Islam di Soe

SOE – Sejak hari Ahad lalu, aku dan teman satu kantor, Donny, ditugaskan ke kota Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan yang berada kurang lebih 110 km arah utara Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Di propinsi yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani, di sepanjang jalan menuju Soe begitu banyak ditemui rambu yang menandakan adanya gereja. Tak satupun masjid atau musholla yang kami temui sepanjang perjalanan. Kabar baiknya waktu aku tanya soal masjid, bapak Iyan yang menemani kami dari Kupang memberitahu bahwa di Soe ada masjid yang cukup besar dan terletak dekat dengan guest house yang akan kami tempati.

Setelah dua jam lebih kami berkendara, sampailah kami di kota Soe (Lat 09’51.6576S-Long 124’15.5490E) yang ternyata cukup dingin karena berada di ketinggian 900 meter dari permukan laut. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.30 WITA namun udara masih terasa sangat sejuk. Menurut Pak Iyan, iklim di tempat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh iklim di Australia, yang memang letaknya lebih dekat bila kita bandingkan dengan jarak pulau ini ke Jakarta.

Dari guest house ini, terlihat bangunan masjid seperti yang diucapkan pak Iyan. Subhanallah, pada saat di Kupang kemarin aku sudah pasrah untuk tidak bisa jumatan minggu ini di Soe, Allah malah memilihkan tempat yang cukup dekat dengan rumahNya di kota ini.

masjid-al-ikhlas-soe.jpgSore itu, setelah mengkalibrasi waktu sholat di PDA, aku langsung menuju masjid untuk ikut sholat maghrib berjamaah. Masjid Agung Al-Ikhlas Soe (Lat 09’51.5018S – Long 124’17.3633E) nama lengkapnya, cukup besar untuk ukuran kota dengan minoritas kaum Muslimin seperti di Kota Soe. Jarak masjid ini yang sempat aku ukur dengan Beeline GPS sekitar 800 meter dari guest house. Dan benar seperti dugaanku, masjid hanya terisi satu shaf saja. Namun meskipun demikian, aku tetap merasakan nikmat sholat berjamaah, bilahil khusus apabila melakukannya di tempat yang istimewa seperti ini.

Selesai sholat, ada satu pemuda yang menghampiriku dan menanyakan asalku. Aku agak heran, darimana ia tahu aku baru melakukan sholatku yang pertama di tempat itu. Ia menjawab, memang hanya orang yang itu-itu saja yang sering hadir berjamaah di Masjid Al Ikhlas, jadi apabila ada pendatang pasti akan segera dikenali. Ia pun dengan senang hati menjawab pertanyaanku mengenai kehidupan beragama di kota ini. Uki, nama pemuda itu, menjelaskan biarpun mayoritas penduduk beragama Nasrani namun keberadaan kaum Muslimin di kota ini tidak pernah terusik. Mereka saling menghormati satu sama lain., alhamdulillah.

Waktu aku tanya jumlah masjid yang ada di sekitar kota Soe, ia menjawab hanya ada tiga. Namun dari ketiga masjid itu, yang azan lima kali sehari hanyalah masjid ini. Yang lain biasanya hanya saat Maghrib, Isya dan Subuh. Letak kedua masjid lainnya itu pun cukup jauh, bahkan ada yang berada di dekat perbatasan kabupaten Kupang. Yang melegakan, ketiga masjid itu semuanya menyelenggarakan sholat Jumat, sehingga bila Allah mengijinkan aku pun dapat melakukan sholat Jumat di masjid Al Ikhlas ini esok.

Satu yang belum bisa aku lakukan di masjid ini, yaitu sholat subuh berjamaah. Bukan karena aku tidak bangun saat azannya berkumandang, namun suhunya yang subhanallah sangat dingin itu yang membuatku hanya mampu sholat di dalam kamar saja.

31 pemikiran pada “Islam di Soe

  1. halo
    glad you enjoy your time in Soe..
    hehe soalnya saya asal sana.


    aduh senangnya tulisan ini dibaca oleh yang berasal dari Soe! kota anda benar-benar mengagumkan, suhunya yang luar biasa dinginnya, keakraban antar umat beragama yang menyenangkan dan ‘bemo’ ala kupang yang mendebarkan, hahaha.
    terima kasih atas kunjungannya dan ini rahasia bung.. i did really enjoy my visiting time in soe!

  2. Jakarta, 02 Januari 2008

    Assalamu’alaikum waRohmatullahi waBArokatuhu.

    Semoga ALLAH SWT selalu memberkahi kita dalam setiap perjumpaan dan mempertemukan kita kembali pada lain waktu setelah berpisah, Nabi Muhammad SAW beserta orang2 MU’MIN semuanya menjadi saudara/i kita. AMIN..

    Sebelumnya salam kenal, nama ku Ali Arsyad Isu, kelahiran Tuniun, 12 Juni 1982, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kecamatan Amanuban Timor, Desa Sillu.

