawabannya adalah dengan memperbanyak istighfar, memohon ampun kepadaNya bila ada yang salah dari apa-apa tindakan yang tidak kami sadari.

Wallahua’lam bisshowab.

 

10 pemikiran pada “Kebetulan yang Bukanlah Kebetulan

  1. Jadi Ente manggil Ibunya anak-anak Ente dengan nama sebenarnya nya?
    Gak pakai penghormatan sebagaimana layaknya orang Jawa?
    Masya Alloh.

    gak lah..
    memanggil istri di depan anak2 pakai kata ‘ummi’, sebagaimana anak2 memanggil ibunya.

    waktu anak pertama (ingga) lahir, aku memanggil istriku dengan kata ‘ibu’. setelah si ingga bisa bicara, diganti mama. giliran yg kedua lahir jadi ummi. yg mengubah ya anak2 itu sendiri, hehehehe.. coba baca tulisan utami yang disini.

  2. hmm, begitu ya …

    ya begitulah bram.. kadang sesuatu dapat hadir tanpa kita tahu ada hikmah apa dibaliknya. thanks bro.

  3. yang penting bingkai perkawinannya ga pecah bahkan lebih kuat dari bingkai maharnya. sukses selalu mas dan mba!

    aduh, terima kasih sekali komentarnya, sangat menginspirasi! terima kasih ya.

  4. mas kawinnya lucu, bagus.
    sulit juga kan nyari uang pecahan seperti itu.
    kalo aku nanti apa ya? 😀

    terima kasih. untuk pecahan uang, karena utami sudah bekerja di bank indonesia, jadi bisa diminta pecahan yang paling kecil (1 & 5 rupiah). untuk mahar, biasanya seperangkat alat sholat dan al-quran, ditambah beberapa barang kebutuhan calon istri yang dimintanya sendiri secara khusus. tenang aja achoey, kalau sudah dekat hari-h biasanya muncul ide-ide untuk membeli/membuat barang agar dijadikan mahar.

  5. Salaam kenal,
    Iya benar Mas kawin sebenarnya salah satu fungsinya untuk “tabungan” sang istri yang hak miliknya adalah hak milik penuh sang istri, jaga2 kalo sewaktu2 lasamahalla terjadi sesuatu dengan suami, jadi kalo pecah bingkainya… mungkin juga minta ditambah mas kawinnya 😉

    hahaha, terima kasih um atas komentarnya. biar nanti yang bersangkutan yang memutuskan setelah membaca komentar ini, apakah benar minta ditambah mas kawinnya, hehehe.

  6. asyik jg maharnya, cm nilainya jd dikit amat yah, heheh bagus siy tidak memberatkan calon suami.

    terima kasih ven komentarnya. benar, uang senilai 18.497 adalah salah satu dari mahar yang diberikan kepada istri. tentu tidak hanya itu saja, masih ada beberapa jenis barang seperti seperangkat alat sholat dan al quran. namun khusus untuk bingkai uang tersebut, andai saja uang saya cukup saya akan bentuk senilai 180.497. namun untuk 11 tahun yang lalu, saya benar-benar tidak mempunyai uang sebesar itu, maka jadilah bulan april dilambangkan dengan satu digit saja, hehehe..

    @achoey
    kok jd kang achoey yg mikirin mo ngasih mahar apa, yg harusnya mikirin ya calon isteri sampeyan dong, kan dia yg paling berhak atas mahar. Jadi calon isteri kang achoey yg mikir “mo minta apa ya ama calon suami” :mrgreen:

  7. pak, sy post coment di renovasi rumah, mohon reply nya
    ya ?

    terima kasih mas wawan, setiap komentar dari halaman manapun blog ini insyaAllah akan selalu masuk ke inbox saya. dan seperti jawaban di pertanyaan anda mengenai pemborong yang amanah di kota depok, mohon maaf sekali saya tidak mempunyai kenalan di sana.

    terima kasih sudah mampir ya.

  8. Assalamualikum..

    Terima kasih sudah menulis posting ini, merinding saya bacanya, terus terang mahar pernikahan saya pun tadinya dipajang di kamar tidur kami, tapi alhamdulillah sekarang sudah digunakan untuk membantu membayar DP rumah jadi sekarang lebih bermakna dari sekedar cinderamata, awalnya saya kurang mengerti kalau mahar itu harus memiliki nilai guna, alhamdulillah setelah membaca posting ini saya menjadi mengerti. Terima kasih lagi ya 🙂

    wa’alaikumussalam,

    selamat atas pernikahannya, juga keputusan mempergunakan mahar sebagai DP rumah. semoga Allah SWT menjadikan rumah tangga kalian rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, amin..

  9. suami saya memberikan mahar berupa sepasang cincin kawin senilai 10 gram, dipegang suami saya 7 gram, (tdk dipakai krn laki2 ktnya tdk boleh pakai emas)
    dipakai saya 3 gram, krn tdk pernah dipakai hy disimpan saja cincin kawin yg dipegan suami, hilang digondol maling yg datang kerumah kami.
    dan setelah saya membaca postingan ini sy jd mengerti terimakasih banyak, mudah2an cincin 7 berguna untuk org yg mengambilnya.

    amin Allahumma amin. benar, semoga kita senantiasa dapat menarik hikmah dari ujian yang Allah berikan. insyaAllah keikhlasan ibu dan suami menjadi amal dan dapat menjadi kafarat dari kewajiban bersedekah yang mungkin terabaikan selama ini. semoga yang mengambilnya diampuni oleh Allah SWT. innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s