Cerita 9 Tahun yang Lalu..

JATIBENING – Minggu lalu kami mengundang adik-adik dan keponakan untuk datang ke rumah, mensyukuri nikmat Allah yang telah mengkaruniai Ingga, putri pertama kami, usia yang ke sembilan.

Bila aku mengingat sembilan tahun yang lalu, yang menjadikan kami berdua sebagai orang tua untuk kali pertama, sungguh bagaikan melihat limpahan kasih sayang Allah Azza Wa Jalla yang begitu dahsyat dan melimpah kepada kami. dari 9 tahun yang lalu hingga hari ini.

Sebagai pengantin baru, Allah tidak lama memberikan kehidupan baru di dalam tubuh Utami. Selang dua bulan setelah menikah, Utami mengandung. Sembilan bulan yang kami lalui cukup berat, karena pekerjaan yang memisahkan kami. Utami di Jakarta sedangkan aku di Semarang. Karena usia kandungan yang semakin besar, bulan Desember 1997 aku pun pindah ke Jakarta.


Pada awal Maret 1998, Utami aku boyong ke Purwokerto, karena melahirkan di sana selain dekat dengan orang tuanya juga biaya yang dibutuhkan lebih murah. Rumah Sakit Bersalin Budhi Asih kami pilih sebagai tempat persalinan.

Saat usia kandungan sudah mencapai 9 bulan 10 hari, belum tampak tanda-tanda si Ingga hendak keluar. Tanggal 13 Maret pukul 21 Utami aku bawa ke Budhi Asih. Akhirnya diputuskan untuk diberikan suntikan induksi, yaitu perangsang bagi bayi agar turun ke posisi persalinan. Malam itu terasa panjang sekali karena setiap beberapa jam suster memeriksa ‘bukaan’ dan progresnya terasa lama. Bukaan 3 ke bukaan 4 bisa memakan waktu 2 jam. Aku pun berusaha untuk tidak tertidur, karena akibat induksi Utami pun harus merasakan sakitnya bukaan paksa tersebut.

Berkali-kali memohon kepada Allah akhirnya saat menjelang subuh bukaan sudah mencapai bukaan 10. Ideal untuk melahirkan normal. Dokter Budhi pun datang untuk membantu persalinan dan aku disarankan untuk mendampingi Utami melewati masa-masa pertarungan hidup dan mati ini.

Masalah pertama timbul. Ketuban Utami tidak pecah dan aku pun ‘shock’ saat melihat upaya Dokter untuk memecah ketuban dengan memasukkan alat semacam logam panjang ke jalan persalinan. Utami berteriak. Kencang sekali. Tak terbayangkan sakitnya seperti apa karena aku sendiri sudah agak lemas melihat istriku kesakitan.

Utami pun mulai mengejan dengan dipandu oleh suster. Setelah beberapa lama mengejan, Ingga tetap tidak bisa keluar dan Utami nampaknya salah mengejan. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan karena aku sudah melihat kepala Ingga di jalan persalinan akhirnya dokter memutuskan Ingga harus di-vacuum. Aku melihat sendiri proses vacuum itu, saat jalan persalinan harus disobek untuk melancarkan persalinan dan kepala Ingga pun ditempel alat vacuum yang terhubung dengan semacam selang ke tabung oksigen. Sungguh, aku tidak berani membayangkan sakit yang diderita istriku saat jalan persalinan itu disobek, masya Allah.

Dengan aba-aba satu dua tiga, alat vacuum pun menarik Ingga seiring ejanan Utami. Subhanallah, anakku langsung keluar dan dengan gesit dokter menangkapnya. Itulah saat pertama aku melihat anak seorang manusia dilahirkan. Begitu lemah, begitu merah, begitu tak berdaya. Aku langsung menghitung jumlah jari tangan dan kakinya, segenap tubuh dan anggota badan lainnya, alhamdulillah komplit semua. Aku ciumi istriku sembari membisikkan bahwa perjuangannya sudah selesai. Betapa berat perjuangan seorang ibu dan Maha Suci Allah, Utami pun mengatakan semua rasa sakitnya hilang setelah proses kelahiran itu selesai.

Demikianlah. Bila seorang suami diberi kesempatan untuk mendampingi istrinya melahirkan, seharusnya malu bila menyakiti istri, ibu dari anak-anaknya. Perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya benar-benar luar biasa dan itu perjuangan mulia. Pantas saja ganjarannya adalah Al Jannah bagi ibu yang mati syahid dalam melahirkan. Jadi ulang tahun Ingga kemarin juga aku salami istriku, sebagai ulang tahun baginya menjadi seorang pejuang yang memenangi pertempuran hidup dan mati 9 tahun yang lalu.

Perjuangan kita belum selesai istriku. Kita harus bisa membawa anak-anak menuju kesholehan dan menjadikannya sebaik-baiknya bekal menuju akherat kelak, amin.

3 pemikiran pada “Cerita 9 Tahun yang Lalu..

  1. seru juga ceritanya mas…nggak ada niatan untuk memberikan ingga adik baru lagi?…;)

    Hahaha, ntar deh bli.. anak dua cukup kata pemerintah kan? Thx.

  2. mantap mas, sedikit laki2 yg mau dampingin istrinya melahirkan, salut.
    selalu mencintai istrinya ya mas🙂

    insyaAllah, terima kasih doanya. salam untuk pak koronx dan selalu berbakti kepada suaminya ya😀

  3. Wah, saya jadi terharu ingat dulu pas melahirkan anak pertama saya..

    alhamdulillah.. pastinya merupakan pengalaman yang tak terlupakan ya. insyaAllah 2 bulan lagi istri saya akan melahirkan anak ke tiga nih bu, setelah 8 tahun yg lalu terakhir melahirkan. mohon doanya ya biar lancar, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s