    Kalu boleh memberikan saran, baiknya Ibu selalu meng up date blog ini yang selalu menginformasikan keberadaan penduduk Mualim di Kupang dan NTT Pada umumnya karena saya sulit mencari data tentang keberadaan kaum Muslim disana.

    Sebelumnya terimakasih kalu saran saya di terima dan mohon ma’af jika menyinggug perasaan Akhi.

    Wassalamu’alaikum waRohmatullahi waBarokatuhu

    Ali Arsyad Isu

    wa’alaikumussalam akhi ali,
    wah, terima kasih atas kunjungan dan sarannya. tentu saja bila Allah SWT memudahkan saya untuk berkunjung kembali ke So’E, salah satu yang saya hendak tulis lagi pasti mengenai kehidupan Islam di tempat itu. mengapa, karena di tengah kaum mayoritas yang beragama nasrani, umat muslim disana begitu tenang beribadah tanpa ada gangguan. ini menarik untuk dijadikan contoh keharmonisan kehidupan umat beragama di NTT, khususnya So’e.

    semoga akh Ali dan seluruh kaum muslimin di NTT tetap dapat menikmati ketenangan dalam beribadah kepadaNya, amin..

  3. Semoga kunjungan anda di So’e membuktikan bahwa Masih ada tempat dimana semua agama masih bisa saling menghormati….dan hidup berdampingan dengan damai…..

    Visit to my Homeblog http://obethtts.wordpress.com

    terima kasih saudaraku, semoga demikian adanya agar kita bisa terus hidup berdampingan. sungguh saya terkesan sekali dengan diterimanya Islam di bumi So’e.

    salam persahabatan.

  4. Salam damai,trima ksh atas kunjungan & kesan anda ke kota kelahiran saya..demikian adanya ajaran kristen tentang KASIH diterapkan di kota kecil soe,tentang mendoakan saudaramu yg berbeda iman dgnmu, yg selalu dilakukan setiap umat nasrani,bahkan di setiap kebaktian minggu. Demikian pula dalam real keseharian umat karena pada dasarnya kita adalah bersaudara..trima ksh atas kunjungan anda,kami selalu menerima anda & smua yg berniat baik..salam damai….LEO..Mahasiswa PascaSarjana MIPA UGM Yogyakarta

    entah mengapa bila saya menerima balasan atas posting tentang soe ini, saya seperti mendapat saudara baru. mayoritas yg menulis komentar di tulisan ini adalah dari kalangan non-muslim yang notabene penduduk asli so’e. sungguh, saya jadi tambah terkesan dengan ramah tamahnya penduduk so’e.. terima kasih bung!

    duh kapan ya bisa balik lagi ke sana?🙂

  5. wah senangnya ada yg ke soe n punya kesan positif ttg soe.
    saya juga asli dr sana dan tulisan anda membuat saya mengangguk2 krn mmg disana semua hidup seperti sodara tanpa memandang perbedaan agama.🙂

    terima kasih ange, senang sekali membaca testimoni ini. semakin banyak rakyat so’e yg setuju dengan tulisan ini semakin saya yakin bahwa di bumi so’e benar-benar telah tercipta kerukunan antar umat beragama. salut!

  6. Slam damai,
    Adu aku sng bgt tau,saat bc pglaman anda dikota Klhran aku yg dingin itu,,KOTA SOE..
    dsna org2 nya emang udah kayak sodara sndri..tman aku wkt sd,smp,sma byk yg muslim tp kta g prnah musuhan lho..aku jd kgen pgen plg..

    hallo desira, benar.. kota So’e sungguh meninggalkan kesan yang dalam. betapa kunjungan yang hanya sepekan itu benar-benar membekas di hati saya. terima kasih sekali lagi bagi rakyat So’e dengan segala keramahtamahan mereka.

  7. Salam pak Oyi,

    Selamat datang di Timor, semoga perjalanannya cukup menyenangkan di sana. Terus terang, meski masih terkesan jauh dari pembangunan, akan tetapi tentu lebih nyaman di sana dari pada Jakarta (pak Oyi berasal dari Jakarta?). Hehehehe..

    Saya asal Timor, lahir dan besar di sana, meski sekarang sudah merantau di Jawa. Kalau saya ingat-ingat bagaimana saya dibesarkan di Timor, tidak pernah orang-tua saya – juga pemuka agama – mengusik soal orang yang berbeda iman. Berteman sejak kecil pun tak pernah sekali pun memusingkan apa agama teman kami. Semua bermain bersama, ketawa bersama (meski kadang berkelahi; namanya juga anak-anak), tak pusing jika si A pergi ke gereja, atau si B pergi ke mesjid. Jika Natal tiba, teman-teman yang beragama Islam akan menyambangi rumah kami, sebaliknya pun demikian kami lakukan saat Lebaran tiba. Tak pernah kami berpikir kami akan berdosa bila mengucapkan selamat kepada teman kami yang sedang berbahagia. Apalagi ada sebagian kecil dari keluarga besar kami yang beragama Islam.

