Duka itu terasa sampai disini..

JAKARTA – Sungguh tak terasa, waktu setahun seperti sekejap. Rasanya baru kemarin tanggal 8 Februari 2006 kami pulang dari tanah suci, tanggal 28 Nopember 2006 Kloter I dari Banda Aceh sudah berangkat. Minggu lalu kami menyempatkan hadir ke Pamulang Estate dimana om dan tante kami mengadakan walimatussafar untuk saling bermaafkan sebelum berangkat haji pada tanggal 24 Desember esok, di komplek perumahan kami ada juga satu calon jamaah haji yang insya Allah akan berangkat pada tanggal yang sama.

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika La syarika laka labbaik.
Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka laa syarii ka lak.

Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah, Tiada sekutu bagiMu.
Segala puji dan segala nikmat adalah milikMu dan segala kekuasaan adalah milikMu, Tiada sekutu bagiMu.

Kalimat talbiyah telah dikumandangkan, saatnya kita meninggalkan semua atribut duniawi termasuk keluarga kita untuk menyambut panggilanNya.

Setahun yang lalu, saat hendak berangkat ke tanah suci kami disarankan untuk membuat ‘surat wasiat’ untuk anak-anak dan keluarga yang kami titipkan. Waktu mengetik surat itu, air mata pun mengalir karena memang isi surat itu layaknya surat perpisahan bahkan surat kematian. Mengapa, karena perjalanan haji adalah jihad yang memerlukan fisik yang kuat dan prima. Tak sedikit jamaah yang berpulang ke Rahmatullah saat menunaikan ibadah haji. Untuk itulah diperlukan surat wasiat yang berisikan pesan-pesan terakhir kita kepada anak-anak dan keluarga. Tentu saja, surat itu sebaiknya baru dibuka apabila kita benar-benar tidak diijinkan Allah untuk pulang lagi ke rumah menemui anak-anak tercinta.

Di harian Republika dua hari yang lalu menuliskan laporan mengenai tiga laki-laki yang mengalami ujian yang berat di tanah suci. Salah satunya adalah seorang suami yang istrinya meninggal di pangkuannya saat bis yang mereka tumpangi ditabrak dari belakang oleh bis jamaah haji dari Palestina di dekat Arafah. Usia pasangan itu seperti usia kami saat berhaji. Anak-anaknya pun sebaya dengan anak-anak kami. Ya Allah, aku dapat merasakan beban yang ditanggung oleh sang suami itu, pasti berat sekali harus kehilangan istrinya disaat mereka dijamu Allah di tanah suci. Belum lagi saat aku baca pengakuannya yang masih belum tahu hendak bagaimana menyampaikan kabar duka ini ke anak-anak mereka. Ya Rabb, berikanlah yang terbaik bagi anak-anak mereka dan ringankanlah beban kehidupan anak-anak itu sepeninggal ibu mereka.

Sebelumnya, ada lagi bis rombongan haji Indonesia mengalami kecelakaan yang fatal dan mengakibatkan seorang jamaah haji meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Bahkan jamaah haji ini adalah jamaah yang baru saja meninggalkan Madinah hendak menuju ke Mekkah. Artinya, mereka belum sempat merasakan nikmatnya bersujud di Masjidil Haram sebelum kecelakaan itu terjadi. Semoga niat hajinya sudah diterima oleh Allah.

Dua peristiwa itu benar-benar merupakan cerita sedih dari suatu kegembiraan yang harusnya mereka dapatkan. Tapi semua adalah rahasia Allah. Allah pasti mempunyai rencana besar dibalik musibah itu bagi mereka. Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan kepada umatNya melebih kemampuan kita menanggungnya. Belum tentu mereka yang belum merasakan nikmatnya wukuf di Arafah karena sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Allah tidak menjadi haji yang mabrur. Mungkin malah kita yang sudah pulang dari tanah suci tapi petantang-petenteng dengan titel dan panggilan baru ‘pak haji’ bisa saja tidak diterima hajinya oleh Allah. Istilahnya Aa Gym, jangan sampai naik hajinya satu kali tapi dipanggil haji dua kali. Maksudnya, jangan sampai ada orang yang menggibah, ‘haji-haji kok nggak sholat’ atau ‘haji-haji kok gak bayar zakat’, naudzubillah.

Aku tidak mengenal jamaah haji yang wafat itu tapi duka yang dirasakan oleh keluarganya terasa sampai disini. Semoga Allah menerima haji mereka dan meringankan hisabnya, amin.

Satu pemikiran pada “Duka itu terasa sampai disini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s