Journal Haji Week 4 (16/01/06-22/01/06)

Thawaf di dekat Ka’bahMAKKAH – Minggu ini Utami sedang ‘berhalangan’. Momentum itu aku manfaatkan dengan memuaskan diri bertawaf di dekat Ka’bah. Maklum, tawaf sendirian di area ini lebih memudahkan karena konsentrasi tidak pecah karena berusaha untuk melindungi Utami saat berdesak-desakan menuju ke pinggiran Ka’bah bila bertawaf berdua dengannya. Aku pun sempat berkeinginan untuk mencium Hajar Aswad, namun karena memang Allah belum mengijinkan, keinginan itu pun belum dikabulkan.

Namun Allah menggantinya dengan memberikan tempat sholat terbaik saat itu. Aku berdiri di baris pertama, persis di belakang Imam Masjidil Haram, Abdul Rahman Al-Sudais. Memang tidak berada tepat dibelakangnya, karena dibelakang beliau adalah para Ashykar yang setia menjaganya. Oya, posisi imam di depan Ka’bah adalah diantara Ka’bah dengan Maqom Ibrahim, sedikit diluar sebelah kanan dari garis imajiner Multazam.

Berdiri di baris paling depan bukan tanpa perjuangan, karena pada saat sedang asyik tawaf, tiba-tiba jamaah yang berada di lingkar paling dekat dengan Ka’bah langsung menggaet tanganku dan menyuruhku berbuat yang sama kepada jamaah disampingku. Yang kemudian terjadi adalah seperti rantai manusia yang ngotot mempertahankan posisinya. Ya Rabb, sebenarnya aku kurang sreg dengan hal ini karena bisa mengakibatkan orang lain merasa ‘terbuang’. Namun tekanan dari belakang yang semakin besar membuatku secara refleks mempertahankan posisiku. Sampai akhirnya datang para ashykar yang menyuruh semua jamaah tenang dan mengambil posisi duduk. Tak lama kemudian terdengar azan Maghrib. Jamaah pun berangsung tenang dan kemudian duduk dengan tertib. Subhanallah, aku sholat tepat di depan Ka’bah!

19 Januari 2006 – Setelah sholat subuh di musholla di depan makhtab, aku dan kawan satu kamar H Edward Abdurrahman yang akrab aku sapa pak Ed, berencana untuk mendaki Jabal Noor. Pihak dari DT tidak mengadakan tour mengunjungi tempat dimana Rasulullah menerima wahyu pertamanya ini sampai ke gua Hira, hanya mengunjungi dari bawah saja. Mendaki Jabal NoorKeinginan yang kuat dari Ed mendorongku untuk mengamini ajakannya mendaki gunung batu itu. Kami pun naik taksi dari Masjidil Haram ke Jabal Noor dengan membayar SR 15.

Sesampainya di Jabal Noor, masya Allah, gunung itu terlihat kokoh, terjal dan berbatu. Ratusan manusia terlihat dari bawah sampai ke puncaknya. Malah tak jarang aku temui ibu-ibu jamaah haji dari Turki yang gigih mendaki. Belum sampai seperempat tingginya jabal itu, kami menemui mayat yang ditutupi dengan kertas koran. Kabarnya, mayat itu baru saja meninggal dan tidak ada yang mengenalnya. Innalillahi wa innailaihi Rojiun.

Setengah perjalanan, nafas kami pun mulai terengah-engah. Ed mengajakku beristirahat di suatu tempat yang nampaknya memang dijadikan stop point. Sesekali kami memandangi pemandangan di bawah. Kami menerka-nerka dimana Ka’bah berada karena menurut cerita dari puncak Jabal ini Rasulullah bisa memandang ke arah Masjidil Haram.

Setelah tenaga pulih, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan banyak terdapat pengemis dan orang-orang berjualan. Ada juga yang meminta sedekah karena sedang bekerja membuat anak tangga untuk membantu orang-orang mendaki. Aku lihat ke atas, ‘Ayo Ed, tinggal sedikit lagi!’ menyemangatinya.

Alhamdulillah, setelah kurang lebih dua jam mendaki gunung batu terjal itu, sampailah kami ke puncaknya. Aku lihat jam, 09:46 di pagi hari. Saatnya sholat Dhuha. Kami pun sholat disana dua rakaat, bebarengan dengan beberapa orang yang mempunyai niat serupa.

Gua HiraTurun sedikit dari puncak gunung, kami pun menjumpai gua Hira. Benar, dari sini terlihat menara-menara Masjidil Haram. Gua itu pun memang menghadap ke Ka’bah, subhanallah. Terbayang betapa agungnya Rasulullah menyendiri di tempat ini sampai datang Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dan kemudian Rasulullah berlari menuruni bukit ini kembali ke Mekkah. Ed berusaha untuk masuk ke gua namun saat itu kondisinya sangatlah padat. Ratusan jamaah yang berebut hendak masuk ke dalam gua -yang hanya bisa dimasuki dua orang dalam satu waktu- membuat niat kami hanya sampai pada mulut gua saja. Shalawat pun langsung terkirim untuk Baginda Rasulullah SAW, membayangkan beratnya perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam yang dimulai dari tempat ini.