    Hal yang berbeda saya alami pertama kali menapakkan kaki di Bandung. Di situlah pertama kali saya merasa shock. Di situlah saya pertama kali merasa bahwa ternyata saya berbeda dengan orang lain. Di situ pula saya pertama kali merasa ada sekat-sekat di antara kita, ada syak-wasangka yang tidak menenangkan. Seolah-olah orang cuma bisa bersahabat bila mengucapkan doa yang sama. Seolah-olah ada izin untuk tersenyum kepada orang lain yang ‘berbeda’. Beruntung saya akhirnya bisa bertemu dengan orang-orang dari luar Bandung yang bisa dibilang belum terkontaminasi dengan fanatisme sempit. Meski ‘gila’, badung, tapi mereka bisa menjadi sahabat yang baik.

    Saya tidak tahu kenapa sekarang orang gampang ribut karena agama. Tapi saya berdoa, semoga Timor yang saya tinggalkan dulu, dengan segala keluguannya, kesederhanaannya melihat hidup, akan tetap seperti itu, supaya paling tidak di hari tua kami, kami masih bisa punya tempat untuk pulang dan hidup dengan tenang dengan sodara-sodara kami yang lain. Juga supaya Timor dapat terus memberikan damai kepada sodara-sodara lain yang datang berkunjung.🙂

    Tuhan memberkati.

    hallo iko.. salam kenal & terima kasih komentarnya di blog kami.
    benar, saya tinggal di jakarta, namun asal saya adalah semarang [jawa tengah].

    perjalanan ke soe hampir dua tahun yang lalu itu, tentu sangat menyenangkan. karena apa, karena kesan yg baik yang dibawa sepulangnya dari tanah timor: soe & kabupaten timor tengah selatan tentunya.

    soal persahabatan antar agama, mungkin saudara iko pas bertemu dengan mereka yang beraliran keras soal ini. namun perlu anda ketahui, segala persahabatan dan perniagaan lintas agama, sejak jaman Rasulullah SAW kami tidak pernah melarangnya, selama tidak melanggar akidah masing-masing. jadi tidak ada syariatnya bersahabat hanya dengan teman-teman yang punya doa yang sama.

    mengapa orang gampang ribut karena agama lebih dikarenakan sistem adu domba oleh orang-orang yang tidak menginginkan adanya perdamaian di bumi nusantara ini. bila kita tidak mengusik kehidupan beragama umat lain, insyaAllah tidak akan ada yg mengusik kita. namun bila ada yang mengusik, pasti yg terusik tidak akan tinggal diam.

    sebagai kakak dari adik-adik yang berlainan agama, masalah toleransi ini sudah menjadi kehidupan kami sejak kecil. namun hingga kami dewasa bisa hidup berdampingan dan saling membantu satu sama lain karena memang kami tidak pernah mencampuradukkan masalah akidah & agama dalam pergaulan kami.

    terima kasih iko, semoga dapat memperoleh manfaat dari blog sederhana ini.

  8. Assalamu alaikum,
    Saya akan ke kupang malam ini utk melanjutkan perjalanan ke SoE. rombongan kami akan melakukan kegiatan baksos operasi bibir sumbing di sana atas undangan dari pemerintah setempat. Terima kasih atas informasinya bahwa di sana ada mesjid dan cuaca cukup dingin sehingga kami dapat mempersiapkan segalanya dari makassar.
    Wassalam.

    wa’alaikumussalam pak alamsyah. sungguh senang bisa memberikan informasi untuk rombongan bapak. selamat menikmati dinginnya kota so’e dan kehangatan penduduknya.

  9. As wr wb TTS memang fantastis luar biasa,wilayahnya luas dan sungguh indah,uadaranya segar belum banyak polusi,penduduknya ramah dan bersahabat namun masih kurang perhatian untuk mempercantik kota dan lingkungannya.

    wa’alaikumussalam. betul, sungguh kota kecil yang berada di tengah NTT yang sarat kenangan ya. kapan berkunjung ke So’e pak?

  10. 20 km arah utara kota Soe juga ada Masjid cukup besar,karena bisa menampung 300 orang jamaah,nanmanya saya lupa tetapi saya 2 hari berturut-turut sembahyang dhuhur dan ashar di masjid ini,tepaatnya di kantor KUA Kapan kecamatan Mollo Utara,tempatnya sungguh bagus mudah mendapatkan air dan sejuk udaranya.

    subhanallah. terima kasih infonya pak, saya belum sampai ke utara so’e. dari berita ini makin membuat senang hati karena Islam di NTT sudah semakin banyak dan memasyarakat. syukron.

