Pergantian Tahun yang Suram

JAKARTA – Pagi ini saat aku berkendara bersama Utami menuju kantor, di sign board Jalan Tol Jakarta-Cikampek terpampang tulisan ‘Cawang-Tomang Lancar’. Memang, setelah tahun baru kemarin jalanan masih lengang. Nikmat sekali berkendara tanpa harus macet dan serobot sana-sini. Apalagi pada tanggal 2/1 pagi kemarin, hujan gerimis dan matahari mengiringi perjalanan kami dan itu membuat langit di depan kami berhiaskan pelangi yang –subhanallah– indah sekali. Bumi rasanya damai, sejuk dan menyenangkan.

Namun tidak demikian dengan siaran-siaran radio pagi itu. Kami terbiasa pukul 06.00 saat start dari rumah mendengarkan Nuansa Pagi RCTI yang direlay oleh Trijaya FM kemudian pada pukul 06.30-nya saluran radio berubah ke Elshinta FM untuk mendengarkan Fokus Pagi Indosiar. Isi beritanya sebagian besar mirip: Kecelakaan pesawat AdamAir, tergelicirnya LionAir di Ambon, kemudian musibah tenggelamnya Kapal Motor Senopati Nusantara. Belum lagi beberapa berita mengenai banjir di beberapa daerah di Aceh Tamiang, Mandailing Natal dan Riau, lumpur Lapindo yang seakan tanpa henti dan ini yang bikin perut makin mulas: laparnya jamaah haji Indonesia di Armina (Arafah & Mina). Astaghfirullah, ampuni kami ya Rabb.

Betapa negeri yang indah ini begitu dekat dengan bencana. Sejak tahun 1998, negeri kita porak poranda dengan kejadian-kejadian yang disebabkan oleh alam maupun ulah manusianya sendiri. Hampir 10 tahun reformasi apakah belum cukup kita mengatakan ‘kita belum mengubah nasib kita sendiri?’ Bukankah Allah telah berfirman tak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak mengubahnya? Atau apa seperti yang terkutip dalam hadist Qudsi bahwa Allah akan menimpakan bencana kepada suatu tempat dimana sudah tidak ada lagi orang-orang yang melakukan sholat berjamaah di Masjid/Musholla? Dimana orang-orang sudah tidak ada lagi yang mau bersujud dan menyembah Sang Pencipta?

Sampai saat tulisan ini ditulis, pesawat AdamAir belum ditemukan. Banjir juga masih mengakrabi saudara-saudara kita di Sumatera. Korban tenggelamnya kapal juga banyak yang belum terselamatkan. Lumpur Lapindo kabarnya baru bisa berhenti puluhan tahun lagi. Menteri Agama pun diminta mundur karena ‘menelantar-laparkan‘ jamaah haji di Tanah Suci. Masya Allah, ada apa dengan ini semua?

Tapi pagi di Jakarta, seperti yang aku tulis diatas, sangat lah damai seakan-akan tidak bersentuhan dengan hiruk pikuk musibah di luar sana. Atau jangan-jangan Allah sengaja membiarkan kota yang sering diisi dengan kemaksiatan, kemunafikan dan kezaliman ini untuk terlena dengan fananya kenikmatan?

Semoga tidak, karena pada pergantian tahun kemarin masih banyak masyarakat yang melewatkan waktunya dengan berzikir, bermunajat kepada Sang Khalik dan berdoa agar bumi Indonesia kembali attinna fiddunn’ya hasanah. Kabulkan doa kami ya Rabb, Amin.

Satu pemikiran pada “Pergantian Tahun yang Suram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s