Satu jam kami berada di puncak sampai akhirnya kami pun beranjak pulang, meninggalkan Jabal Noor yang masih disemuti oleh ribuan jamaah, naik maupun turun, yang membuat pemandangan begitu fantastik. Betapa kecilnya kita, yang baru dibandingkan dengan sebuah gunung batu dengan ketinggian 650 m dari permukaan laut itu. Kami pun pulang ke makhtab dengan menumpang taksi SR 20 menuju ke Hafair.

I’tikaf

Malam harinya, masih bersama Ed, kami berniat beri’tikaf di Masjidil Haram. Malam itu, beberapa jamaah Kloter 66 JKS berencana akan bertahajud dan bermunajat bersama di lantai 2 Masjidil Haram dengan posisi tepat di depan Multazam Lantai 2 Masjidil Haram di waktu malampukul 03.00 pagi. Untuk itu, kami pun mendahului dengan membawa bekal makan dan minum seadanya, masuk ke Masjidil Haram pada pukul 22.00 WAS.

Suasana di lantai 2 perlahan mulai menyepi. Namun di putaran Ka’bah, lautan manusia masih saja berthawaf, berputar mengelilingi Ka’bah. Subhanallah, benar kata ustadz Solih, tidak akan pernah ada waktu dimana Ka’bah sepi dengan manusia yang berthawaf hingga akhir jaman kelak. Sempat timbul niat untuk mencium Hajar Aswad kembali, namun kuurungkan. Aku memilih membaca Al Qur’an dan akhirnya tertidur sampai seorang petugas kebersihan membangunkanku dan kami pun berpindah tempat.

Pukul 02.30 aku terbangun. Ed sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin ia sedang thawaf. Aku lihat ke bawah, ya Allah, ribuan manusia itu masih saja thawaf. Bergegas aku membereskan perlengkapanku, menuju ke daerah Multazam di lantai dua. Disana aku sudah menjumpai kawan-kawan jamaah dari DT sedang bertahajud dan bermunajat kepada Illahi Robbi. Aku pun ikut bergabung. What a day! Sungguh satu hari yang begitu indah di minggu ini, Alhamdulillah.

Umrah Lagi

Masjid Tan Em22 Januari 2006 – DT memberikan kesempatan kepada jamaahnya untuk melakukan umrah lagi. Ya, kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Alhamdulillah Utami sudah selesai urusan bulanannya sehingga kami pun bisa melakukan umrah berdua. Karena sudah pernah melakukan umrah sebelumnya, kali ini aku berniat mem-ba’dal umrahkan almarhumah ibuku. Semoga Allah menerimanya.

Pagi-pagi jamaah sudah berkumpul di depan makhtab untuk naik bis menuju masjid Tan-Em, yang merupakan miqot atau tempat berniat umrah bagi penduduk kota Mekkah. Masjid ini sungguh cantik. 2 rakaat kami sholat di dalamnya, mengucap niat umrah dan kembali menaiki bis menuju Masjidil Haram.

Sampai di Masjidil Haram, seperti biasa, kumparan Ka’bah terlihat penuh. Penuhnya manusia membuat aku makin bergairah. Aku pun menggandeng Utami, melebur bersama jamaah lain untuk bertawaf. Nikmat sekali!

Selesai tawaf, kami pun sholat dua rakaat di depan Multazam, memohon ridho dan ampunanNya. Tak lupa kami pun menikmati hidangan lezat Allah lainnya di tempat itu, minum air zam-zam sepuasnya. Karena siang itu begitu terik, aku pun membasuh mukaku dengan air yang sangat sejuk itu.

Selanjutnya, kami pun melakukan sa’i dan tahalul. Sebagai syariat, aku memotong rambut di Marwah. Aku urungkan niat langsung membotaki kepala karena Utami minta mengisi perut terlebih dahulu di Bakso Mang Oedin. Aku hanya mengantarkannya masuk lalu mampir di salah satu barber shop yang Pelontos!berjejer di muka pintu Marwah. Kali ini aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan: mencukur habis rambutku tanpa sisa. Insya Allah rambut yang dipotong ini lah yang akan menerangi jalan kita di padang mahsyar kelak. Dalam 5 menit, kepala pun menjadi pelontos, hehehe.

Setelah membayar SR 5 untuk jasa pemotongan rambut itu, aku pun menyusul Utami di Bakso Mang Oedin. Utami hanya bisa bengong melihat suaminya sudah tak berambut lagi, hehehe. Ia pun mengelus-elus kepalaku. Isis kalau kata orang Jawa, dingin gitu loh. Kaya shaolin gak nih? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s