  11. Alhamdulillah wasyukurillah aku tambah saudara,shohib & shohibah aku memang benar benar terkesan dg kunjungan pertamaku di TTS yg aku rasakan terlalu singkat tepatnya 16 – 20 Nop 2009 kmrn. selama 3 hr berturut turut aku menyuri jalan dg penuh keindahan yg aku rasakan sampai ke lubuk hati yang terdalam dan tidak aku jumpai di tempat tinggalku.Aku nginab dirumah sahabatku Kepala SMAN Kapan Bpk Drs.Ngilu Ngujang namanya,tepatnya didesa / kec Niki niki 27 km arah timur kota Soe,karena sekolashnya 20 km arah utara Soe maka saban hari sahabatku PP harus menempuh perjalanan 96 km.Aku benar benar angkat topi dg beliau walau jarak yg ditempuh sekian panjang namun semangat kerja,tanggung jawab dan prestasi kerjanya pantas mendapatkan apresiasi.tepatnya 3 th yll Depdiknas bekerja sama dg Menneg Pemb Daerah tertinggal membuat program Kemitraan 100 orang Kepala SMAN/SMKN Pulau Jawa dengan 100 orang Kepala SMAN/SMKN di luar Pulau Jawa (Sumatra,Kalimantan,Sulawesi,Maluku,Irian dan Nusa Tenggara) saat itu aku Drs.H.Sawari Hadi S.,MM.Kepala SMAN I Boyolangu Tulungagung Jawa Timur ada bersama Kepala SMAN I Kapan TTS dan lain-lainnya.itulah awal perjumpaan aku degan shohib yang ada di TTS sampai saat ini yg terjalin dlm sebuah ikatan keluarga besar NKRI.Suatu saat dg ijin Alloh Swt aku ingin mengulang kembali perjalananku disini.Amin!

    subhanallah, walhamdulillah, terima kasih sudah membagi cerita kunjungan bapak di blog ini.

    pengalaman bapak di so’e benar-benar menakjubkan. betapa pengabdian seorang guru yang harus menempuh jarak hampir seratus kilometer tiap harinya, bukanlah sebuah hal yang kecil. semoga sahabat bapak ikhlas dan ridha melakukannya, semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

    sebuah kehormatan bagi saya, blog sederhana ini dikunjungi oleh seorang kepala sekolah favorit di tulung agung. terus berjuang pak, menciptakan generasi penerus negara ini. matur nuwun..

  12. SUBHANAALLOH ,ITU CUMAN DI KTA KALAU DIKM PUNG EMANG G ADA MASJID ANA AJA MAU JUM ATAN JALAN KAKI 30 KM DARI RUMAH KE MASJIDSUBHANA ALLAH UMAT ISLM DI JAWA ENAK KALI YA TAPI KITA YANG DI TIMOR SENGSARA DALAM BERIBADA .BANTU LAH SAUDARA KITA DI SOE

    waduh, prihatin saya membaca kabar ini. begitu sulit perjuangan untuk beribadah, sampai harus berjalan kaki 30 km untuk sholat jumat? semoga Allah SWT menjawab jeritan hati ini dan segera menghadirkan rumahNya di kampung terdekat sehingga tidak perlu lagi bersusah payah untuk beribadah. semoga ada pihak yang membaca pesan ini dan segera mewujudkannya untuk mendirikan masjid di kampung anda ya. semoga, insyaAllah.

