Jabal Nur

Jabal Noor dari Google EarthJATIBENING – Pas lagi iseng ‘browsing’ isi hard disk, baru sadar ada sekumpulan klip video hasil capture dari kamera digital yang hilang di Mekkah sewaktu menjalankan ibadah haji 1426H yang lalu belum sempat dishare kepada publik. Klip video itu adalah rekaman perjalanan pendakian bukit batu/jabal Nur (الجبل النور/bukit cahaya) setinggi 550m untuk mengunjungi gua Hira, tempat dimana Rasulullah SAW mendapatkan wahyu yang pertama.

Awal cerita pendakian itu bermula saat jamaah haji diajak KBIH Daarut Tauhiid untuk mengikuti city tour mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mekkah dan sekitarnya, seperti ke Gua Tsur, Mina, Jabal Rahmah di Arafah dan Jabal Nur sebelum puncak ibadah haji tiba. Sesampainya di Jabal Nur, ternyata bus hanya berhenti sejenak dan guide menunjukkan bukit berbatu ini dari bawah. Jadi, jamaah tidak diajak untuk menaiki bukit itu.

Sesampainya di makhtab, kawan sekamar, H Edward, mengajakku untuk melakukan pendakian ke puncak Jabal Nur nanti setelah puncak ibadah haji selesai.

‘Supaya lengkap akh, kita harus mengunjungi gua tempat Rasulullah menerima wahyu’ ujarnya.
‘Insya Allah’ jawabku, sambil membayangkan betapa tinggi dan terjalnya perjalanan itu nantinya.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Tanggal 19 Januari 2006 kami berdua pun berangkat menuju tempat pendakian Jabal Nur. Dari Haffair, kami naik taksi SR 2 untuk sampai ke Masjidil Haram. Dari situ kami mencari informasi mengenai letak Jabal Nur ini. Dan, dengan taksi seharga 15 riyal kami pun sampai di tempat tujuan.


Rekaman Pendakian Jabal Nur

Dari bawah kutengadahkan kepala, melihat ke puncak bukit batu itu. Subhanallah, deretan manusia, umumnya didominasi pakaian warna putih, tampak menyemut dan beriringan mendaki melewati jalan setapak yang berliku-liku, berkelok-kelok. Belum sampai seperempat pendakian, aku temui seorang mayat yang telah ditutupi dengan koran. Aku berusaha bertanya namun tidak ada seorang pun yang tahu siapa dia dan apa penyebab kematiannya. Kami pun meninggalkan mayat itu setelah mendoakannya sebentar.

Di sepanjang jalur pendakian, banyak sekali kita jumpai para pengemis. Rata-rata pengemis ini cacat, baik tangan maupun kakinya. Entah, mungkin akibat hukuman rajam yang mereka terima. Di beberapa tempat atau stop point, banyak terdapat warung-warung yang menjajakan aneka barang, tidak hanya makanan dan minuman tapi juga cincin, tasbih, minyak wangi sampai tongkat yang akhirnya aku beli seharga 2 riyal untuk memudahkan pendakian, hehehe. Kata Edward, layaknya tongkat Nabi Musa 🙂

Ada yang membuatku sedikit surprise. Mereka adalah ibu-ibu jamaah dari Turki, yang rata-rata berbadan subur dan tak pernah ingin terpisah dari rombongannya, begitu kuat mendaki. Mereka begitu bersemangat dan saling membantu satu sama lain. Bila kawannya kelelahan, satu rombongan pun berhenti untuk memberi kesempatan beristirahat. Aku dan Edward butuh dua kali untuk beristirahat. Kami membawa bekal dari makhtab berupa roti dan air zamzam. Itu benar-benar memudahkan perjalanan dan mengembalikan stamina yang hilang.

Dari tempat istirahat, terlihat pemandangan kota Mekkah di kejauhan, benar-benar indah. Tak terbayangkan betapa berat Rasulullah naik turun bukit ini ke Mekkah pulang pergi seorang diri dahulu. Setelah melakukan pendakian selama hampir dua jam, tiba lah kami di puncak Jabal Nur.

Menurut sejarah, Rasulullah memang memilih tempat ini karena beliau tetap dapat melihat Ka’bah dari luar Gua Hira. Saat ini Masjidil Haram pun hanya terlihat sedikit saja karena terhalang oleh bangunan hotel raksasa di depannya yang dibangun pemerintah Arab Saudi 😦 Di sekitar puncak bukit ini juga terdapat tempat sholat yang beralaskan batu datar, menghadap langsung ke Ka’bah. Kami pun menyempatkan diri sholat Dhuha 2 rakaat di tempat ini.

