Museum Bank Indonesia

Museum Bank IndonesiaJAKARTA – Akhir pekan kali ini kami mengajak anak-anak ke Kota, suatu tempat di Jakarta yang banyak meninggalkan gedung-gedung bersejarah. Salah satu dari banyak gedung-gedung tua itu terdapat Museum Bank Indonesia (MBI) yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara. Lokasinya tepat di depan halte Busway Kota, bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri. Sengaja kami berangkat agak pagian dari rumah untuk menghindari kemacetan yang ditimbulkan oleh pembangunan underpass dari Stasiun Kota ke Halte Busway.

Pagi itu museum masih sepi. Setelah mengisi buku tamu dan diberi angket, kami pun mulai menjelajahi MBI. Kesan pertama, museum yang merupakan bekas kantor Bank Indonesia di daerah Kota ini, benar-benar saksi sejarah masa lampau. Banyak ornamen dan interior antik yang masih dipakai. Bahkan nama-nama ruangnya pun masih ditandai dengan nama dari Bahasa Belanda.

Layar Sentuh MBIRuang pertama yang kami kunjungi adalah theater/bioskop mini, yang menampilkan film edukasi tentang pengenalan bank dan produk-produknya. Anak-anak nampak betah menonton karena filmnya memang film animasi. 20 menit tak terasa berada di ruangan itu untuk kemudian kami beranjak mengunjungi ruangan lainnya.

Keluar dari theater ini pengunjung disuguhi banyak informasi perbankan multimedia dengan layar sentuh. Ingga, yang memang tertarik dengan komputer, nampak sangat menyenangi fasilitas ini. Ia pun sibuk menjelajahi informasi yang disajikan, terutama informasi mengenai uang-uang yang pernah diterbitkan oleh BI. Uniknya, pada masing-masing unit layar sentuh terdapat semacam speaker yang berbentuk seperti payung menggantung tepat di atas pengunjung. Ini dimaksudkan agar informasi suara yang keluar dari speaker yang satu tidak bertabrakan dengan suara dari speaker komputer yang lain. Bagus.

Ada satu ruangan yang menurutku adalah ruangan terbaik di museum itu, yaitu ruangan Khazanah. Ruangan yang aslinya adalah ruangan penyimpanan uang dan emas, yang mempunyai pintu lemari baja yang sangat besar, dipergunakan untuk menampilkan uang-uang kuno sampai uang saat ini. Sayang pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di ruangan ini, karena memang ruangan ini diset sedikit gelap. Uang-uang kuno itu diletakkan di dalam sebuah meja kaca yang dilengkapi dengan kaca pembesar untuk memudahkan pengunjung melihat uang-uang kuno itu secara lebih detil.

Resepsionis Museum Bank IndonesiaSetelah puas melihat-lihat uang kuno, kami pun kembali ke ruang resepsionis. Tak terasa hampir satu jam kami berada di MBI. Anak-anak pun terlihat puas dengan apa yang dipamerkan di museum ini. Namun karena masih dalam tahap renovasi, atau mungkin publikasi yang kurang dari museum ini sehingga MBI pun bernasib sama seperti museum-museum lainnya di ibukota: sepi pengunjung.

Bagi para ibu-bapak guru yang kebetulan membaca tulisan ini, saya merekomendasikan MBI sebagai tempat atau wahana kunjungan edukatif alternatif bagi anak-anak didiknya.

Link: Museum Bank Indonesia di Wikipedia.

13 pemikiran pada “Museum Bank Indonesia

  1. wah, senangnya ada yang senang dengan sajian di Museum Bank Indonesia ^_^
    -Reni-
    *pegawai BI

    Sama-sama mbak Reni.. anak-anak kemarin juga senang sekali dengan koleksi uang antiknya. Unik! Semoga MBI lebih ramai dikunjungi dan bisa menjadi tujuan alternatif wisata di Jakarta.

  2. Saya punya uang kuno majapahit dengan bentuk lonjong pipih sebesar telunjuk tangan dan bergambar gajah menonjol berbahan tembaga campuran waktu tahun 1995 uang itu ditawar 1 millar tapi ngga saya lepas….kalau sekarang saya mau lelang…hub AWIBRASYID@YAHOO.CO.ID atau no hp.081574335330….

    1 milliar 13 tahun yang lalu pak? kenapa gak dilepas saja, hehehe..

  3. kalo mo masuk harus daftar ga ato boleh langsung ngunjungin???

    untuk personal tidak perlu daftar bos, tinggal masuk dan bayar tiket saja. namun untuk rombongan mungkin harus pakai daftar dulu. silakan dikunjungi ya, thx.

  4. Terima kasih ya sudah mengunjungi Museum BI. Kok nggak masuk Ruang Play Motion? tempat uang2 berjatuhan? biasanya anak2 seneng. Kami juga ikut seneng kalau ada yang senang.
    Memang promosi kurang begitu gencar karena belum sepenuhnya terisi, tapi kami sering berpartisipasi di pameran2 lho seperti HUT DKI kami pameran di Museum Fatahillah, PRJ, pameran luar kota. Dan kami juga sering menyelenggarakan acara2 di museum.
    Mengenai pengunjung yang sepi, mungkin masih pagi ya. SEbetulnya jumlah pengunjung udah melebihi target kami. Biasanya yang padat adalah hari SAbtu, Minggu, hari2 libur. Kalo weekdays biasanya padat dengan kunjungan rombongan anak2 sekolah, mahasiswa, perkumpulan dll, biasanya mereka datang dengan bus2. Oh ya sejak Museum ini dibuka bulan Desember 2006, jumlah pengunjung udah mencapai 50.000 lho. Mereka datang dari berbagai kalangan, pelajar, pegawai, ibu rumah tangga, organisasi profesi dll. Tahun ini rata2 sebulan kunjungan 3000-4000 orang, yah seneng juga. Namun kami juga akan berusaha agar museum ini lebih banyak lagi dikunjungi masyarakat.
    Buat temen2 yang tertarik untuk datang tidak dipungut bayaran, kalau rombongan sebaiknya reserve waktu dulu karena biasanya untuk kunjungan rombongan dalam program jelajah museum biasanya ada games2 dengan hadiah2 yang menarik….Silakan untuk info kunjungi website kami di bi.go.id
    Selamat berkunjung.

