Ukhti Elly dan Sepeda Pinjaman

Oleh Utami/Ummu 2 Cahaya

Bismillahirahmanniraahim….
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan seru sekalian Alam, shalawat dan salam untuk kekasih Allah SWT, Muhammad SAW.

Ya Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati, lindungilah hamba-Mu yang hina ini dari riya, ujub dan dan segala penyakit hati, cerita ini semata-mata untuk berbagi kisah, betapa banyak hamba-Nya yang istiqomah berjuang di jalan dakwah-Mu walaupun kenikmatan dunia/materi tidak banyak dititipkan kepada mereka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman dan memberikan pahala yang setimpal atas amal sholeh mereka, Amin ya Rabb…

Awalnya karena membaca kisah dalam rubrik ‘Nuansa Kehidupan’ pada majalah Ummi, sebuah majalah yang menurutku memberikan pencerahan, mencerdaskan dan dapat menjadi rujukan muslimah yang baik. Disana ukhti Elly Setiawaty menuliskan kisahnya berdakwah di daerah Blitar Jawa Timur dengan sepeda pinjaman.

Entahlah membaca tulisannya membuat dadaku sesak, Masya Allah, betapa Allah SWT telah memberikan kekuatan semangat, keluasan ilmu, kelapangan hati dan lain sebagainya yang aku tidak bisa bayangkan, pada ukhti Elly sehingga dia tetap berjuang, berdakwah menyampaikan kebenaran dengan segala keterbatasan fasilitas. Bayangan dia berjalan kaki, naik kendaran umum kesana kemari bahkan jika tidak ada uang dikantong dia terpaksa meminjam sepeda dari saudaranya untuk menemui mereka yang perlu bimbingan rohani, membuatku meneteskan air mata.

Ya Rabb, kau titipkan pada hambaMu begitu banyak kenikmatan sehingga hamba merasa hidup hamba sangat lengkap, suami yang penuh cinta, 2 putri qurota’ayun, pekerjaan yang baik, kantor yang nyaman dengan sekian banyak fasilitas di dalamnya, rumah yang nyaman, kendaraan, tetangga yang baik serta begitu banyak nikmat lain yang tidak dapat hamba sebut satu per satu….. tapi apa yang telah hamba lakukan dengan segala limpahan nikmat-Mu?

Hamba belum banyak bermanfaat bagi orang lain, belum mengikuti sunnah Nabi-Mu bahwa ‘sebaik-baiknya umatku adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain’..

Menjadi seorang ibupun masih gamang, sering tidak sabar, belum dapat menjadi teladan, kurang ilmu dan lain sebagainya..

Menjadi istri yang masih suka tidak taat, sering lupa memberikan senyuman ketika bertemu dan seterusnya..

Rasanya yang membutuhkan aku baru orang sekitarku saja yang memang menjadi kewajibanku -istilah Alm. Ustadz Rahmat Abdullah (semoga tidak salah nih)- ‘Ibarat bumi, aku baru berputar pada porosnya tapi belum mengelilingi matahari.’

Tapi di Blitar sana, ada saudaraku yang meskipun tanpa fasilitas memadai dari sudut pandang manusia seperti aku, tetap berjuang dan berdakwah.

Singkat kata aku bertekad untuk sedikit membantunya memiliki sepeda. Walaupun agak ragu aku mencoba mengontak majalah Ummi, meminta alamat Ukhti Elly. Alhamdulillah selang beberapa hari aku mendapat jawaban dan segera aku agendakan untuk pergi ke Kantor Pos.

Karena aku bekerja maka baru pada saat aku ijin dari kantor untuk mengambil raport kenaikan kelas anak-anak, aku berkesempatan untuk pergi ke kantor Pos Jati Kramat yang kebetulan lokasinya cukup dekat dengan sekolah anakku. Lucu juga aku bekerja di lingkungan perbankan dan kini aku mengirim uang dengan cara ‘tradisional’ lewat POS alias wesel. Ya, inilah pengalaman pertama bagiku dengan wesel pos. Saat kutanya pada petugas berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai di Blitar, petugas pos menjawab bahwa secepat2nya 2 hari.

Subhanallah, selang beberapa hari kemudian aku mendapatkan sepucuk surat dari Blitar, aku sedikit terkejut dan deg-degan, tidak mengira kalau akan mendapat respon yang begitu cepat dari Ukhti Elly, Dari surat itu aku menjadi tahu bahwa wesel itu ternyata hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk sampai di tangannya, Alhamdulillah..

Selain ucapan syukur kepada Allah SWT yang Maha Kaya dan rasa terimakasihnya padaku, dia juga menceritakan bahwa bukan hanya aku yang bersimpati padanya. Dia sungguh tidak mengira kesenangannya menulis akan menggerakkan hati orang-orang yang memembaca tulisannya dan ia berkata bahwa bukan maksudnya untuk mencari simpati. Dia hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT yang mengerakkan hati hamba-Nya untuk membantunya.

Dalam surat dia juga bercerita bahwa sedikit uang yang kukirim menjadi dana tambahan untuk membeli sebuah sepeda motor bekas. Dia juga berkisah bahwa dengan sepeda motor itu amanah yang diembannya menjadi kian berat (Masya Allah, betapa malunya aku, baru juga dengan sebuah motor bekas ukhti telah terbebani suatu amanah, sementara diriku?)

Semoga Allah SWT selalu menjagamu ukhti, semoga engkau istiqomah di jalan yang diridloi Allah SWT dan aku dengan senang hati menunggu tulisan-tulisanmu.

Maaf kalau aku belum sempat membalas suratmu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s