Semarang, Our Culinary City (II)

Pecel SingosariSEMARANG – Alhamdulillah, setelah empat bulan berlalu Allah mengijinkan kami lagi untuk berburu makanan lezat di kota Atlas ini. Dan bila membaca perburuan kuliner yang pertama, maka kali ini perburuan kedua menghasilkan tempat yang saat kunjungan pertama tidak bisa dikunjungi. Tempat yang dimaksud adalah Warung Pecel Singosari (gambar di atas ini), demikian kami menyebutnya karena lokasinya di Jalan Singosari, lalu yang kedua adalah Tahu Gimbal dan Dawet Duren di ‘Segitiga Emas’ Erlangga.

Sesampainya di Semarang dan check-in di sebuah hotel di kawasan Simpang Lima, kami langsung bergerak menuju kampus Universitas Diponegoro di Pleburan. Setelah melewati rumah kos yang dulu ditempati Utami sampailah kami di Warung Pecel Singosari. Alhamdulillah, warung itu buka.

Memasuki warung itu, seperti memasuki kapsul ruang waktu, demikian istilah adikku Ibnu. Benar demikian karena warung itu tidak berubah sejak 14 tahun yang lalu. Ya ibu-ibu yang memasaknya, yang meladeni tamu, tata ruang, jenis makanan dan yang penting rasanya itu lho, tetap tidak berubah!

Segera aku pesan menu favorit sejak jaman dulu: Nasi Pecel. Tak lupa ditambah mie goreng, tahu bacem dan telor ceplok, wuii, lezat banget. Satu yang aku lupa kebiasaanku jaman dulu: makan dessert dengan buah nanas. Oya, sebenarnya aku juga ingin mencicipi lagi Nasi Kikil yang asam-pedas-nikmat itu. Namun karena Utami mengingatkanku mengenai potensi penyakit darah tinggi dan kolesterol yang aku lagi alami, niatan itu cuma sampai di hati😦

Saat membayar, kami pun sedikit terkejut. Makan segitu banyaknya [4 orang dewasa dan 4 anak-anak] cuma ditagih 61 ribu. Haaa, murah amat, tidak sampai 8 ribu per orang. Berapa coba kalau makan di Jakarta?

Malamnya, saat pulang dari kondangan, tak lupa mampir di Tahu Petis Prasojo di depan Mickey Morse Simpang Lima. Masya Allah, petisnya itu lho, kok ya masih saja nikmat tho. Benar-benar ngangeni dan tak ada duanya. Dulu di Jakarta sempat aku membeli Tahu Petis di daerah Manggarai namun tetap saja beda. Kurang maknyus kalau kata bung Bondan si pembawa acara Wisata Kuliner di TV.

Bubur Ayam Misoa Rizky SemarangPagi keesokan harinya, kami pun mencari sarapan di luar hotel. Tempat yang dipilih pun tempat nostalgia jaman dulu: Bubur Ayam Misoa di Erlangga. Pagi itu luar biasa banyaknya yang antre, maklum hari Ahad, banyak yang selesai berolah raga di Simpang Lima lalu mencari sarapan di tempat itu. Sebenarnya di seputaran Simpang Lima sampai ke Jalan Erlangga dan Kampus Undip, banyak penjual bubur ayam sejenis. Namun bubur ayam misoa ini lah yang paling ramai dan nyatanya, buryam itu uenak tenan jhe, hehehe.

Siangnya, sebelum pulang ke Jakarta, rugi besar bila tidak mampir di ‘kawasan segi tiga emas’ juga di Jalan Erlangga. Disini banyak dijajakan makanan namun favorit kami dari dulu tak lain adalah Tahu Gimbal Pak RahmatTahu Gimbal Pak Rahmat dan Dawet Duren. Sayang saat itu si Najah sudah capai dan tertidur di mobil sehingga Utami hanya dapat menikmatinya di mobil. Soal rasa, lagi-lagi, benar-benar seperti kami nikmati belasan tahun yang lalu. Tak ada perubahan rasa sama sekali. Hebat ya?

Hikmah dari perjalanan kuliner ini adalah betapa rasa mampu membuat orang kembali lagi untuk mencari. Semua makanan yang aku tulis di atas adalah makanan yang saat kami kuliah dulu sering kami kunjungi. Tidak ada yang berubah dari rasa yang mereka jajakan. Beberapa malah masih seperti yang dulu, ya orangnya, ya warungnya, ya lokasinya. Betapa konsisten dan istiqomahnya mereka dalam berusaha, semoga Allah melapangkan rejeki mereka, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s