Journal Haji Week 5 (23/01/06 – 29/01/06)

Beautiful Ka’bah at NightMAKKAH – Minggu ini Allah menakdirkanku berpisah dengan kamera digital yang selama ini aku pergunakan untuk mengabadikan momen-momen atau tempat-tempat yang bersejarah di Masjidil Haram. Memang, aku jadi terobsesi untuk memotret Ka’bah, dari mana pun itu. Baik dari lantai 3, lantai 2 bahkan dari pinggir Ka’bah sekalipun. Lho, apa gak diperiksa ashykar saat masuk Harom? Itulah. Allah memberikanku cobaan dengan selalu lolos dari pemeriksaan, sampai minggu ke lima ini. Itu sama sekali tidak aku sadari walaupun aku sering mensyukuri nikmat itu. Nikmat memotret Ka’bah, Sofa & Marwah maupun lokasi-lokasi di Masjidil Haram lainnya -walaupun aku tahu itu dilarang- tanpa sekalipun dicegat ashykar. Tak sadar, tujuan ibadahku bisa menjadi bias dengan kamera ini..😦

Pernah sih sekali ke-gap sama ashykar saat sholat Jum’at. Kalau cerita kawan-kawan haji sih, kamera yang tertangkap tidak akan dikembalikan. Begitu pula dengan ashykar yang menangkap basah diriku saat membawa kamera masuk ke masjid. Ia langsung menggeledah tas, menemukan kamera dan berbalik arah. Ia pun cuek saat aku panggil dia untuk berhenti. ‘Wah, kejadian deh, ditahan juga kameraku‘ gumamku saat itu sambil mengikutinya ia pergi.

Tak dinyana, sesampainya di pintu dekat Marwah ia pun berbalik arah sambil memberikan kamera itu kembali padaku. Ia berbicara banyak dalam bahasa Arab yang sayangnya aku tak paham sama sekali. Aku cuma bisa berucap ‘syukron ashykar‘ lalu masuk lewat pintu lainnya. Disini mungkin titik baliknya. Aku langsung merasa jumawa, merasa ‘ah, cuma begitu dowang, katanya kamera bakalan ditahan, nih nyatanya dibalikin juga kameraku.‘ Siang itu aku merasa Allah sayang sekali padaku.

Esok subuhnya, saat aku dan Utami kembali lagi Masjidil Haram, kamera itu tetap aku bawa. Kali ini -seperti biasa- lolos dari penggeledahan ashykar. Sempat aku menggunakan self-timer untuk memfoto kami berdua di dalam masjid. Setelah selesai, kami pun turun, mengantri untuk mengambil air zam-zam di dekat pintu Babussalam.

Saat kami hendak ke KFC untuk sarapan pagi, aku menggeledah saku gamisku, hendak memfoto Utami di depan hotel Hilton. Di saku kiri gak ada, kanan juga gak ada. Innalillahi wa innailaihi rojiun, kameraku lenyap! Utami pun masygul, memintaku untuk kembali memeriksa kantong saku maupun tas sandal. Tetap tak ada. Mungkin kamera itu diambil orang saat antri air zam-zam atau memang Allah tak menyukaiku telah mengabaikan peringatanNya kemarin. Ampuni aku ya Rabb, Maha Suci Engkau.

Last picture from my Kodak LS753 CameraFoto di samping ini adalah foto terakhir yang sempat aku simpan di SD Card PDA-ku. Ya, Allah masih baik padaku. Sudah menjadi kebiasaanku di Mekkah, setiap pulang dari Harom aku langsung mentransfer foto-foto ke PDA. Saat kamera itu hilang, aku baru memfoto 2 kali. Jadi dari sisi hasil fotografi, aku tidak terlalu kehilangan. Allah masih mengijinkanku memiliki foto-foto yang seharusnya aku tidak boleh memfotonya. Tak terbayangkan apabila foto-foto yang jumlahnya sudah ratusan itu tidak sempat aku transfer ke PDA, terima kasih yaa Rabb.

Selanjutnya, setiap hari sebelum atau sesudah menunaikan shalat Fardhu di Masjidil Haram, aku selalu menuju counter lost and found yang terletak di depan pintu Sofa untuk mencari kameraku yang hilang. Hasilnya? Nihil, walaupun aku dijinkan masuk counter untuk mencarinya di tumpukan kamera, mp3 player, dompet, paspor dan barang-barang hilang lainnya namun kamera itu tidak ada disana. Kameraku telah diambil Yang Maha Kaya, tak boleh lagi aku miliki.

Tour ke Jeddah

DT mengadakan tour ke Jeddah siang ini. Sedikit masih ada rasa menyesal karena kamera telah hilang, akhirnya aku mengandalkan video kamera yang selama ini banyak nganggur di tas. Kami menaiki bis menuju Jeddah, berangkat sekitar pukul 14.00. Perjalanan melewati gurun pasir yang saat kami lewat tengah terjadi semacam badai gurun yang menyebabkan jarak pandang hanya sekitar 50-80 meter. Di saat badai gurun itu, tiba-tiba AC bis mati. Hawa panas pun mulai terasa hingga akhirnya pak supir mengentikan bis di pinggir jalan dan mencoba memperbaiki. H Hartono, teman satu rombongan, juga ikut mencoba memperbaiki. Alhamdulillah setelah diperbaiki selama 30 menit, walaupun tidak sesejuk saat berangkat, bis pun meninggalkan gurun menuju Jeddah dengan AC yang menyala kembali.

