Journal Haji Week 3 (09/01/06-15/01/06) – Jumrah & Thawaf Ifadah

MINA, 10 Januari 2006 – Pukul 04.00 pagi kami pun terbangun, ambil air wudhu dan mengerjakan sholat tahajud di bawah jutaan bintang. Hawa cukup dingin menusuk tulang dan aku pun mengimami sholat tahajud dengan istriku. Nikmat sekali.

Pukul 05.00 Aa pun memimpin sholat subuh berjamaah di Muzdalifah. Setelah selesai, kami pun bergerak menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumrah. Perjalanan 5 km itu harus ditempuh selama 2 jam, karena jutaan jamaah juga bergerak menuju Mina. Alhamdulillah, ayam ‘tawaf’ sisa makanan tadi malam ternyata cukup ampuh sebagai pengganjal perut pagi itu.

Menunggu Giliran Lempar JumrahSesampainya di tempat jumrah, jamaah DT pun berhenti, menunggu komando untuk menentukan lantai mana yang akan ditempuh untuk melempar jumrah. Setelah melihat situasi dan kondisi yang cukup padat akhirnya diputuskan rombongan melempar jumrah dari lantai dasar. Agak susah juga, karena kami yang membawa tas ransel harus pula melindungi istri dan jamaah akhwat lainnya karena tak jarang kami temui jamaah dari negara lain yang begitu bersemangat, bergerombol dan melempari jumrah secara membabi buta. Alhamdulillah, kami pun selamat melakukan lempar jumrah aqobah. Tak lupa aku menyempatkan mewakili jamaah ibu-ibu yang memintaku untuk melemparkan batu untuknya.

Setelah selesai, kami pun berkumpul di dekat tempat pemotongan rambut. Saat itu, aku, H Denden dan H Edward sepakat untuk langsung memotong rambut tanpa harus melakukan thawaf Ifadah terlebih dahulu. Hal ini kami sepakati setelah membaca buku Berhaji sesuai Tuntunan Rasulullah yang menyarankan untuk melakukan tahalul setelah selesai melempar jumrah. Ini memang berbeda dengan Aa Gym yang setelah selesai lempar jumrah langsung bergerak menuju Makkah untuk melakukan Thawaf Ifadah hari itu juga. Memang, saat manasik pun kami diberi kebebasan oleh DT untuk memilih waktu melakukan Thawaf Ifadah.

Seusai Tahalul Awal di MinaSetelah selesai menggunduli kepala dengan biaya SR 5, kami pun bergerak pulang menuju tenda. Di tengah jalan kami mampir dahulu ke restoran cepat saji Al Baik, semacam KFC-nya Arab gitu lah. Subhanallah, betapa nikmat makanan itu dan kami pun menyantapnya di pinggir jalan karena memang Al Baik disitu hanya menyediakan menu ‘Take Away’.

Di tengah perjalanan saat menuju tenda, kami bertemu dengan rekan-rekan jamaah satu kelompok dan masya Allah, ada ibu jamaah yang sudah cukup sepuh, sudah tidak dapat lagi berjalan karena kelelahan. Aku dan H Denden pun menjadi relawan yang memapah ibu itu. Namun karena terlalu berat akhirnya kami pun meminta tolong Karom untuk mengambil kursi roda dari tenda dan membawanya kemari.

11 Januari 2006 – Setelah bertahajud dan subuh berjamaah, jamaah pun bersiap menuju ke Masjidil Haram. Ada suatu kerinduan yang amat sangat setelah meninggalkan Ka’bah selama 4 hari ini. Sebelum ke Mekkah, kami pun melempar jumrah, kali ini ketiganya -Jumrah Aqobah, Wustha dan Ula- dan rombongan memilih melempar jumrah dari lantai 2. Alhamdulillah semua lancar dan kami pun bergerak menuju Aziziyah untuk mencari bus yang membawa kami ke Masjidil Haram. Setiap jamaah dipungut SR 2 untuk membayar biaya transportasi itu.

Sai di dekat MarwahSesampainya di Masjidil Haram, rombongan pun berpencar, melakukan thawaf Ifadah masing-masing. Lautan manusia yang mengitari Ka’bah malah menambah semangat kami untuk bertakbir, berdoa, bershalawat mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran. Air mata pun tak mampu lagi dibendung, sebagai manifestasi rindunya kami pada tempat yang suci ini. 1 jam kami melakukan thawaf, dilanjutkan dengan Sa’i. Di Shofa Marwa ini pun jamaah begitu banyaknya sehingga sa’i kali ini terasa sangat melelahkan. Saat azan Lohor berkumandang, aku dan Utami pun berhenti sejenak dan melakukan sholat di sekitar Marwa.

