Dari Perjalanan ke Pantai Timur dan Barat NAD

Rute Aceh via GarminQueACEH – Usai sudah kunjungan ke empat kabupaten dan kota hari Jumat yang lalu. Tugas dari kantor untuk mentraining, memantau dan mendampingi penggunaan perangkat lunak MobilePAS di empat Kabupaten Kota (Banda Aceh, Kab. Pidie, Kab. Bireuen dan Kab. Aceh Jaya) selesai seperti jadwal yang telah direncanakan.

Minggu pertama kami ke pesisir pantai Timur NAD. Kota pertama adalah ke Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie. Di tempat ini kami menyiapkan 20 komputer untuk keperluan pemasukan data. Satu tim ditinggal di Sigli, kamipun beranjak ke Kabupaten Bireuen. Disini hanya 5 komputer yang diinstal karena kantor Dinas di Bireuen kekurangan tenaga operator entry. Hanya semalam di Bireuen, kami pun kembali lagi ke Sigli.

Minggu berikutnya, perjalanan panjang menanti. Seharusnya, dari Banda Aceh menuju ibukota Aceh Jaya, Calang, cukup menyusuri pantai Barat NAD. Namun karena banyak jalan yang rusak dan ancaman banjir, ‘trayek ‘ pun dialihkan melewati Sigli – Meulaboh. Itu berarti kami harus menempuh perjalanan yang memutar. Tak apa, karena menurut Bang Jufri, sopir yang setia mendampingi perjalanan kami kali ini, perjalanan menuju Meulaboh akan melewati hutan dan pegunungan sebelum turun ke pesisir pantai. Awesome!

Dari Sigli, kami melewati kota Tangse, Geumpang dan tiba di pemberhentian di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Kami berhenti di Kubu Aneuk Manyak, -berarti kuburan anak kecil- sebuah kuburan yang dikeramatkan oleh penduduk Geumpang. Indahnya Sunset di Pantai Barat NADCerita lengkap soal Kubu Aneuk Manyak dapat dibaca di dokumen ini. Dokumen yang aku tulis ulang dari keterangan yang dipampang di dinding Musholla di dekat kuburan itu, cukup menarik untuk diketahui karena menceritakan asal-muasal kuburan ini.

Setelah pekerjaan di Calang selesai, kami pun pulang ke Banda Aceh. Kali ini perjalanan diputuskan melewati Pantai Barat NAD. Pemandangan pantai dan jalanan yang hancur diterjang tsunami 2004 masih banyak terlihat. Pohon-pohon kelapa yang hanya tinggal batangnya konon menunjukkan tingginya gelombang raksasa itu.

Bukti lain keganasan tsunami juga masih ada. Salah satunya di Lamno, saat kami harus menggunakan ‘rakit’ untuk menyeberangkan mobil di sungai karena jembatan yang menghubungkan daratan terputus dan masih dalam perbaikan. Pemandangan pantai dari dataran yang tinggi membuat pemandangan sangat indah. Sayangnya, kami melewati tempat itu saat malam hari, namun dari sedikit cahaya bulan kita dapat melihat jelas garis pantai dan deburan ombaknya.

Rakit LamnoSetelah menyusuri pantai Timur dan Barat, tibalah aku pada satu kesimpulan. Betapa keadaan di Pantai Barat Nanggroe Aceh Darussalam ini masih begitu memprihatinkan dibanding dengan keadaan di Pantai Timur. Memang pantai Barat adalah daerah yang dekat dengan pusat gempa dan termasuk yang paling parah ditimpa tsunami, namun 24 Desember esok sudah tiga tahun bencana itu terjadi. Sungguh sangat disayangkan bila jalan negara dari Banda Aceh ke Calang saja memakan waktu berjam-jam dan melewati banyak rintangan.

Semoga keadaan ini dapat segera teratasi, terutama setelah terpilihnya Gubernur Nanggroe yang baru, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s