Journal Haji Week 3 – Kamar Barokah

MEKKAH – Istilah Kamar Barokah ini sudah kami dengar sebelum pergi haji. Awalnya, aku berpikiran bahwa ada suatu kamar yang disewakan khusus untuk suami istri yang hendak melakukan jima’ saat beribadah haji apabila semua rukun hajinya telah selesai dilaksanakan. Pemikiran itu tidaklah terlalu salah karena kenyataannya banyak kawan-kawan haji termasuk diri ini yang mulai ‘bergerilya’ mencari kamar hotel untuk disewa setelah puncak ibadah haji purna dilaksanakan.

Mengapa disebut bergerilya karena memang mencari kamar saat puncak musim haji di Mekkah terasa sangatlah sulit. Belum lagi kendala bahasa yang menyusahkan kita untuk bernegosiasi harga. Kita tidak paham bahasa Arab, mereka tidak paham bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Hari itu, sehari setelah kami tiba dari Mina, kami pun tidak dapat menemukan kamar hotel yang kosong. Kami pun pulang kembali ke maktab. Ups, maaf, sebenarnya ada sih kamar yang kosong, tapi itu di Hotel Le Meridien. Namun tarifnya pun melebihi living cost kami. Harganya SR 1450 per malam. Siapa yang sanggup? Hehehehe.. 🙂
Hari kedua pencarian, kami tiba di sebuah hotel di dekat Masjidil Haram. Petugas frontdesknya, namanya Bilal, paham maksud kami dan ia pun mengatakan kamar di hotelnya penuh. Namun ia menjanjikan untuk mencarikannya di hotel lain. Ia pun mengajak kami berkeliling naik mobil sedan tuanya. Masya Allah, Bilal sangat sembrono membawa mobilnya. Tak jarang ia memaki mobil orang lain yang menghalangi jalannya atau mengerem tiba-tiba. Padahal -dalam hatiku- caranya ia mengemudi sungguh menakutkan. Aku lihat Utami dan ia pun sama cemasnya dengan cara mengemudi si Bilal ini.

Utami di depan Hotel ElafAkhirnya kami pun sampai di salah satu Hotel Elaf, di sebelah utara Masjidil Haram. Di Makkah ini terdapat beberapa hotel Elaf. Alhamdulillah, hotelnya sangat bagus, jauh lebih bagus dari yang aku berani bayangkan dan yang paling penting, harganya pun sesuai dengan kantong, SR 150 per malam. Saat check-in, petugasnya meminta paspor kami. Tentu saja kami tak punya karena paspor haji langsung diserahkan pada mutawif saat ketibaan di bandara Jeddah. Malangnya, petugas itu keukeuh berkata,”No Passport, No Room!”. Haduh! Aku pun minta tolong Bilal membantuku menyelesaikan masalah ini namun ia pun setuju dengan kawannya, tak ada paspor ya tak ada kamar.

Namun Allah mengerti jeritan hati ini, hehehe. Sang petugas berkata bahwa di lantai 7 ada orang Indonesia yang telah menginap di hotel ini. Namanya Bapak Djunaedi dari KBRI Tripoli Libya. Si petugas membolehkan kami apabila bapak tersebut bersedia namanya dipakai untuk kamar yang akan kami tempati. Ia pun menelpon ke kamar bapak Djunaedi dan setelah berbicara dengan bahasa Arab ia pun memberikan teleponnya kepadaku agar aku berbicara langsung dengan beliau. Alhamdulillah, bapak Djunaedi sangat mengerti keadaan yang kami alami dan beliau pun bersedia memberikan namanya untuk kamar yang ternyata satu alley dengan kamar beliau. Kami pun akhirnya mendapatkan kamar barokah atas ijin Allah SWT dengan bantuan pak Djunaedi di Hotel Elaf itu. Cihuy!

Oya, saat kami turun untuk makan malam, kami pun berkesempatan bertemu dengan bapak Djunaedi dan ibu. Beliau pun tersenyum sembari mengucapkan selamat menempati kamar barokah, aha! Terima kasih sekali lagi ya pak.

Inti cerita, apabila kawan ada yang pergi berhaji dan telah memiliki paspor hijau, sebaiknya paspor itu dibawa saja. Karena identitas kita di tanah suci, yaitu gelang haji dan kartu alamat maktab kadang tidak berlaku sebagai ‘KTP’ kita. Memang ada kawan jamaah yang saat check-in tidak diminta paspor karena cukup dengan menunjukkan gelang haji, tapi bukankah sedia payung lebih baik disaat hujan?

Satu pemikiran pada “Journal Haji Week 3 – Kamar Barokah

  1. emang repot kalo urusannya sama adik kecil yang satu itu bo. aplagi saat kita harusnya fokus ibadah dan berlomba memberbanyak amal.padahal kalo gak dituruti jg repot.palagi bg bapak-bapak..kalo dah horny kegesek kain ikhrom aja dah….eh rasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s