Sesuai janji dengan kawan-kawan satu kelompok, setelah selesai melakukan Sa’i kami pun berkumpul di Bakso Mang Udin. Siang itu restoran sangat penuh dengan jamaah dari Indonesia. Setelah perut kenyang, kami beranjak ke depan hotel Sofitel untuk bersama-sama mencari bis yang membawa kami kembali ke Mina sebelum Maghrib tiba.

Tak lupa, kami pun iseng menanyakan kamar di hotel Sofitel. Maklum, apabila rukun haji sudah selesai dilaksanakan, ada ibadah sunnah yang sayang untuk dilewatkan, hehehe. Orang kita sering mengartikannya dengan ‘kamar barokah’. Namun niat kami menyewa kamar di Sofitel untuk 3 hari ke depan ternyata belum diijinkan oleh Allah karena kamar telah penuh terisi. Siang itu kami pun kembali ke Mina.

Memijat Aa GymSaat ashar, Aa berkenan menjadi imam di tenda kami. Bahkan setelah selesai sholat, ia pun merebahkan diri, beristirahat dan meminta siapa pun jamaah yang ikhlas untuk memijatinya. Tanpa diminta, kami pun berebut untuk memijat Aa. Kapan lagi bisa begini coba, hehehe.

Malamnya, Aa Gym memberikan tausiyah pertamanya di sini. Banyak juga jamaah dari rombongan daerah lain yang meminta terpal pembatas tenda dibuka agar mereka dapat juga mendengarkan tausiyah itu. Aa pun mengijinkan dan suasana pun menjadi ramai namun tetap khusyu’ mengikutinya.

12 Januari 2006 – Para jamaah lain yang memanfaatkan Nafar Awal hari ini meninggalkan Mina. DT mengambil Nafar Tsani, yang menggenapkan 3 hari berada di Mina hingga esok. Hikmahnya, antrian kamar mandi pun menjadi lebih longgar. Aku pun bisa sepuasnya mandi dan bersih-bersih hari ini. Hari ini kami melempar jumrah lagi. Kali ini dari lantai dasar. Walaupun tetap padat Alhamdulillah kami semua selamat.

Malamnya, Aa datang lagi ke tenda dan kali ini Aa malah hendak bermalam di sini. Oya, DT mempunyai 2 maktab, satu untuk jamaah Bandung dan satunya lagi untuk jamaah DKI. Aa pun bergiliran tidur di kedua maktab itu. Dan malam itu mungkin malam keberuntunganku karena Aa memilih untuk tidur di alas sajadahku. Karena terlalu capai, pukul 21 pun Aa sudah tidur saat jamaah secara sukarela dan bergantian memijati kakinya. Malam itu aku tidur disamping Aa dan keesokan harinya aku pun diberi tahu kalau saat Aa siaran untuk MQ Pagi, Aa ‘mengeluhkan’ karena teman tidur di sampingnya sangat keras mengorok dan secara bergurau menerimanya sebagai ‘back sound‘ siarannya pagi itu. Siapa yang mengorok ya? Hehehehe…

Utami dan Teh Ninih13 Januari 2006 – Hari ini adalah hari terakhir kami ada di Mina. Rombongan DT pun kembali terpecah, ada yang memilih jalan kaki dan ada yang naik bus untuk menuju ke Maktab di Mekkah.

Setelah ba’da lohor [walaupun saat itu hari Jumat namun tidak ada Jumatan di Mina], kami pun bergerak menuju tempat lempar jumrah untuk melempar jumrah terakhir kalinya, sebelum meneruskan perjalanan menuju ke Mekkah. Alhamdulillah, 2 jam kami berjalan untuk menggenapi 50 km kami berjalan kaki dari Mekkah – Mina – Muzdalifah – Arafah – Mudzdalifah – Mina – Mekkah selama 5 hari ini. Kami mengikuti sunnahmu ya Rasul.

2 pemikiran pada “Journal Haji Week 3 (09/01/06-15/01/06) – Jumrah & Thawaf Ifadah

  1. Terima Kasih mas menuliskan kisahnya.
    Jadi tahu kondisi utk beberapa hari lagi Insya Allah saya berangkat dgn DT juga….

    Alhamdulillah, senang sekali bisa membagi apa yang saya tahu di blog ini. selamat jalan ukhti, semoga menjadi hajjah yang mabrurah, amin. waah, ikut KBIH DT juga ya? siapa karomnya? salam ya untuk Aa dan teh Ninih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s