  13. Assalamua alikum Wr Wb.
    Kenalkan nama saya Abdul Muiz, asli dari Tuban Jawa Timur, sekarang tinggal di Sukabumi Jawa Barat. Salam kenal.tulisan antum mengingatkan ana banyak kenangan indah tak terlupakan. Sekitar tahun 1989-1990 ana bersama 2 teman mendapat kesempatan untuk tugas dakwah selama 9 bulan. hari-hari nan berkesan, betatapun hampir setiap hari harus turun naik perbukitan mengunjungi beberapa perkampungan muslim yang memang saat itu sangat membutuhkan bimbingan keagamaan. kedatangan kami bertiga berawal dari kunjungan Ketua MUI Soe ke lembaga kami kuliah yaitu LIPIA di jalan Salemba yang sekarang di Mampang. Beliau memaparkan kondisi kaum muslimin yang beberapa tahun terakhir, ada seorang kepala Suku yang masuk Islam, dan diikuti ribuan warga sukunya memeluk Islam. berangkat dari informasi itulah kami bertiga tertarik untuk mengunjungi kota kecil nan sejuk, sederhana, penuh keakraban dan ketentraman. Dan kebetulan tempat kami bertiga membina jamaah pengajian anak-anak di Masjid al Ikhlas Soe. dan Madrasah tsanawiyah yang waktu itu masih sangat sederhana. Sejak awal keberangkatan ke TTS, sungguh sangat berkesan, berangkat dari Jakarta naik Kereta api ke Surabaya, dan sempat singgah di Surabaya selama 3 hari karena harus menunggu jadwal keberangkatan Kapal Kalimutu yang hanya seminggu sekali. Kenangan pertama sebuah perjalanan safari dakwah dan tafakkur akan ayat-ayatNya yang terbentang sepanpang perjalanan mengarungi lautan Nusantara dari Tanjung Perak Surabaya -singgah di Bali, Lembar, Lombok,Ujung Pandang, Ende Flores dan terakhir di Kupang.Yang membuat perjalanan kami lebih berkesan karena sepanjang perjalanan mengarungi lautan, setiap waktu sholat tiba kita sholat berjamaah dan mendapat ijin dari nahkoda untuk memberikan kultum sehabis sholat. banyak kenangan dan sahabat selama kami dikapal, bahkan sempat diajak jalan-jalan keliling kota Ende Flores sembatri menunggu kapal laut berlabuh sekitar 2 jaman. Kedatangan pertama kali di Kupang kami disambut oleh pengurus Perguruan tinggi Muhammadiyah Kupang, sempat menginap sehari semalam, dan keesokan harinya kami diaantar ke Soe naik mobil bis umum. Tanpa terasa akhirnya sampai juga kami di Kota Soe. Dikenalkanlah kami kepada Ketua MUI yang berasal dari Alor dan kami dititipkan kepada seorang pengusaha muda Bapak Latif, pengusaha angkutan dan pertokoan berasal sari Makasar. setelah mengenal beberapa pengurus DKM masjid Al Ikhlas dan jamaah, serta pejabart dilingkungan Pengadilan agamakami mulai mempelajari peta Soe dan kondisi masyarakatnya. beberapa hari kemudianpun kami mulai mengajar di Madrasah Tsanawiyah Soe. Kami bertetangga dengan banyak masyarakat asli yang kebetulan memeluk agama Kristen, kami sering mengobrol dan bertukar fikiran dan saling mengunjungi. setelah kegiatan kami sudah fik, kamipun mulai membuat jadwal kunjungan ke beberapa kecamatan di Soe, kadang dengan naik mobil , dan jarang juga berjalan kaki dengan didampingi oleh muslim asli Soe untuk mengunjungi saudara-saudara kami. Pengalaman menarik ketika untuk pertama kali kami harus makan daun sirih dan kapur sebagai sambutan selamat datang, tak jarang kami menginap diperkampungan untuk beberpa minggu secara bergantian. Alhamdulillah berkat hubungan baik dengan beberapa muhsinin , beberpa anak didik kami di Tsanawiyah ada yang membiayai untuk melanjutkan sekolah di Semarang UNDIP, di UI dan UNISBA Bandung. 9 bulan terasa sangat singkat dan sangat berat kami harus meninggalkan Kota SOE Kab. TTS.betatapun kami dengan fasilitas yang sederhana dan perbekalan yang pas-pasan, namun kepuasan di jiwa tak tergambarkan. Pengalaman indah ketika datang bulan Ramadhan, kebetulan banyak pendatang dari Makasar yang punya mobil angkot, setiap sore keliling menjemput jamaah yang berjauhan dengan masjid untuk bersama sholat tarowih. dan ketika idul Fitri kamipun keliling berkunjung, adan anehnya setiap kali mengunjungi rumah diajak untuk makan, dan kamipun sulit untuk menolak. 9 bulan sudah kami bertiga di Soe, tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat dan kamipun harus kembali melanjutkan Study di Fakultas Syariah LIP{IA Jakarta, dan salah seorang kami alhamdulillah diterima di Universitas Madinah, bahkan sempat menyelasaikan program S3 di Fakultas Syariah dan sekarang menjadi Guru Besar di IAIN Kampar Riau, beliau bernama Dr Mawardi Muhammad Sholih, dan saya sendiri seusai kuliah di LIPIA mengajar untuk beberapa tahun di beberapa Lembaga Bahasa Arab di Jakarta, di Al Manar, Al Hikmah Bangka dan beberapa tempat yang lain. Ditahun 99 ada seorang teman saya mengajak untuk bergabung di8 Internat Al Kausar Boarding School di Sukabumi. Tahun 2004 saya mendapat amanah untuk menjadi anggota DPRD Kab. Sukabumi hingga tahun 2009, dan untuk kedua kalinya masih mengemban amanah ummat di DPRD Kab. Sukabumi, dan kebetulan menjadi Ketua Komisi I bidang pemerintahan. sungguh liku -liku perjalanan kehipan penuh dengan pelajaran dan hikmah, dan pengalaman pengabdian di kota Soe TTS merupakan bekal tempaan lapangan yang hingga saat ini masih membekas, alhamdulillah saya selain di DPRD juga merintis TKIT, SDIT dan SMPIT Al Husna di Parungkuda Sukabumi sekaligus ,membina masyarakat dibidang keagamaan dan sosial. mohon doa dari antum semnoga isrtiqomah mengemban amanah ummat, dan salam rindu dan kangen untuk jamaah al ikhlas dan warga Soe yang dermawan dan santun serta penuh kekeluargaan. terakhir kenangan yang sangat mengharukan ketika kami bertiga pulang ke Kupang ternyata tanpa sepengetahuan kami beberpa warga menyewa truk untuk mengantarkan kami ke bandara Kupang. dengan deraian air mata keharuan kami tinggalkan kota Soe dan Kupang. semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan.

