Satu Pilar di Masjidil Haram

JATIBENING – Hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2007 kemarin bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1428H, dimana kaum Muslimin memperingatinya sebagai hari Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Bukan Isra Mi’rajnya yang hendak ditulis disini, namun ada sesuatu hal yang membuat kami teringat saat menunaikan ibadah haji di tahun 1426H lalu.

denah-masjidil-haram.pngDi Masjidil Haram yang begitu banyak terdapat pilar, ada satu pilar yang mengusik perhatian kami. Selain selalu dijaga oleh seorang ashykar, hanya mayoritas jamaah haji dari India (dan mungkin daerah sekitarnya) yang selalu mengerumuni pilar itu. Letak pilarnya aku masih ingat, yaitu bila kita memasuki Haram dari pintu 1 (King Fahd), kita jalan lurus hingga Ka’bah terlihat. Saat menemui lantai yang menurun kita mengarah ke kanan kira-kira 30 derajat. Dari situ kita akan bertemu ‘gang’ yang biasa dipakai jamaah yang menuju lantai tawaf. Nah letak pilar itu berada dekat lantai tawaf, kira-kira 25 meter dari bibir tangga.

Para jamaah India sering berdoa dan berebut untuk menyentuh pilar itu, yang membuat ashykar sering kewalahan ‘mengusir’ mereka. Si ashykar berulang kali mengucapkan ‘Haji, haji! Bid’ah! Bid’ah!’, berupaya memberitahukan bahwa apa yang mereka kerjakan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Timbul rasa haru tersendiri mengingat hampir setiap kami melewati pilar itu, petugas yang bergantian menjaga pilar tersebut selalu berusaha menghalau tanpa mengenal lelah.

Hingga akhirnya pada suatu saat aku tanyakan pada ashykar itu, apa keistimewaan pilar itu hingga banyak jamaah haji yang berdoa dan berebut untuk menyentuhnya. Menurut penjelasan ashykar yang semoga aku tidak salah menterjemahkannya adalah bahwa pilar itu dipercayai merupakan tempat mendaratnya Bouraq, kendaraan yang dipercaya dinaiki oleh Rasulullah saat menuju Masjidil Aqsa dan Sidhratul Muntaha. Namun kepercayaan itu tampaknya hanya diyakini oleh jamaah dari India, karena tidak ada jamaah haji dari tempat lain yang melakukan hal seperti itu.

Wallahua’lam bisshowab.

12 pemikiran pada “Satu Pilar di Masjidil Haram

  1. sayah kok gak ngeh ya ada pilar itu. lagian kalo emang bid’ah knp gak dihilangkan aja ya kang. ah, sok tahu sayah.

    waaa, jangan dihilangkan dong kang, biarin sajah.. itung2 kasih kerjaan tambahan untuk askar yang njagain pilar itu, hihihihi..
    kapan mau balik lagi kesana? udah kangen berat belum nih..

  2. assalamu’alaikum

    tiang itu bukanlah yang menjadi sumber bid’ah.tapi perbuatannya orang-orang tersebut adalah bid’ah jadi yang harus dihentikan/ditiadakan adalah perbuatannya bukan tiangnya.Wallohu ‘alam

    wa’alaikumussalam. yak, setuju dengan anda!

  3. wah kalo itu kok ga tau juga, ga pernah denger ceritanya.
    tapi kalo yang mantep dihati, pilar2 di raudhah tuh, semua ada sejarahnya… sayangnya ada satu pilar dari bab jibril yang ga sempat liat, yah paling nggak taulah letaknya, karena menurut riwayat, dari situ biasa malaikat jibril masuk kerumah Nabi, makanya disebut bab jibril (pintu jibril)

    siiip! ada trekbek dari blog antum mengenai pilar-pilar di raudhah. syukron ‘ji!

  4. baru tau tuh ada tiang itu..
    apa mungkin tmpt ditambatkanya buroq??hehe??

    tp emg yg di madinah itu bnr2 ada sejarahnya makanya dikasih nama tiang abu lubabah, tiang aisyah, dl..

    bab jibril emang ada, itu semacam gang dkt rumah ali bin abi thalib.klo sekarang dkt mihrab tahajud.

    insyaAllah pak dokter, karena sesuai yang saya tulis, saya bertanya langsung pada ashkar yang menjaganya. alhamdulillah, si ashkar pun mampu menjelaskannya dengan bahasa inggris sehingga bisa dipahami.

    untuk tiang-tiang di masjid nabawi, juga beberapa pintunya, memang benar, banyak yang diberi nama. syukron komentarnya nih.

  5. Sewaktu saya menunaikan rukun islam ke lima tahun 2005 saya juga menemukan pilar itu, pilar itu terbuat dari kayu, dan menurut keterangan yang saya dapat waktu itu dari orang pakistan, dulu pilar itu pohon kayu dan dari situlah katanya Rasululloh berangkat dengan burak menuju baitul mukaddis dan kembali lagi dari sidratul muntaha ke pohon kayu itu.

    ingin mengulang perjalanan rohani yang dahsyat itu, kawan? mari sama-sama memohon kepada Allah Azza wa Jalla..

  6. kang tune in radio rodja freq am 756,

    alhamdulillah, radio rodja memang salah satu pilihan untuk menemani berkendara di belantara macetnya jalanan jakarta. pernah waktu pulang kampung ke purwokerto, kita tes jangkauan siarannya, subhanallah, sampai di indramayu pun masih bisa terdengar.

    oya afwan, baru bisa membalas pesan antum ya.. wassalam.

  7. ya biasa dikenal tiang Jibril karena sering terlihat Malaikat Jibril berdiri ditempat itu dan juga tempat Burognya Rosululloh SAW, sehingga banyak orang mencari keberkahan, walau tiang itu terlihat jelek dan sedikit ganjil karena ada tiang lain didekatnya tetapi kenapa tiang itu Wangi? kata ashykar karena diberi penwangi, kenapa tiang itu saja yang diberi pewangi?mereka bisa bilang itu bid’ah itu haram atau mungkin surge itu hanya milik mereka, disebelah jalan menurun tersebut adalah tempat untuk sholat lelaki dan berlantaikan marmer yang bercorak marmer bertuliskan Muhammad..apakah marmer masjidil Haram marmer imitasi sehingga bisa dibentuk coraknya atau memang lantai disana selalu bersholawat ke pada Nabi Muhammad SAW dan saya bertemu dengan Jamaah dari Surabaya dan beliau berbisik, memang bukan tiangnya tetapi ada tempatnya maka dianjurkan sholat dan berdoa ditempat sekitar tiang tersebut.

    Wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s