Kiat Meninggalkan Anak untuk Pergi Berhaji

JATIBENING – Meninggalkan anak-anak untuk pergi dalam waktu yang lama tentu tidak mudah, meskipun kepergian itu untuk memenuhi panggilan dari Sang Rabbal ‘alamin.

Ingga Najah di Tahun 2005Pada saat kami berhaji, si Ingga hampir 8 berusia tahun sementara si Najah masih 3,5 tahun. Sejak kita mendapat kabar dari Mbak Evelin dari KBIH Daarut Tauhiid bahwa kita mendapat kuota, secara perlahan kita mulai mengkondisikan anak-anak bahwa mama & bapak-nya (itu panggilan kita sebelum berhaji, yang secara sepihak lalu diganti oleh si Najah menjadi Ummi & Abi, dengan alasan karena kita sudah berhaji, Subhanallah anakku yang satu ini memang omongannya sering membuat kaget) akan meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama.

Karena anak-anak bersekolah di SDIT dan TKIT (keduanya di Raudhatul Muttaqin, Jatimakmur, Pondok Gede) mereka mendapat pengetahuan yang cukup tentang haji dari guru-guru di sekolahnya, sehingga kala kita sampaikan bahwa kepergian ummi & abi-nya untuk memenuhi panggilan-Nya, mereka tidak keberatan. Ingga si sulung mengerti bahwa kami pergi untuk menunaikan salah satu rukun Islam. Sementara Najah, jika ada yang bertanya padanya ‘Najah nanti sama siapa kalo mama pergi haji?’. Dengan mantap dia akan menjawab ‘’kan dijaga sama Allah’. Bahkan Najah juga membawa satu hafalan hadist dari gurunya yang kebetulan sangat pas untuk bapaknya yaitu ‘innamal a’malu bin niat’ tentu saja bersama artinya yang diteriakkan keras-keras layaknya kalau menghafalkan di sekolah ‘sesungguhnya amal itu tergantung niat’. Masya Allah, sebuah peringatan bagi kami untuk meluruskan niat haji kita hanya karena Allah semata.

Saat itu kebetulan Sofi, adik bungsuku baru lulus dan memutuskan untuk tinggal bersama kami sambil mencari kerja di Jakarta, sehingga dialah yang akan menjaga buah hati kami bersama 2 orang ‘mbak’ selama kami berhaji. Sudah barang tentu adik-adik yang lain yang sudah menikah telah berkomitmen untuk sering-sering menengok ponakannya. Namun hal ini tentu belum cukup melegakan kami, sehingga kamipun menjalankan saran dari Pak Sarwono rekan di kantorku, yaitu dengan memberi bingkisan untuk anak-anak setiap akhir pekan.

Bingkisan itu kami buat seolah-olah kami kirim dari tanah suci.

Dan begitulah, kami pun secara sembunyi-sembunyi berbelanja barang-barang yang diimpikan anak-anak. O, ya sebelumnya kami minta mereka membuat ‘wish list’. Waktu itu kami berbelanja di Asemka, daerah yang menyediakan pilihan mainan murah beraneka ragam plus buku-buku di Gunung Agung Kwitang, khususnya untuk Ingga yang suka membaca. Benda-benda itu kami bungkus menjadi 7 paket, karena kami pergi selama hampir 7 pekan. Alhamdulillah ada Pak Hasan, tetangga yang sudah seperti saudara, yang menolong kami untuk menyimpan dan mengirimkannya kepada anak-anak setiap akhir pekan. Tentu dalam bungkusan tertera alamat dan sebagainya seperti layaknya paket pos.

Setelah beberapa pekan berjalan Ingga sempat bertanya kepada Bu Hasan, ‘Kok paketnya dikirim ke rumah ibu Hasan, padahal kan udah ada alamatnya?‘. Untung Ibu Hasan sigap menjawab, bahwa Pak Hasan bekerja di perusahaan pengiriman paket itu jadi sekalian dibawakan, hehehe, memang tidak baik ya berbohong itu. Tapi ini untuk kebaikan, semoga Allah SWT mengampuni.