    Hasti Adiani
    Unit Khusus Museum BI

    terima kasih ibu hasti,
    istri sepertinya ingin mengajak anak-anak ke museum BI lagi, karena pada kunjungan kami yang pertama memang masih dalam pembukaan awal. insyaAllah bila ada waktu kami akan mengunjungi venue yang ibu sebut.

    sedikit tips, mungkin URL [web address] museum disebutkan spesifik, jadi tidak hanya http://www.bi.go.id tapi bisa langsung ke alamatnya di http://www.bi.go.id/msmbiweben/default.asp

  5. pengen kesanaaa…. hikz2x… boleh minta rutenya bu/pak? dari halte busway kita harus ke arah mana? naik angkot lagi tak?? thx before u/ jawabannya nanti…

    dari halte busway kita tinggal menuju kota saja, dan turun di terminal terakhir di depan stasiun kota. dari situ sudah terlihat letak museum bank indonesia di belakang halte busway ini, tinggal kita menyeberangi jalan.

  6. Dear all museum lovers,
    Terima kasih semua atas apresiasinya. Diinformasikan sejak peresmian Museum BI oleh Presiden RI bulan Juli 2009, semua ruangan sudah bisa dikunjungi. Kami tunggu kedatangan anda semua ……

    wass

    wa’alaykumussalam mbak hasti. terima kasih infonya, insyaAllah anak-anak akan senang diajak berkunjung kembali ke Museum Bank Indonesia. Semoga Museum BI dapat menjadi tempat kunjungan wisata di ibukota ya, amin.

  7. Ass.wr.wbr. mbak Oyi,
    Silakan berkunjung mbak, semoga Museum ini dapat dinikmati oleh masyarakat. Kalau ada perlu apa2 silakan kontak2 saya ke email di atas atau ke alamat email museum.
    sampai ketemu ya…

    wass
    Hasti

    wa’alaikumussalam mbak hasti.. insyaAllah, karena istri saya juga bekerja di BI jadi ntar lebih mudah kordinasinya ya mbak. jazakillah.

  8. Waah ternyata ngga jauh2 juga ya masih sekeluarga…di bagian apa istrinya mas???
    Maaf salah penyebutan nama ya…

    Wass
    hasti

    hehehe, gak apa-apa. sudah sering terjadi salah tebak😀
    isteri di DPB3-IDAB3, thamrin mbak.

  9. Waduh….syukurlah …. sudah mulai banyak temen yg mulai mengapresiasi museum, setelah pembangunan dan peresmian beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung juga ke museum BI, wah….seger ya….nggak serem..hehehe…nah itu kayanya citra baru deh…sip…good..jempol …(apa lagi ya?)….
    eh tp btw mbak….buat saya malah ada yg menarik di museum BI, mungkin saya bisa share disini…boleh kan?..boleeeeeehhhh…..(maksa!) … gini mbak, kalo boleh saya sarankan… coba deh lihat dan perhatikan dengan baik…setelah kita lewat ruang audio visual….nah disitulah kita mulai menjejakan persepsi sejarah kita khusunya asal muasal terjadinya uang di Indonesia….nah itu kayanya yang mesti di ceritain ama temen2, ade2, kaka2…atau om2 n tante2 yg sempet lupa gimana asalany uang Indonesia terjadi. Dengan kemasan visual dan audio yang tertata dan ternecana dengan baik, informasi jadi cukup mudah deipahami, ya tentunya di masyarakat kita, Indonesia, keberadaan guide, ato pemandu museum, masih dibutuhkan…..eh jadi ada idea nih mbak Hasti, gimana klo kita bikin young guide community from BI Museum? kayanya lucu juga tuh….(kata si gw gitu loh! ….heheh)
    Gitu dulu ah ngocehnya…maaf ya baru kenal…baru masuk udah …berani2 nya ngoceh n pake usul2 segal…Go Museum Go!

    Abah Ridwan

    wah, cakep tuh usulannya ‘Bah.. ayo ditindaklanjuti, jadi museum bukan sekedar tempat wisata namun tujuan wisata edukatif. setuju nih!

  10. saya juga pernah berkunjung ke Museum Fatahillah yang terletak di pusat kota Jakarta
    kebetulan saya pergi museum Fatahillah itu bersama Ibu dan kakak beserta keponakan saya
    wah suasana museum tersebut tampak asli karena masih banyak juga barang antik yang di pajang mulai dari Balkon / Mimbar tempat berpidato sampai barang barang bersejarah lainnya ( senjata dan guci – guci masa pemerintahan VOC )

    saya cukup takjub dan kunjungan ke museum tersebut masih terkenang hingga kini, maklum saya tinggal di luar Jakarta jadi kunjungan waktu itu saya nikmati benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s