Semarang, Our Culinary City

JAKARTA – Weekend kemarin, Sabtu & Minggu, aku dan Utami beserta 3 adikku berkesempatan mengunjungi kembali kota asal kami, Semarang, untuk menghadiri pernikahan sepupu. Sejak awal keberangkatan, Utami sudah mempunyai angan-angan untuk mengunjungi kembali beberapa tempat makan sewaktu kami kuliah dulu.

Maklum, dengan alasan penghematan dan kesehatan, anak-anak terpaksa kami tinggal di Jatibening bersama tantenya, jadi kami berdua pun punya banyak rencana untuk mengunjungi sana sini hari Sabtu & Minggu itu. Maklum sekali lagi, kalau bukan saat Lebaran kami jarang sekali ke Semarang. Nah, pas libur Lebaran warung makan atau toko makanan langganan kami ini pastilah tutup. Jadi, saat seperti inilah yang terbaik untuk ‘napak tilas’ mengunjungi tempat makan favorit kami dahulu.

Sesampainya di Bandara Ahmad Yani, kami dijemput untuk langsung menuju rumah pengantin wanita di Ungaran. 3 jam kami berada di sana sebelum turun kembali ke Semarang untuk check-in di sebuah hotel di Jalan Pandanaran. Setelah melepas penat dengan berendam air panas, kami pun mulai mengelilingi seputaran Simpang Lima untuk memulai ‘memantau’ tempat makanan yang bisa diserbu.

Sasaran pertama adalah Toko Roti Danti di Jalan Pandanaran. Dulu toko ini bernama Danish, yang mungkin karena kena peraturan untuk mengindonesiakan nama merek akhirnya berubah menjadi Danti. Dulu sebelum kami pergi kencan menonton film di Studio 21, favorit kami untuk menemani menonton film adalah Burger Danti yang sangat lezat itu. Sayang sekali, saat kami datang sore itu burger Danti sedang habis. Tak apalah, cheese burger pun bisa mengobati kerinduan rasa burger Danti. Karena sudah terlalu sore dan malamnya ada acara di rumah tante di Pedurungan, kami pun memilih pulang ke hotel dan berencana untuk meneruskan penyerbuan kuliner sepulang dari acara.

Dari Pedurungan, kami pun mengelilingi Simpang Lima. Terlihat Tahu Petis Prasojo masih saja ramai dikunjungi orang. Hendak berhenti tapi malam minggu itu Simpang Lima ramai sekali. Lagi pula, tadi di rumah tante kamipun sudah mencicipi tahu petis walaupun sedikit. Ke selatan, ke Jalan Pahlawan, sederetan warung kaki lima sudah siap menanti. Dulu langganan kami adalah Nasi Uduk si Tante, demikian kami menyebutnya karena yang menjual hanya lah seorang wanita keturunan Tionghoa, sendirian melayani pembelinya. Tapi kemarin kami sudah tidak melihat lagi tenda warungnya.

Deretan Tahu Gimbal sepanjang trotoar Jalan Pahlawan sudah menerbitkan air liurku. Sayang sekali istriku tidak berminat. Ya sudah, kami pun putar arah balik ke Simpang Lima lalu menuju Jalan Gajah Mada lalu ke perempatan Depok belok kiri. Disini sudah ada penjual Tahu Pong yang cukup ramai. Di sebelahnya, ada warung Nasi Goreng Depok yang sangat ngetop itu. Kami pun berhenti untuk membeli masing-masing 2 bungkus guna dibawa pulang ke hotel.

Minggu pagi, tak ada yang bisa menahan keinginan kami untuk menyerbu Pecel Singosari di Pleburan sebagai sarapan. Alamak, hari minggu ternyata dia tutup! Entah karena kepagian atau memang tutup di hari Minggu, akhirnya kami pun cuma menelan air liur saat meninggalkan warung pecel yang sampai sekarang tidak berubah lay-out dan warna dindingnya.

Dari situ, kami ke Jalan Mataram untuk mencari Lumpia Semarang yang sudah melegenda itu. Bederetnya barisan penjual lumpia sempat membuat bingung, mana yang harus dibeli. Beruntung adikku Wiwiek mengingat mana yang harus dipilih. Akhirnya sekeranjang lumpia lezatpun diborong untuk oleh-oleh.

Lurus menuju Jalan Cendrawasih kami pun berhenti di Toko Oleh-oleh D Mulyono untuk membeli .. apa lagi selain Wingko Babat. Hmm, lezat, sudah lama sekali sejak wingko terakhir masuk ke perut membuatku ingin tambah dan tambah saja, hehehe. Favoritku adalah wingko dengan rasa klasik, tapi Utami pun membeli wingko dengan rasa Nangka dan Pisang Raja yang ternyata cukup lezat juga.

Belok kiri dari Jl. Cendrawasih kami pun melewati Jalan Pemuda, tempat Toko Oen berdiri di depan Pasaraya Sri Ratu. Sayang seribu sayang, pagi itu tempat dimana kami dulu pernah duduk-duduk santai sambil menikmati es krim Tutti Frutti disitu, masih tutup. Lagi-lagi kami pun cuma lewat saja sambil membayangkan apakah es krim Tutti Frutti masih senikmat yang dulu.

