Halal

logo-halal.pngJATIBENING – An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'” (HR. Bukhori)

Sepenggal hadist di atas serta merta menyadarkanku bahwa tidak semua makanan yang kami konsumsi setiap hari terjamin kehalalannya. Bila berbelanja dari supermarket dan membeli makanan yang terbungkus dengan rapi, akan mudah mengidentifikasikan makanan itu telah melalui uji sertifikasi Halal Majelis Ulama Indonesia atau belum, dengan melihat ada tidaknya logo halal. Tidak harus dari MUI, bisa saja dari Majelis Ulama negara lain bila makanan itu diimpor dan diedarkan di Indonesia.

Sejiwa dengan semangat itu, sudah dua bulan terakhir bila berbelanja kebutuhan bulanan, aku mengingatkan istriku untuk mengindahkan ada tidaknya logo Halal pada barang yang akan dibeli. Alhasil, terdapat beberapa barang konsumsi yang biasanya kami beli ternyata belum memasang logo Halal. Sebut saja Wafer Cokelat Nissins yang merupakan makanan favorit kalau menonton sepak bola di TV. Atau sirup Terong Belanda dari Brastagi Medan. Biasanya kalau tidak menemukan logo Halal pada produk yang akan dibeli, langsung kita mencari produk substitusi/penggantinya. Untuk wafer, agak susah juga karena banyak produsen wafer yang belum mencantumkan logo halal, seperti Khong Guan, dan Monde. Untunglah wafer Tango sudah mencantumkan logo Halalnya, jadi aman untuk dikonsumsi.

Sedihnya, banyak umat Islam yang masih memandang remeh masalah halal ini. Aku pun tidak mau menyalahkan mereka karena memang seperti hadist di atas, ada terdapat hal-hal yang musyabbihat, yaitu segala sesuatu yang belum diketahui secara jelas hukumnya, apakah termasuk halal atau termasuk haram. Mustabihat sifatnya nisbi, artinya ketidakjelasan tersebut terjadi pada sebagian orang dan tidak pada semua orang. Dengan demikian tidak ada satu pun sesuatu yang mustabihat secara mutlak, dimana semua orang tidak mengetahui kejelasan hukumnya.

Ada beberapa kasus misalnya pada kemasan ukuran besar telah tercantum logo Halal, namun pada kemasan kecilnya logo Halal itu tidak ada. Ini kami dapati pada produk Kacang Atom Garuda. Ini termasuk dalam musyabihat tadi. Mungkin saat tulisan ini ditulis mereka telah menerima sertifikasi halal dari MUI untuk produk tersebut dan belum mencantumkannya pada kemasannya yang baru. Namun untuk keamanannya bila kami tidak melihat logo halal pada kemasan tersebut, we’ll say no.

Kami hanya berupaya meninggalkan keragu-raguan itu dengan tidak mengkonsumsinya sama sekali, walaupun mungkin produk itu murni buah-buahan seperti juice impor dari Amerika misalnya. Kami berkeyakinan masih ada produk Halal sebagai produk pengganti, jadi tidaklah harus fanatik terhadap merek tertentu.

Coba masuk ke halaman ini atau disini lalu masukkan merek produk yang hendak anda konsumsi. Selamat mencoba.

Wallahua’lam bisshowab.

3 pemikiran pada “Halal

  1. mas, nanya, bagaimana dengan jajanan pasar? gimana tahu kalo itu halal?

    terima kasih komentarnya bli,
    dalam Islam, segala yang tidak dinyatakan haram adalah halal, artinya bisa dikonsumsi. apa-apa yang haram telah jelas, misalnya daging babi, minuman yang memabukkan, darah, daging hewan yang hidup di dua alam dan ada beberapa kriteria lain. namun untuk meningkatkan kualitas keimanan seorang muslim, kami sebaiknya juga memasukkan kriteria ‘thoyyib’ atau baik. jadi makanan yang halal dan baik itu lah yang kita cari. makanan yang baik berarti makanan yang telah melewati uji sertifikasi, baik yang dikeluarkan oleh BPOM RI dan/atau Majelis Ulama Indonesia [MUI]. berhubung jajanan pasar terkadang tidak melewati uji sertifikasi namun selama itu tidak termasuk kriteria yang haram dimakan, maka boleh saja dikonsumsi, dengan kehati-hatian tentu saja.

  2. Assalammualaikum. Senang sekali ada blog tanya ttg halal. Sy sgt senang bkn kue tp sy dengar byk produk yg tdk halal dan byk beredar di pasar. Sy mau tanya apa produk bahan kue merk koepoe2 halal? (tdk ada logo halal). Padahal byk jg ibu2 muslim yg pakai. Produk tsb sgt memasyarakat sejak dulu tp baik produsen maupun MUI tdk ada upaya utk mendaftarkan ke halalannya dan memberitakan ke masyarakat lwt media. Krn ibu2, bakeri, produk2 rumah tangga ada yg pake itu. Sy minta tolong penjelasan produk2 itu agar dalam pembuatan makanan sy yakin akan kehalalannya. Terimakasih. Wassalamualaikum

    wa’alaikumussalam,
    terima kasih ibu fitri yg budiman. menurut pengetahuan saya apabila sesuatu barang/produk tidak diharamkan oleh syariat agama, kita bisa menggunakannya. namun ada syaratnya, yaitu bila kita telah ikhtiar mencari barang penggantinya namun tetap tidak tersedia. kalau yg telah diharamkan tentu kita tidak menkonsumsinya kecuali dalam keadaan daruriyah (darurat) dan terpaksa sekali, misalnya terjadi bencana yang sangat hebat atau peperangan.

    tujuan agama kita melindungi umatnya dengan mensyariatkan untuk menkonsumsi barang/produk yang halal tentu untuk kebaikan umat itu sendiri. bahkan oleh Rasulullah kita disyariatkan untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik (thoyyib), jadi halal saja sebenarnya belumlah cukup.

    untuk kasus ibu diatas, saya tidak tahu apakah ada barang sejenis yang bisa menggantikan bahan kue koepoe2 dan telah menjalani uji sertifikasi halal MUI. bila ada dan bisa menggantikan bahan tersebut, sebaiknya kita mengkonsumsinya karena ada satu hal penting yg kita dapat dari sini yaitu produsen telah berupaya untuk menjalankan syariat Islam yaitu tidak memproduksi selain memproduksi barang-barang yang halal dan mengikutsertakan produknya untuk diuji kehalalannya.

    jadi dari sisi konsumen, kita lah yang harus aktif mencari cara untuk selalu berupaya mendapatkan barang/produk yang telah menjalani uji sertifikasi halal MUI. bila kita telah berikhtiar namun tidak mendapatkannya, selama tidak ada kandungan bahan yang dinyatakan haram oleh agama kita insya Allah kita boleh menggunakannya. sebagai awal yang baik, ibu bisa mengunjungi situs http://www.halalmui.or.id/ , http://www.halalguide.info/ atau http://halalsehat.com/

  3. mas.klo pepsodent kan tidak ada logo halalnya truz gmna mas..???

    seingat saya, di rumah pepsodent ada logo halalnya kok. maaf bila salah, tapi pernah saya lihat logo halal di kemasan dalam pepsodent.

    seumpama tidak ada logo halal, kita berpatokan bahwa selama tidak ada larangan atau ketentuan haram untuk produk itu, kita bisa pakai. tentu saja bila produk substitusi/penggantinya juga tidak tersedia. bila ada produk sejenis yg telah dinyatakan kehalalannya, kita sebaiknya menggunakan produk tersebut. wallahua’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s