Kami Berbeda Agama, tapi Tetap Satu..

JAKARTA – Tanggal 25 Desember kemarin merupakan hari Raya Natal untuk umat Nasrani. Sebagai keluarga yang memiliki orangtua berbeda agama, pada waktu kecilku bukanlah hal yang aneh mempunyai dua hari raya dalam setahun. Parsel pun diterima dua kali, saat lebaran dan natal. Iya, almarhum bapakku seorang Muslim dan almarhumah ibuku dulunya juga seorang Nasrani. Anak mereka empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Yang laki-laki ikut agama bapaknya menjadi Muslimin hingga saat ini, dan yang perempuan ikut agama ibu, Nasrani, juga hingga kini.

Aku sebagai anak yang tertua, saat orang tua masih hidup belumlah terlalu memikirkan perbedaan agama ini. Orang tua kami begitu toleran terhadap agama kami masing-masing. Paling-paling dulu sempat terbersit keinginan untuk memiliki seorang ibu yang sama-sama pulang ke rumah seusai sholat iedul fitri, misalnya. Tapi setelah tiba di rumah dan melihat ibu telah berdandan cantik dan menyiapkan hidangan lebaran, hilang pula keinginan yang tadi itu.

Toleransi yang ditanamkan bapak dan ibu dulu adalah menjaga keimanan masing-masing. Yang Islam tidak boleh mengajak yang Nasrani untuk pindah ke agamanya, begitu juga sebaliknya. Itu kami pegang sampai saat ini, paling tidak secara verbal aku tidak pernah mengemukakan betapa inginnya adik-adikku yang Nasrani untuk mengikutiku memilih agama Islam. Jadi tak heran, apabila tanggal 25 Desember tiba, aku mengajak istri dan anak-anakku untuk mengunjungi adik-adikku yang merayakan Natal. Aku hanya ingin ikut merasakan kebahagiaan adik-adikku yang merayakan hari rayanya bersama keluarga besarnya walaupun tanpa ucapan ‘selamat natal’.

Para jamaah di Musholla Baiturrahim tempat aku berjamaah selama ini pun merasakan ada yang kurang tepat dengan tindakanku untuk mengunjungi rumah adikku yang sedang merayakan hari rayanya, tapi aku pun punya alasan tersendiri mengenai hal ini. Kuncinya adalah tetap berpegang teguh pada akidah yang kita anut.

Seperti pada kunjungan kemarin, dimana untuk pertama kalinya kami membicarakan suatu permasalahan yang ditinjau dari sudut pandang agama kami masing-masing. Kami juga membawakan cuplikan ayat dari kitab suci masing-masing (Al Qur’an dan Injil) untuk mendukung statement dalam pembahasan itu. Suatu hal yang belum pernah kami lakukan selama ini, Subhanallah. Yah, siapa tahu dengan seringnya berdiskusi agama, adikku bisa mendapatkan hidayah untuk lebih mengenal Islam dengan sendirinya.

Aku merasa inilah suatu ikhtiar yang bisa aku lakukan dalam membina hubungan antar manusia yang tidak sampai menyalahi akidah agama kita. Kami memang berbeda keyakinan tapi kami juga akan tetap bersaudara, sampai kapanpun.

Wallahua’lam bisshowab.

Satu pemikiran pada “Kami Berbeda Agama, tapi Tetap Satu..

  1. Alhamdulillah, ternyata masih ada juga manusia yang berpola pikir realistik seperti anda. Pada dasarnya semua agama selalu mengajarkan hal-hal yang baik, yang berbeda hanyalah cara melaksanakannya. Membaca Al-qur’an setelah shalat bagi muslim atau membaca injil sebelum tidur bagi kristiani. Janganlah membuat perbedaan menjadi jarak bagi kita dengan yang lainnya. Perbedaan membuat kita saling menghormati dan toleransi, itu yang terpenting didunia ini. Saya menikah dengan suami yang keturunan Yahudi tetapi dia masuk Islam dan saya juga selalu ikut merayakan natal dan memahami budaya nasrani dan yahudi. Ternyata antara Islam dan Yahudi sangat dekat, meraka haram untuk makan babi dan hewan yang hidup di dua habitat dan masih banyak lagi. Sekarang kami tinggal di Kanada dan insyaallah jika suami mendapatkan pekerjaan di Indonesia atau Malaysia, akan lebih memahami Islam secara mendalam. Wassalam

    Alhamdulillah, senang membaca komentar & kehidupan pernikahan anda. Semoga suami tetap mendapat hidayah Islam dari Allah SWT dan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas taqwa kepada Allah SWT.

    Bagaimana Islam di Kanada? Saya baca di harian Republika disana sudah mulai banyak yang mempelajarinya ya? Semoga demikian.

    Jazakallah Khoir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s