Dari Jalan Pemuda, kami berbelok ke kiri ke Jalan Thamrin. Kami putuskan untuk sarapan di Warung Soto Ijo di sebelah kanan jalan. Oh, ternyata sekarang berubah nama menjadi Soto Cipto. Tak apalah, yang penting rasanya tetap sama. Biasanya orang Semarang mungkin lebih senang dengan Soto Bangkong, yang di Jakarta pun banyak gerainya, tapi sewaktu kami kuliah dulu Soto Ijo ini lah yang menjadi pilihan. Maklum, kantong mahasiswa sepertinya lebih memilih harga yang lebih murah deh dibanding yang mahal, hehehe.

Selepas sarapan soto, Utami memintaku mengantarnya ke Jalan Tumpang, untuk mengambil Kue Moachi sebagai oleh-oleh. Dulu waktu kuliah sih tidak pernah tahu apa itu Kue Moachi, tapi karena sering dibawakan sebagai oleh-oleh dari teman yang kebetulan dinas ke Semarang, akhirnya kamipun bertekad mencarinya langsung yang fresh from the oven. Sayangnya, karena waktu terbatas setelah dari daerah Tumpang kami pun harus pulang ke hotel dan malah lupa harus mampir ke Toko Bandeng Juwana di Jalan Pandanaran.

Selesai berkeliling di pagi hari ini, kami berdua pun baru menyadari betapa kota Semarang yang sangat panas itu mempunyai banyak potensi sebagai DTW [Daerah Tujuan Wisata] khususnya untuk wisata kuliner. Meskipun oleh Pemerintah Kota Semarang Jalan Pandanaran telah diberi gapura Gerbang Oleh-oleh Semarang, tapi tempat culinary yang lain sepertinya kurang mendapat perhatian.

Dibawah ini beberapa tempat makan favorit kami yang lain yang bisa direkomendasikan bila ada pembaca yang hendak mengunjungi kota Semarang selain yang disebut diatas:

  • Warung Empek-empek Palembang di Jl. Seteran [Depan kampus Untag]
  • Bubur Ayam di Seputaran Simpang Lima [untuk sarapan]
  • Restoran Nglaras Rasa di Jl. Thamrin [Fast food]
  • Ayam Goreng Basuki [pelawak] di Poncol [semoga masih buka]
  • Warung Sea Food di depan bioskop Plaza – Simpang Lima
  • Soto Bangkong di perempatan Bangkong
  • Roti Bakar Tlogorejo [dekat RS Tlogorejo]
  • Warung Sate Kambing Dua Saudara di Jalan Pahlawan
  • Toko Roti Wonder Bakery [roti bagelennya enak bener!] di Jl MT Haryono

Selamat berwisata!

7 pemikiran pada “Semarang, Our Culinary City

  1. Aduuuh enak tenan…, bikin ngiler. Jadi kepengin pulang ke Semarang nich terutama beli mie Jowo Pak Hasto di jalan Mrican depan SD Muhamadiyah sama Tahu Petis Prasojo di Simpang 5.

    hahahaha, sama pak. saya juga baru sadar setelah meninggalkan semarang.. taunya semarang sangat layak dijadikan wisata kuliner karena keanekaragaman masakan dan makanannya ya. tahu petis prasojo? mauuuuu… :))
    thanks sudah mampir bos..

  2. welcome to Semarang lagi,walopun memang cuaca sangat panas dan sering rob,tapi kota ini layak untuk diperjuangkan sebagai kota wisata kuliner yang asik..
    cuma maaf,mungkin Bapak/ibu harus lebih lebih memperhatikan kehalalan makanan,karena di Semarang banyak kuliner yg mungkin komposisinya tidak halal.
    terimakasih..

    benar pak, terima kasih sudah diingatkan. memang saat penulisan cerita itu, masalah halal belum menjadi sebuah kebiasaan bagi kami. namun insyaAllah, semakin hari semakin bertambah ilmu dan pengalaman membuat kami menomorsatukan kehalalal sebuah produk, apalagi makanan, sebelum kita konsumsi.

    matur nuwun mas juoro.

  3. udah pernah nyobain siomay &batagor yang paling enak di semarang belum?,,kini telah di buka warung siomay bon-bon di jl. mugas, sebelah kiri unisbank pandanaran.Semarang,,, siomay bon-bon, lezat siomaynya, maknyus sambal kacangnya…murahhh, cuma Rp. 3.000 udah dapet 1 porsi,,,,enak,lezat dan bergizi. coba datang dan buktikan kelezatannya,,,,…

  4. udah pernah nyobain siomay &batagor yang paling enak di semarang belum?,,kini telah di buka warung siomay bon-bon di jl. mugas, sebelah kiri unisbank pandanaran.Semarang,,, siomay bon-bon, lezat siomaynya, maknyus sambal kacangnya…murahhh, cuma Rp. 3.000 udah dapet 1 porsi,,,,enak,lezat dan bergizi. coba datang dan buktikan kelezatannya,,,,…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s