Memanfaatkan Ruksyah

JAKARTA – Perjalanan satu pekan ke Nanggroe Aceh Darussalam yang lalu meninggalkan satu kenangan tersendiri. Bermula dari pengajian rutin tiap Ahad di Musholla Baiturrahim sepekan sebelumnya, Ustadz Syahruddin mengingatkan kembali satu sunnah Rasulullah yang seharusnya dimanfaatkan bagi seorang muslim yang melakukan perjalanan (safar).

Bukannya aku tidak mengetahui sunnah itu, namun sebelum memanfaatkan secara maksimal ‘fasilitas keringanan’ atau sering disebut ruksyah, hampir tidak pernah aku memanfaatkannya. Yang sering aku manfaatkan adalah keringanan saat sedang dalam perjalanan, yaitu saat kita sedang berkendara menuju tempat tujuan. Bila telah tiba di tempat tujuan, keringanan yang seharusnya membantu kita memaksimalkan ibadah dan pekerjaan, malah sengaja tidak dimanfaatkan. Untuk kali pertama, sepekan safar di provinsi ini aku memanfaatkan ruksyah ini secara keseluruhan.

Aku ingin memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas itu karena memang tuntutan pekerjaan yang bisa membuatku harus hadir dalam satu hari penuh, dari pagi sampai malam yang kadang-kadang sering membuatku sulit untuk sholat di awal waktu. Keadaan di lapangan pun yang kadang menemui kesulitan mencari air wudhu yang bersih, juga seakan mengamini untuk mempraktekkan keringanan ini.

Bentuk keringanan yang dipraktekkan disini adalah menjama’ atau menggabungkan waktu sholat namun tidak mengurangi jumlah rakaatnya. Pun hanya sholat zhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya yang boleh dijama’, sebagaimana satu hadist dari Ibnu Abbas r.a. yang berkata, “Rasulullah menjama’ antara shalat zhuhur dan ashar apabila berada di dalam perjalanan (bepergian), dan menjama’ antara maghrib dan isya.” Sedangkan sholat subuh tidak boleh di jama’ dan harus tetap dilakukan sebagaimana biasanya.

Jenis Sholat Jama’

Menjama’ sholat ada dua. Yang pertama jama’ taqdim, yaitu menggabungkan dua sholat wajib di waktu sholat yang pertama, dan jama’ takhir adalah menggabungkan dua sholat wajib di waktu sholat yang kedua. Contoh jama’ taqdim adalah melaksanakan sholat dzuhur dan ashar di waktu dzuhur, sholat maghrib dan isya di waktu maghrib.

Sedangkan melaksanakan sholat maghrib dan isya di waktu isya dan sholat dzuhur dan ashar di waktu ashar disebut jama’ ta’khir. Kadang aku pun ikut sholat fardhu berjamaah di masjid/musholla (berimam pada orang yang mukim) untuk mendapati keutamaan sholat berjamaahnya. Jadi saat sholat berjamaah itu telah selesai, aku berdiri lagi untuk menjama’ nya dengan sholat fardhu berikutnya.

Kaitannya dengan sholat Jum’at

Sholat Jumat di Masjid Sabang, LamnoBagaimana dengan sholat Jumat? Menurut ustadz Syahruddin, kita tidak dapat menjama’ sholat Ashar dengan sholat Jum’at karena memang tidak ada riwayat Rasulullah melakukannya. Terlebih, ada sekitar 20 perbedaan antara sholat Dzuhur dan sholat Jum’at sehingga tidak bisa dikatakan bahwa sholat Jum’at itu sama dengan sholat Dzuhur maka ia boleh di jama’ dengan sholat Ashar. Pengalaman saya kemarin, saya tetap mengikuti sholat Jum’at seperti biasa lalu melakukan sholat Ashar pada saat waktu Ashar telah tiba.

Kaitannya dengan Sholat Sunnah

Untuk sholat sunnah rawatib (2 rakaat sebelum sholat Subuh, 2 rakaat sebelum dan sesudah sholat Dzuhur, 2 rakaat setelah sholat Maghrib dan 2 rakaat setelah sholat Isya), Rasulullah mencontohkan untuk tidak melakukannya bila kita sedang dalam perjalanan/bepergian. Namun ada beberapa sholat Sunnah yang boleh dilakukan, misalnya shalat witir atau Tahajjud, karena Rasulullah SAW selalu melakukannya baik dalam keadaan musafir atau pun mukim. Sholat sunah lain yang ada penyebabnya seperti sholat tahiyatul masjid, sholat gerhana, dan sholat jenazah pun tetap boleh kita lakukan.

Pendapat Jumhur Ulama

Ada pendapat dari mayoritas ulama yang mengatakan bila belum 4 hari kita berada di sebuah kota/tempat di luar tempat tinggal kita, maka adalah lebih utama untuk melakukan sholat Qashar (meringkas) dibandingkan dengan menjama’. Maksudnya, kita tetap melakukan sholat di lima waktu namun kita ringkas menjadi 2 rakaat setiap sholatnya. Persis seperti saat berhaji dan berada di Mina, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ketika haji Wada’. Rasulullah tinggal selama empat hari di Mekkah dengan menjama’ dan meng-qashar shalatnya.

Demikianlah, betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita suatu agama yang sempurna. Di dalam Islam yang banyak memberikan keringanan bagi kaum musafir, dhuafa dan yang uzur, kita bisa mendapatkan banyak keuntungan dengan menjama’ sholat saat kita sedang tugas bepergian ke luar kota. Kewajiban akhirat seutuhnya tetap kita laksanakan dan kewajiban dunia bisa kita kerjakan dengan lebih optimal dan efisien.Wallahua’lam bisshowab.

Satu pemikiran pada “Memanfaatkan Ruksyah

  1. Assalamualaikum pak oyi..

    Syukron katsiron.. atas info nya saat di aceh
    Alhamdulillah selama disana (setelah dapet info ini)
    saya mengerjakan sunnah tersebut.

    Alhamdulillah, sholat dapat dilakukan tepat waktu.
    Terutama sholat ashar dan maghrib, yang memang agak sulit untuk sholat di awal waktu.
    Dan saya lebih tenang mengerjakan pekerjaan, karena sudah sholat.

    n_n

    wa’alaikumussalam ibu iis,
    sama-sama, kewajiban sesama muslim adalah saling nasehat menasehati dalam kebaikan. syukur alhamdulillah bila kemarin langsung dipraktekkan, jadi bila ada assignment ke aceh lagi sudah tidak bingung ya, hehehe..

    selamat datang kembali di ibukota & terima kasih komentarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s