Tipisnya Batas Kematian

JAKARTA – Dua hari ini di radio penuh ucapan belasungkawa. Kamis kemarin di Dakta FM, salah seorang stafnya yang baru berusia 30 tahun, meninggal dunia. Ujar salah seorang anggota DPRD Bekasi, beliau tidak menyangka karena baru bertemu dengan almarhum 2 hari sebelum Saudara Nurcholish, nama karyawan Radio Dakta itu, meninggal.

Jumat pagi ini, penyanyi Indonesia Chrisye pun meninggal dunia. Begitu banyak ucapan yang mengiringi kepergiannya ke Rahmatullah di hampir semua stasiun radio ibukota. Semua menyatakan kesedihan dan ikut berbela sungkawa.

Disadari atau tidak oleh kita yang masih hidup, betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Pagi ini kita masih hidup boleh jadi nanti sore kita sudah dimakamkan. Kita pasti menyusul mas Nurcholish dan Chrisye, siap atau tidak, mau atau tidak.

Kadang aku merenung, mengapa dalam menghadapi sebuah kematian, suatu yang pasti menimpa siapa saja di dunia ini, kita seakan tidak pernah mempersiapkan diri? Justru menghadapi hal-hal yang belum pasti, kita malah mempersiapkan diri sungguh-sungguh. Misalnya menghadapi wawancara tes pekerjaan. Jauh-jauh hari sebelumnya kita disibukkan dengan mempersiapkan diri agar dapat lulus dalam ujian itu. Padahal pekerjaan yang kita incar belum tentu kita dapatkan.

Sebaliknya, sebuah kematian yang menunggu diujung sana, kita sedang berjalan mendekatinya. Pasti kita akan tiba ditempat itu, pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Itu Pasti. Tidak akan mundur barang sedetik, tidak pun diawalkan.

Mengapa kematian dirahasiakan oleh Allah SWT tentu agar kita semua menyiapkan diri untuk menyambutnya. Bayangkan bila semua orang tahu hari kematiannya, tentu kita tidak akan beraktifitas apapun selain beribadah dan beribadah, memohon ampunan agar saat maut menjemput kitapun dalam keadaan khusnul khotimah.

Namun manusia memang banyak yang tidak hirau akan kematian. Kita semua kadang menganggap hari esok akan menyapa, Ramadhan masih akan kita jalani, Zulhijjah pun akan datang hingga kita pun enteng berjanji atas nama waktu, “Saya akan berhaji tahun depan” atau “Saya akan tobat mulai besok” tanpa sadar bahwa tahun depan bahkan esok pun bukan kita yang punya.

Sayangnya, yang kadang juga menimpa diri ini, adalah saat banyaknya musibah yang terjadi di negara kita yang merenggut banyak korban jiwa itu mampu menggiring kita untuk kembali bertobat mengingat kematian dan kembali beribadah. Namun apa yang terjadi setelah semua peringatan dari Allah itu menghilang? Kita pun lupa kembali kepada yang namanya mati. Kita masih sibuk berjanji dengan diri ini untuk bertobat, sholat, berpuasa atau berhaji tanpa tahu apakah kita dapat melunasi janji itu sebelum jadwal kepulangan kita..

2 pemikiran pada “Tipisnya Batas Kematian

  1. saat kita sadar bahwa hidup ini begitu indah dan kematian suatu yang menakutkan maka kita tidak akan siap menghadapi kematian, tetapi bila kita menganggap kematian merupakan gerbang menuju kebahagiaan dan hidup merupakan jalan menuju gerbang itu maka kita sudah siap menghadapi kematian…

    betul bli.. apalagi sampeyan yang sering melihat orang mati ya di rumah sakit? thanks for comment.

  2. ASSALAMUALAIKUM WR.WB.
    BANYAK DARI KITA MEMANG LALAI DALAM HAL MENGHADAPI KEMATIAN, PADAHAL KEMATIAN MUNGKIN ADA DI DETIK BERIKUTNYA DALAM DETIK-DETIK KEHIDUPAN KITA. MARI INGATLAH DAN SALING MENINGATKAN KEPADA SAUDARA KITA UMAT MUSLIM DIDUNIA INI UNTUK SELALU INGAT BAHWA KITA ADALAH MILIK ALLAH DAN AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH. INGATLAH KEMATIAN, INGATLAH KEPADA ALLAH.
    WASSALAMUALAIKUM WR.WB.

    Wa’alaikumsalam,
    Benar, tiada yang tahu kapan kita akan ‘pulang’. Namun justru tanpa pemberitahuan itulah kesempatan kita untuk berlomba-lomba menggapai ridho Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s