Sedangkan letak gua Hira, bukanlah di puncak bukit namun sedikit menurun dan berada di ujung bukit batu ini. Untuk dapat masuk ke gua Hira butuh perjuangan karena gua itu hanya dapat dimasuki oleh dua orang dewasa. Itu pun harus bergantian dengan segera karena puluhan orang yang menyemut di pintu gua membuat suasana sedikit riuh sehingga keinginan untuk menunaikan sholat dua rakaat di gua itu hampir mustahil dilakukan pada musim haji seperti ini.

Edward yang mencoba memasukinya, setelah sekitar 15 menit berjuang, akhirnya pun menyerah. Uniknya, disekitar gua banyak gua-gua kecil yang dijadikan obyek foto oleh sebagian penduduk. Oleh mereka dibuat seakan-akan itu adalah gua Hira agar menarik pengunjung untuk berfoto di dalamnya.

Berada di tempat tinggi seperti ini secara otomatis menumbuhkembangkan rasa cinta kepada Rasulullah. Membayangkan perjuangan beliau menaiki bukit terjal ini, lalu saat Jibril a.s menemuinya dan Rasul berlari menuruni bukit ini dengan ketakutan lalu kembali lagi untuk menerima wahyu Allah SWT, benar-benar sebuah ujian dan pertolongan Allah semata.

Setelah dirasa cukup menikmati segala keindahan dan keramaian di puncak bukit ini, kami pun beranjak pulang. Menuruni bukit tidak berarti lebih mudah, justru beberapa kali kaki ini sering terpeleset karena ada beberapa tempat yang cukup licin dan curam. Semakin siang juga semakin banyak pengunjung yang mendaki bukit ini. Kami bersyukur memulai pendakian saat masih pagi sehingga saat terik seperti ini dengan sisa tenaga yang ada kami pun sudah sampai di parkiran mobil.

Alhamdulillah, Allah mengijinkan kami untuk dapat menziarahi tempat bersejarah ini. Meskipun demikian, saat sampai makhtab kami pun ‘diomeli’ kawan-kawan jamaah yang lain karena ‘pergi ke sana kok gak ngajak-ngajak!‘ kata mereka…

6 pemikiran pada “Jabal Nur

  1. Sy jabal nur, sy ingin kesana……

    doakan yach, trims.

    YAKUSA
    YAKIN USAHA SAMPAI

    insyaAllah akhi. berdoa, yakin, berusaha, insyaAllah sampai.
    syukron.

  2. berarti letak gua hira jauh juga ya.
    saya mau tuh ke sana.
    sekalian pergi haji .
    doa kan saya ya supaya bisa mendapat rezeki lebih yang. akan saya gunakan untuk pergi haji.
    dan jika masih banyak sisa nya akan saya shodakho kan.
    dan saya wakafkan.
    dan bila nanti terkabul doakan saya supaya saya kuat. mendaki nya .
    amiiiiennnnn,……………

    amin ya Robbalalamin..
    subhanallah, semoga Allah Azza wa Jalla mendengar dan mengabulkan doa ukhti.
    kalau sudah sampai di tanah suci, sempatkan diri mengunjungi tempat2 Rasulullah, salah satunya gua Hira ini.

    jazakallah khair.

  3. Mudah mudahan kita semua nya bisa mengunjungi tempat tempat bersejarah tersebut kerana mengenangkan betapa besar nya pengorbanan Penghulu kita Rasulullah s.a.w.yang mana telah bersinasrnya seluroh pelusok dunia ini dengan cahaya yang di bekalkan kepada kita semua!Kita hanya dapat berdoa saja kepada ALLah Taala supaya memanjangkan umur kita,di murahkan rezeki dan memberkati kesihatan kita kerana doa doa yang begini selalu nya di kabulkan oleh Allah Taala kerana berunsur kebaikan.Ingat lah bahawa Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.Jangan lupa seperkara lagi,jika kita di takdirkan dapat ke sana nanti insyaallah, jangan lepaskan peluang untuk menzizrahi makam Nabi kita di Madinah kerana Rasulullah sangat sangat berpesan kepada kita sebagai umat baginda supaya menziarahi makam Baginda sebagai membuktikan betapa kasih dan sayang nya kita kepada Baginda Rasulullah s.a.w.

    amin yaa Rabbal alamin. jazakallah khair tausiyahnya. semoga kita dapat dijamu Allah ke baitullah, amin.

  4. Tolong doa ya akhi… Ana mo bnget ziarah ketempat nabi.. Mudah2n allah mengabul kan nya.,amien..
    Sukran

    amin.. insyaAllah mustajib du’a antum..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s