Menyikapi Perbedaan Idul Fitri 1428

Ketupat LebaranPURWOKERTO – Sepertinya Idul Fitri 1428H akan berbeda penetapan tanggal hijriahnya di Indonesia. Tulisan ini tidak akan mengupas mengenai metode-metode yang dipakai oleh dua ormas yang berbeda karena memang ilmu saya yang tidak memadai.

Seminggu sebelum Idul Fitri, saya terlibat pembicaraan yang lumayan seru dengan seorang jamaah Musholla di tempat kami biasa melakukan ibadah. Beliau ini fans-nya Muhammadiyah, yang menetapkan 1 Syawal jauh-jauh hari sebelum Ramadhan 1428 ini berakhir. Beliau pun sudah yakin bahwa Lebaran tahun ini memang jatuh pada tanggal 12 Oktober. Yang disayangkan, beliau cenderung menyalahkan saat saya menjawab bahwa karena saya bukanlah orang Muhammadiyah atau NU maka saya hanya mengikuti ulil amri atau umara yang saya anut, yaitu pemerintah. Bila Pemerintah menetapkan lebaran hari Sabtu, saya pun ikut dan insya Allah tidak ada dosa bagi seorang makmum bila imamnya melakukan kesalahan.

Beliau berkeyakinan bahwa adalah suatu kesalahan untuk menjadi makmum dari imam yang korup, yang tidak bisa mengayomi rakyat dan kebusukan-kebusukan lain yang disebutnya. Imam seperti itu tidak patut untuk diikuti fatwa atau perintahnya, karena cenderung merugikan rakyatnya. Hmm, ada benarnya, tapi bisa apa kita sebagai umat?

Sebagai contoh saat malam Jumat ini di lingkungan rumah mertua di Purwokerto. Kami bersiap-siap di musholla untuk menunaikan sholat Maghrib dan malam itu sudah terdengar takbir pertanda esok adalah Hari Raya Idul Fitri. Selesai sholat Maghrib, kami pun mendengarkan pengumuman pemerintah di televisi. Diputuskan 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu, berarti benar, terjadi perbedaan penetapan Hari Idul Fitri. Jadilah kami melakukan shalat Isya dan Tarawih ditengah-tengah berkumandangnya takbir di sekeliling musholla. Betapa suatu hal yang seharusnya dapat dihindari bila penetapan tanggal 1 Syawal hanya berasal pada 1 sumber, yakni Pemerintah.

Namun hal itu tidak semudah membalikkan tangan. Nampaknya di negeri ini sudah terjadi tradisi bahwa ormas-ormas Islam yang banyak pengikut setianya dan menjadi umara bagi umatnya, berhak menentukan sendiri tanggal 1 Syawal itu. Tidak hanya 1 Syawal, 1 Ramadhan dan 1 Dzulhijjah pun dapat mereka tentukan sendiri dengan dalih memiliki cara penghitungan yang berbeda dari ormas lainnya.

Kalau sudah begini, kita sebagai umat bisa menjadi pelanduk yang mati di tengah-tengah bertarungnya para gajah. Bila di kota besar tidak terasa terjadinya friksi, di sini, di kota-kota kecil atau bahkan desa, para akar rumput sudah seperti menabuh genderang perang. Takbir yang berkumandang di tengah shalat Tarawih dan sholat Idul Fitri disaat yang lain terlelap sehabis sahur, benar-benar kasat mata terjadi.

Syukurlah di lingkungan keluarga besar Utami yang memang terbagi dua sejak dulu dimana umat Muhammadiyah dan NU secara tradisionil menurun ke anak cucunya, tidak menjadikan perkara ini membesar. Masing-masing menahan diri dan bila terjadi perselisihan tanggal 1 Syawal seperti ini, disepakai Halal bihalal yang menahun diselenggarakan untuk saling memaaf-maafkan, diadakan pada hari ketiga Idul Fitri terhitung dari hari pertama shalat Idul Fitri diadakan.

Semoga suatu saat bangsa ini dapat menetapkan jatuhnya tanggal 1 Syawal dari satu sumber saja dan para ulama dapat mencari jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan tahunan ini dengan rela melepas ego masing-masing untuk kesatuan umat, amin.

Satu pemikiran pada “Menyikapi Perbedaan Idul Fitri 1428

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s