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wa barakatuh pak abdul muiz,
    subhanallah walhamdulillah, betapa blog sederhana ini mendapat kunjungan dari seorang ahli dakwah di tanah minoritas muslim seperti kabupaten TTS dan so’e. perjalanan dakwah anda insyaAllah berujung pada kenikmatan beribadah yang saya lakukan di sana hampir 3 tahun yang lalu. seperti yang saya ceritakan, saya sangat terkesan dengan penduduk asli so’e maupun para jamaah masjid al ikhlas. mereka begitu ramah dan terlihat sekali saling menghormati keyakinan satu sama lain, bahkan untuk pendatang seperti saya.

    semoga Allah mencatatkan nama anda dan kawan-kawan sebagai pendakwah yang berhasil menanamkan nilai-nilai islam di bumi So’e. sungguh, saya sangat tergetar membaca pengalaman anda, dari surabaya, berlayar menuju NTT hingga berdakwah disana selama 9 bulan. hanya Allah SWT yang akan membalas jasa-jasa bapak dan kawan-kawan, amin.

    tetaplah berjuang pak, apalagi bapak berada di DPRD saat ini, untuk tetap istiqomah menjalankan segala syariat Allah SWT dan rasulNya serta menjauhi segala laranganNya. terima kasih sekali lagi sudah berkunjung dan memberikan pengalaman dakwahnya di NTT. Allahu Akbar!

  14. No kontak saya Abdul Muiz
    HP 081563231680
    RUMAH 0266-733104

    jazakallah pak abdul muiz, insyaAllah kita bisa bersilaturahmi suatu saat.

  15. ass wr wb shohib & shohibah sudah 6 bulan atau sudah setengah tahun yang lalu aku berkunjung di blog ini,baru kali ini aku sempat kesini lagi,bagaimana info terkini para shohib & shohibah tentang jihat kalian dipulau intan (Timor aku juluki Intan karena aku sungguh terkesan dengan kunjungan perdanaku)ini? Aku iri dengan pahala yang akan kalian dapatkan dari perjuangan di pulau intan ini,karena aku yakin dengan tingkat kesulitan,tantangan, ancaman mungkin yang begitu besar Alloh tidak akan menyia-nyiakan umatNya.Terus berjuang shohib jangan melihat besar kecilnya perolehan namun tegakkan kebenaran,berilah makan mereka yang kelaparan,hiburlah mereka yang kesusahan,payungi mereka yang kepanasan/kehujanan,selimuti mereka yang kedinginan dan berilah nur cahaya bagi mereka yang masih dalam kegelapan.Musuh kita bukan dimana dan siapa tetapi ada pada diri kita dan dilingkungan kita sendiri yaitu kebodohan,ketertinggalan,gagap dalam technologi,kemiskinan dan ketidak berdayaan serta ketertinggalan dalam informasi,oleh karena itu ajaklah diri sendiri dan masyarakat dilingkungan kita sendiri agar menjadi pintar,maju,terdidik dan gemar membaca,mendengar,melihat suasana akhir jaman ini agar lebih berdaya guna,mandiri menuju masyarakat madani. Wss wr wb !

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    benar sekali stadz, ketertinggalan dalam era informasi ini sedikit banyak mempengaruhi ruang lingkup ilmu para ustadz/ustadzah. kita sebagai seorang muslim, harus mau dan niat untuk selalu memperbarui dan menambah ilmu diri, agar tidak belajar dari itu-itu saja. memperbanyak baca, taklim dan tilawah insyaAllah menambah saudara dan ilmu. jazakallah komentarnya stadz, ane tunggu info lanjut dari antum. syukran.

  16. assalamu’alaikum wr..wb..
    melihat beberapa tulisan saudara/i mengenai kab.soe… pengen sekali mengetahui lebih jauh,,,
    mohon saran dan informasi mengenai kab.soe,, sebab dalam waktu dekat ini insya allah saya akan dapat tugas survey di kabupaten tersebut (kira2 pertengahan bulan ramadhan ini). kalo boleh tahu ada yang memiliki jadwal sholat dan jadwal puasa untuk dibagikan kpd saya.. sekian terima kasih atas atas sumbangsihnya. wassalamwrwb…

  17. Assalamu’alaikum.
    Terimakasi atas kunjungan ibu. sebagai anak asli so’e, kami senang. mudah2hn suatu saat ibu bisa kembali ke so’e. Ibu harus mengunjungai satu kampung kecil di pesisir kota so’e yang bernama OE-OE..insya4llah ibu akan lebih banyak menambah pengalaman..terimakasi. wassalamu’alaikum

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, aduuh senang sekali ada kunjungan dari putra asli so’e. sayang sekali pekerjaan disana telah selesai dan tak tahu lagi kapan bisa kembali ke tanah yang tenteram seperti so’e. saat ini rasanya so’e begitu jauh namun tetap dekat di hati karena saya sungguh terkesan dengan keramahtamahan penduduk asli so’e. terima kasih telah mampir di blog ini sahabat!