Anak-anak sangat senang menunggu akhir pekan, menunggu datangnya hadiah. Karena setiap pekan mereka punya mainan baru, dan sibuk memainkannya selama satu pekan berikutnya. Harapan kami saat itu tentunya agar adik dan pembantu yang menjaga anak-anak tidak mengalami kesulitan selama kami tinggalkan. Memang ini hanya salah satu cara tetap membuat nyaman dan senang anak-anak di saat ditinggalkan untuk jangka waktu yang lama. Bagi kami ini cara yang efektif. Alhamdulillah, selama kami pergi anak-anak baik-baik saja, Allah menjaganya melalui tangan adik-adik, pembantu, guru, tetangga dan lainnya.

Sudah barang tentu doa selalu kita panjatkan agar Allah menjaga anak-anak dengan sebaik-baiknya penjagaan. Selama di tanah suci kami juga jarang menelpon, prinsipnya ‘no news is good news’, karena jika menelpon aku jadi menangis dan terus-terusan ingat, tentunya ini juga berpengaruh pada anak-anak. Sehingga jika datang rasa kangen, segera saja curhat pada Allah.

Mungkin pengalaman ini bermanfaat juga buat ukhti/akhi yang akan pergi haji dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil.

6 pemikiran pada “Kiat Meninggalkan Anak untuk Pergi Berhaji

  1. Kiatnya Bagus Ustad

    Doa’in ana cepat nyusul bisa naik haji

    Amiin

    terima kasih akhi, hanya saja saya belum mampu menjadi ustadz, hehehe. tulisan itu yang menulis istri ana.
    semoga doa antum diijabah Allah SWT, amiin..

  2. subhanallah, seneng ya kalau punya anak yang qurrota ‘ayun.
    btw, boleh ngga minta foto2ny waktu haji (cuma pengen tau aja atmosfer haji di Mekkah dan tempat2 bersejarah di Mekkah). wassalam🙂

    wa’alaikumussalam,
    wah, terima kasih pujiannya. soal foto, ada di link flicker di sisi kanan blog ini, antum bisa coba klik salah satu foto untuk melihat koleksi foto saat kami berhaji dulu. jazakallah kunjungannya.

  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    salam kenal..semoga Allah SWT berkenan memberikan kesempatan yang sama seperti Abi dan Ummi…dan memberikan kami karunia anak2 generasi Qur’ani spt Ingga dan Najah..aamiin…

    Wa’alaikumsalam Wr Wb
    Jazakillah udah mampir, 🙂
    semoga Allah menjadikan anak-anak kita generasi Rabbani yang menjadikan
    Allah Ghayatuna, Muhammad SAW Qudwatuna, Al-Qur’an Dusturuna, yang
    senantiasa berjihad di jalan-Nya Amin Ya Rabbal ‘alamin

  4. kaif haluk akhi dan ukhti…
    kumaha wartosna…
    ana fikir, kang oyi berhaji lagi.
    ini cerita waktu berhaji kemarin ya.
    permisi kang.

    halo kang danu.. iya benar, karena telah memasuki musim haji, semangat berhaji jadi timbul kembali. untuk mengobatinya, salah satu caranya adalah mengingat-ingat kembali kenangan berhaji di masa lalu. semoga Allah Azza Wa Jalla berkenan menghadirkan kita kembali ke tanah suci. syukron kang!

  5. Ya Allah semoga Engkau senantiasa memberkahi dan memberikan rahmat dan Hidayah pada sahabat saya yang memberikan media ini,
    Terima kasih sahabatku….
    gambar-gambar tanah haram sangat berguna sekali pada saudara-saudara yang akan berangkat haji

    salam _ roisul falah Jepara

    Subhanallah, jazakallah doanya akhi, semoga Allah pun memberikan rahmat dan hidayahNya pada antum sekeluarga, amin.
    wih, Jepara ya? Tahun 1994 dulu saya KKN di desa Tunggul Pandean, Jepara. Daerah yang kering dan tandus namun semangat keislaman warganya masih selalu tersimpan di hati ini. Wassalam!

  6. good posting, doain aku bisa cepet nyusul….dan memberi pengertia ke istriku kalau tidak masalah meninggalkan anak yang masih kecil kecil ke tanah suci.

    terima kasih akhi. posting itu tulisan istri ana.
    memang untuk melihat permasalahan anak-anak mungkin penulisnya lebih baik dari sudut pandang ibu ya, karena bagaimanapun anak-anak terutama balita cenderung lebih dekat ke umminya.

    semoga Allah mendengar dan mengijabah doa antum, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s