Hari Tanpa TV 2007

Hari Tanpa TVJATIBENING – Ahad besok -bertepatan dengan 5 tahun si Najah- adalah Hari Tanpa TV, yang dikaitkan dengan Hari Anak tanggal 23 Juli. Dari ‘selebaran’ yang didapat dari internet, jargon yang diangkat kali ini adalah Dengan mematikan TV, kita jadi punya banyak waktu untuk keluarga, teman dan untuk kita sendiri.

Sebelum mendengar adanya gerakan ini, di rumah sudah kami berlakukan jam-jam menonton televisi sejak beberapa bulan yang lalu. Jadi Ingga dan Najah tidak bisa seenaknya menonton TV tanpa ijin dari orang tuanya. Biasanya anak-anak kami ijinkan menonton TV saat menunggu jemputan sekolahnya. Paling banter waktunya hanya 15 menit. Siang harinya, setelah mereka pulang sekolah, biasanya Najah yang menelpon abinya, meminta ijin untuk menonton TV. Waktu yang aku berikan biasanya dari jam 12 sampai jam 2 siang. Dua jam dalam sehari bagi mereka menonton TV adalah waktu yang sudah sangat cukup. Bila aku anggap hari itu mereka perlu istirahat, biasanya siang itu aku tidak mengijinkan. Mereka pun, Maha Suci Allah, tidak banyak protes dan patuh dengan perintah abinya.

Mungkinkah mereka tidak mengindahkan perintah dan diam-diam menonton TV? Alhamdulillah, pengasuh mereka tidak mau diajak bekerja sama dengan anak-anak. Biasanya sekali ada pengaduan dari pengasuh bahwa anak-anak mencuri waktu untuk menonton TV aku memberikan ‘hukuman’ dengan tidak mengijinkan mereka menonton TV untuk dua hari berturut-turut. Alhasil, karena mereka sudah dibiasakan untuk mengerti soal konsekuensi, Ingga sebagai anak yang tertua pun paham apabila melanggar perintah orang tuanya malah mendatangkan ‘permasalahan’ yang lebih besar. Akhirnya, ia pun akan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan yang serupa.

Bukan tanpa alasan kami memberlakukan peraturan mengenai pembatasan waktu menonton TV ini. Salah satu alasan kuat yang membuat kami melakukannya adalah betapa banyak acara TV yang sangat tidak Islami, tidak memiliki muatan ilmu, menjual mimpi, merusak akhlak dan segudang alasan lainnya.

Bila azan Maghrib tiba, TV pun dimatikan. Kalau tidak ada acara yang benar-benar penting, tidak ada acara menonton TV saat prime time baik untuk anak-anak atau orang tuanya. Kami tidak mau anak-anak menonton sinetron yang dari dulu tidak jelas juntrungan kualitasnya atau film kartun yang katanya untuk anak-anak tapi malah beralur cerita dewasa. Belum lagi serbuan acara-acara yang isinya hanya ghibah, menceritakan aib dan permasalahan orang lain atau serentetan video klip artis-artis yang sok kebarat-baratan, mengumbar aurat dan terjebak pada stereotip permasalahan cinta dan duniawi semata. Hal itu diperparah lagi dengan penuhnya iklan yang mendorong anak-anak maupun orang dewasa untuk hidup lebih konsumtif.

Kami merasa lebih aman bila dapat mendampingi anak-anak menonton televisi. Bila ada tayangan yang sedikit mengganggu, kami pun bertindak layaknya badan sensor, tinggal mengubah channel atau mematikan TV. Pada awalnya anak-anak protes, namun setelah kami berikan masukan dan solusinya, mereka pun bisa memahami. Biasanya, solusi yang paling mudah mereka terima adalah menggali informasi dari media lain, misalnya surat kabar, majalah, atau bermain komputer.

Tidak sulit melarang anak untuk menonton televisi sepanjang kita sebagai orang tuanya juga konsekuen dengan larangan itu. Bila kita larang mereka menonton acara TV yang tidak masuk kategori children-safe, ya kita jangan pula melanggar aturan yang kita buat sendiri. Mungkin gerakan No TV Day ini sulit untuk diterapkan secara massal mengingat televisi adalah sarana hiburan yang murah meriah bagi banyak golongan masyarakat. Namun bila kita tidak mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal terkecil dan mulai saat ini, apakah mau bila anak-anak kita kerjaannya cuma bengong di depan TV? Na’udzubillah, summa naudzubillah.

Mau ikut? Coba awali dengan mengunjungi http://www.kidia.org/en/.

3 pemikiran pada “Hari Tanpa TV 2007

  1. kalo hari tanpa teve sih nggak masalah mas, apalagi saat ini liga liga dunia sedang vakum…yang lebih terasa bagi saya kalo sehari tanpa internet di rumah…:)

    butul bli.. namun masalahnya adalah bukan kita yang teracuni televisi.. namun anak-anak kita, ini yang kita waspadai. tunggu deh kalau anak sampeyan sudah merengek-rengek minta nonton tivi, bakalan pusing mengatur waktu untuk menemani mereka menonton tivi.

    soal liga dunia, hehehe, mentang-mentang juve sudah balik lagi ke serie-a yak? :B

  2. wakakakakak… aku inget dulu masih kecil, ayahku marah2 gara2 aku dan saudaraku asyik nonton tipi, kabel antena tipi ditarik sampai putus.. Tapi dasar aku dan kakakku memang nakal, dicarilah kabel pengganti, akhirnya bisa nonton tipi walau sembunyi-sembunyi, ketahuan lagi, antena dilepas dari tiangnya. Dulu pas masih kecil acara tipi gak segila sekarang, tapi memang benar tindakan ayahku, akhirnya aku lebih senang baca buku daripada nonton tipi.
    Televisi memang mematikan kreatifitas.

  3. iya ni.. ku prihatin juga dengan tontonan TV skarang seolah olah tidak ada ruang bagi anak2 semua prime time tv sudah di jejali sinetron yang memabukkan! karakter anak2 sudah di setting demi pemenuhan pasar kapital!
    mereka tidak mengenal lagi bangsa yang memiliki kebudayaan nenk moyang, semua musnah dengan dunia hedon. mereka wajib ke mall, karena itu keren seperti dsi televisi!!

    setuju bung kukuh, kami pun terpaksa harus mengatur jadwal anak-anak menonton tv karena acara-acara tivi yang sangat tidak islami dan tidak sesuai dengan usia mereka. biarlah mereka menganggap kami orang tua yang otoriter walaupun sampai saat ini anak-anak pun patuh terhadap perintah itu. terima kasih sudah memberikan komentar bung kukuh. wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s