Replika Sepeda Raksasa di JeddahKota Jeddah, disebut sebagai juga salah satu kota internasional Arab Saudi, memang berbeda dengan kota Mekkah. Kota ini tak berbeda dengan kota metropolitan di negara lain. Disini banyak terdapat gedung-gedung berdesain moderen, pusat perbelanjaan dan rekreasi, taman-taman kota yang lebih rapi sampai ke mobil-mobil tipe terbaru. Kaum non-muslim pun tidak dilarang mengunjungi Jeddah ini. Wanita tanpa penutup aurat yang lengkap pun mudah ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan atau rekreasi. Sebagai sebuah bandar yang terletak ditepi laut dan terdapatnya bandara internasional King Abdul Aziz menjadikan kota Jeddah sebagai gerbang masuk pendatang, turis maupun jamaah haji ke Arab Saudi.

Beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain Masjid Qishash, sebuah masjid yang halamannya dipergunakan untuk pelaksanaan hukuman qishash, baik itu hukuman pancung atau pemotongan tangan. Setelah sholat dua rakaat disitu, perjalanan dilanjutkan menuju Laut Merah. Dalam perjalanan, kami melintasi replika sepeda yang berukuran sangat besar. Entah darimana asalnya, sepeda itu disebut Sepeda Nabi Adam. Tak jauh dari situ juga terdapat replika tasbih yang juga dalam ukuran besar. Kali ini disebut Tasbih Siti Hawa. Ada-ada saja!

Masjid Terapung, Laut MerahSesampainya di Laut Merah, di salah satu sisi pantainya terdapat Masjid Siti Rahmah, yang konon didirikan oleh orang Indonesia. Masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Terapung walaupun tidaklah terapung sebagaimana namanya, namun terletak di bibir pantai dan bila laut pasang maka masjid pun akan dikelilingi oleh air laut layaknya sebuah masjid yang terapung.

Kami berada di pantai ini sambil menunggu matahari terbenam. Pemandangan sangat indah walaupun sore itu banyak awan di cakrawala yang menyebabkan tidak sempurnanya kita melihat matahari yang tenggelam. Saat azan dikumandangkan, kami memasuki masjid untuk sholat Maghrib dan jama’ Isya berjamaah.

Setelah itu kami pun meninggalkan pantai Laut Merah menuju ke Pusat Perbelanjaan Ballad Corniche. Di dalam pertokoan ini, sudah tidak seperti berada di tanah Harom. Banyak kaum wanita yang tanpa menggunakan penutup kepala [kerudung/jilbab] mudah kita temui disini. Satu hal yang mustahil kita temui di Mekkah maupun Madinah. Layaknya Glodok, disini juga banyak dijual barang-barang elektronik. Aku pun mencoba mencari model kamera digital sebagai pengganti kamera yang hilang namun setelah dipikir-pikir kok kayanya lebih murah di Glodok ya batal deh beli kamera di Jeddah.

Bis rusak di perjalanan menuju ke MekkahPukul 21.00 kami berangkat pulang meninggalkan Jeddah. Ditengah perjalanan, tiba-tiba AC kembali mati. Sopir pun menepikan bisnya, berusaha untuk menyalakan kembali ACnya. Seperti terlihat di foto sebelah kiri ini, kami pun turun untuk sekedar membantunya namun tetap saja nihil hasilnya. Akhirnya diputuskan untuk tetap berangkat pulang ke Mekkah dengan pintu bis yang dibuka. Akibatnya, kami yang duduk di dekat pintu harus bertahan dibawah serangan angin malam gurun yang cukup dingin. Alhamdulillah, kami pun sampai kembali ke maktab di Hafair dengan selamat.

Kelak, sesampainya kami di Indonesia, H Agus yang satu bis dengan kami dalam tour ke Jeddah bercerita bahwa saat Ustadz Komar sebagai pembimbing kami sedang menceritakan betapa Rasulullah yang hanya mengendarai unta untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah, pasti akan jauh lebih sulit bila dihadang oleh badai gurun seperti itu. Nah, mendengar cerita itu, H Agus sedikit bergurau, ‘rasanya bagaimana ya mengendarai unta bila ada angin sekencang itu di gurun pasir?’ Akhirnya, bukan hanya dia yang merasakan tapi satu rombongannya dalam bis itu karena kami harus mengendarai bis dengan terpaan angin gurun sepanjang perjalanan pulang dari tour Jeddah ke Mekkah.🙂

Satu pemikiran pada “Journal Haji Week 5 (23/01/06 – 29/01/06)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s