  18. Ass wr wb. sudah 1 tahun persis kunjungan perdana aku ke TTS,utamanya ke Niki-Niki,Kota Soe dan Kapan. Namun kenangan tidak pernah hilang dari benak aku ini pertanda sudah jatuh cinta rupanya aku dengan TTS,yang memang pantas untuk dicintai.Melalui media ini sebelum aku berkunjung kembali ketanah Intan ini sudi kiranya,shohib & shohibah memberikan info terbaru tentang perkembangan / pertumbuhan kegiatan beserta hasil hasilnya.Saya punya sahabat Krestiani Bpk.Drs.Ngilu Ngujang seorang Kepala Sekolah (SMAN) Kapan dan punya saudara Muslim Dr.Doddyk seorang tenaga medis di RSUD Soe dengan istri tercintanya Inna Kusumastuti,SE.,S.Pd. sbg. pendidik anak buah Bpk Ngilu,yang dengan ikhlas dan tulus dengan ridho Alloh Swt.ingin bersama-sama masyarakat TTS membangun negeri sampai hari tuanya ,melalui Dunia Pendidikan dan Kesehatan. Doa ku menyertai kalian semoga sukses atas berkah rahmat taufik dan hidayah-Nya. Amin….

    amin pak. saya sungguh senang membaca testimoni bapak soal islam di soe ini. semoga rahmat dan hidayah selalu dicurahkan untuk bapak dan sekeluarga, amin.

  19. Salam ….
    Saya juga orang asli Semarang , namun saya sudah lama tinggal di Jakarta , sekitar awal tahun 2011 saya pergi ke SOE .
    Perjalanan cukup melelahkan meskipun dengan mengendarai TERIOS , karena Sopir ,,,,yang kebetulan orang Asli SOE agak ngebut dan kondisi jalan Kupang – SOE cukup berliku liku..

    Oh ya ….saya sampai di Kupang Hari Kamis , sekitar 2,5 jam kemudian saya sampai di SOE , pas waktu Luhur ,,,,saya juga punya kekhawatiran bagaimana Sholat nya .
    Diberitahukan oleh Sopir , bahwa di SOE juga ada Masjid , dan Masjid yang dimaksudkan sesuai dengan Photo yang Mas lampirkan .
    Namun ..sayang sekali saya tidak sempat Sholat di Masjid itu , memang udara nya cukup dingin …yang sebellumnya tidak terpikirkan oleh ku .
    Di SOE , saya nginep semalam di Hotel …yah lumayanlah …katanya sih itu Hotel yang terbaik di SOE .
    Pagi hari nya , langsung balik ke Kupang , tapi sbenarnya pingin jalan jalan ke Timor Leste , tapi karena ngga ada yang menemani terpaksa dibatalkan , dan langsung ke Kupang

    Sampai di Kupang , saya sholat JUm’at di Masjid Pancasila ( masjidnya YAMP punya Pak Harto ) , cukup fantastik juga bahwa Masjid tersebut bersebelahan dengan Gereja HKBP .
    Dan katanya baik – baik saja .

    Nginap semelam di Kupang di Hotel Sasando , dan esoknya Hari Sabtu langsung balik ke Jakarta .
    Kebetulan di KUpang , saya di temani Orang Semarang yang saya kenal via Face Book .
    Alhamdulillah ….malahan diantar juga ke Bandara ….segala…
    Terima kasih …

    Samsuri

  20. Umat Islam terbanyak di TTS justru ada di tempat saya, dan juga Pak Ali Arsyad Isu (yang kasih komen di atas), Oeekam, sekitar 40km arah Timur dari kota Soe. Di sana ada Pondok Pesantren Miftahudin, konon, Pontren terbesar di Timor. beda dengan kota Soe yang kebanyakan muslim dari luar Timor, di sana justru orang-orang asli Timor, saudara-saudara saya termasuk Pak Arsyad.

  21. Assalaamualaikum Wr Wb, saya kemarin telah diinterview untuk ditugaskan di soe, kebetulan saya dari Banda ACeh, saat ini sdg menunggu pengumuman apakah saya akan di tempatkan di soe atau tidak. Tulisan ini sangat berguna untuk referensi saya nanti tinggal di soe. mohon nomor kontek nya mas jd saya akan bisa berkomunikasi sebelumnya jika saya akan ke sana. atas bantuannya saya ucapkan terima kasih ya.

    Wassalaam Wrwb

  22. kalau mau ke soe jangan lupa cari orang yang namanya tamrin manu,beliau ppendiri pondok pesantren miftahudin jarak rumahnya dengan mesjid cukup dekat.

  23. saya pernah tinggal di soe selama 15 tahun jadi tahu persis karakter disoe, salam untuk pak ahmad ismail yang tinggal dibelakang madarasah itu, dari p. haryoko

  24. Assalaamualaikum Wr Wb,, sekedar berbagi informasi, bahwa masjid agung al-ikhlas soe saat ini sedang di renovasi berat, alasan krn posisi arah masjid yg tidak sesuai dgn arah kiblat…mohon doanya agar pembangunan masjid soe berjalan dengan lancar agar saudara kita bisa menggunkannya pada bulan ramadhan nanti, dan kiranya ada yg berniat menyumbangkan sebagian rizqinya untuk bekal akhirat kelak,itu lebih baik.

  25. sepenggal perjalanan hidup saya (1988 – 1992), saya tinggalkan disana, disana suasananya cukup damai, udara dingin, saya banyak berinteraksi dengan seluruh strata masyarakat disana dari berbagai suku dan agama, pejabat, pengusaha , ulama, pendeta dll, jadi terkadang ada kerinduaan yang tiba-tiba muncul.

  26. Saudaraku p Haryoko yg kemen di atas 15 tahun di soe jd tau karakter org soe. Sepertinya rendah hati, ramah. tapi klu sdh marah seperti org kesetanan. Perselisihan antar kampung sj bisa geger bahkan takut bepergian. Padahal sy org asli soe. Sejak SMP sy punya banyak teman muslim. Kami berpacaran. Bermain bersama setiap hari, padahl suku mrk makasar, tapi krn lahir di soe jd merekapun bilang sy org soe. Tidak ada maksud tersembunyi diantara pertemanan kami. Tapi sayangnya SDM kami masih tertinggal. Tapi syukur krn banyak teman se- kampungku yg saat ini kuliah di univ. ternama di seluruh nusantara, bahkan berprestasi. Ada yang sdh jadi psikolog, sosiolog, theolog, ahli hukum, dll. semoga mereka bisa merubah ketertingalan kami dan tetap melestarikan kemesraan kamung kami TTS.

  27. Ass. Wr. Wb. Alhamdulillah dengan adax blok ini akhirx kota so,e kota dingin ternyata membawa kesan yg sangat dalam khususnya bagi yg baru pertama kali datang ke sana. Terus terang orang tua saya sendari pendatang tapi saya lahir di soe, jadi tau kota soe itu sperti apa. Kota kecil yg ramah, toleran dalam beragama. Yang tentunya kota yang sangat dingin. Makasih atas blok ini. Smoga yang pernah ke soe bisa mampir lagi. Salam kenal..

  28. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Sayang saya baru membaca artikel ini setelah sekian tahun ditulis.

    Perkenalkan saya Taufiq Hanif, yang kebetulan sempat menjadi saksi sejarah pembangunan Masjid Al Ikhlas SoE. Jujur saya sempat menangis artikel ini Jadi terkenang pada Ayahanda M.S. Hanif (alm). Saya yang ketika itu masih duduk di bangku SMP (kalau tidak salah ingat) sering menemani Beliau ke lokasi pembangunan Masjid ini. Kebetulan Beliau dipercaya masyarakat Muslim SoE selaku ketua pembangunannya.

    Romantisme pembangunan masjid ini benar-benar indah. Semangat umat yang sebagian besar adalah perantauan dari Bugis-Makasar dengan tokoh-tokohnya antara lain Ustadz M.Nur Dg. Pasau, Hj. Usman L. Paoh, dll luar biasa. Bisa disebut “nekad” karena memulai pembangunan dengan dana yang hanya 5 juta Rupiah saja. Belum lagi harus mengatasi kemiringan tanah yang juga luar biasa, semua merupakan ujian tersendiri.

    Tentu ada saja pihak yang tidak setuju dengan pembangunan masjid ini, tapi berkat komunikasi yang terbangun dengan baik bersama pak Bupati TTS ( Bapak Cornelis Tapatab, yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Piet A. Tallo); juga dengan tokoh-tokoh Nasrani saat itu antara lain Bapak Pendeta Manuain, malah kemudian menjadikan Masjid ini bersama Gereja Efrata (yang kebetulan waktu pembangunannya hampir bersamaan), sebagai simbol toleransi antar agama yang indah.

    Saat ini saya menetap di kota Sekayu, Musi Banyuasin, Sumsel, saat menulis ini usia saya sudah 46 tahun, namun kenangan tentang kota SoE takkan terlupakan.
    Semoga toleransi di kota SoE tetap terpelihara selamanya.

    Teriring salam dan terima kasih buat penulis artikel ini.
    Wassalamualaikum Wr.Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s