Jumatan di Baiturrahman

BANDA ACEH – Alhamdulillah, di Jumat awal bulan September ini aku diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk beribadah sholat Jumat di sebuah Masjid Raya, sebuah landmark kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman.

Sejak awal kedatangan di kota ini, Masjid Raya ini sudah menggodaku. Betapa aku ingin menunaikan sholat fardhu di situ, namun hingga 7 hari aku di Banda Aceh, barulah Alloh mengijinkanku bersujud dan bermunajat di dalamnya. Maklum, pekerjaan yang dilakukan disini benar-benar menyita waktu. Mana jarak antara kantor KIP ke Masjid Raya ini cukup jauh, sekitar 20 menit naik angkutan umum [labi-labi].

Masjid Raya Baiturrahman AcehSebelum masuk ke masjid, masih tersedia 30 menit sebelum azan Sholat Jumat. Aku berjalan ke depan kolam, di depan masjid, dan memotret masjid dari segala sisi. Karena di Banda Aceh pada hari itu ada Kongres Nasional BKPRMI, aku rasa banyak kontingen dari luar daerah yang seide denganku, memotret dan mejeng di depan masjid. Aku pun dibantu oleh seorang bapak untuk memotret diriku di depan kolam.

Sesaat sebelum azan berkumandang, aku memasuki Masjid Baiturrahman. Ya Rabb, mengapa aku merasakan aura yang hampir sama seperti saat aku memasuki Masjidil Haram? Aku merasa, Masjid ini begitu istimewa. Terlepas dari kenyataan bahwa tsunami tak mampu merobohkan sebatang tiangpun disini, bangunan kuno Masjid Raya ini memang luar biasa indahnya. Puluhan tiang menyangga bangunan inti dengan latar belakang ornamen khas Samudera Pasai di sekitar tempat imam. Lantai marmer yang dingin mengingatkanku pada pualam Masjidil Haram yang selalu sejuk. Ratusan burung walet yang terbang di atas masjid, lengkap sudah membuka memori indah saat beribadah di Baitullah. Rasanya tak mungkin hampir dua tahun yang lalu, sesuatu yang luar biasa terjadi di sekitar dan di dalam Masjid ini.

Khotbah Adhyaksa Dault di AcehSaat bilal mengumumkan nama khotib siang itu, bertambahlah rasa syukur ini karena saat itu Menpora Adhyaksa Dault didaulat menjadi khotib. Diluar dugaanku -karena memang aku tak pernah melihat beliau berkhotbah- ternyata Menpora begitu lancar dan piawai. Beliau membawakan salah satu ayat Surah Al A’raf (QS 7:179) yang menekankan bahwa betapa banyak manusia yang lebih hina dari tikus, yang hanya mencari makan tanpa memikirkan keadaan sekitarnya; betapa banyak manusia yang lebih hina dari -maaf- anjing, yang mencaplok tanah saudaranya tanpa peduli bahwa hidup ini hanyalah sementara, padahal mereka telah dianugerahkan hati tapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat kebesaran-kebesaran Allah dan mereka mempunyai telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Pak Menteri, saat membaca doa di penghujung khotbahnya, mampu membuat jamaah disekitarku meneteskan air mata. Doanya begitu khusyu’ dan menyentuh, membawa ke suasana saat tsunami menerjang kota ini. Bahkan, saat iqomah dikumandangkan pun, kami berdiri dan masih banyak yang sesenggukan dan mengusap air mata, larut dalam penghayatan doa yang tadi diucapkan, Maha Suci Allah.

Kenikmatan berikutnya, imam memimpin sholat dengan lantunan ayat-ayat suci berlafal khas Abdurrahman Al-Sudais, imam Masjidil Haram. Masya Alloh, rasanya tak mengapa bila imam memilih ayat-ayat panjang kalau sudah nikmat begini. Sayangnya, mungkin karena masih ada acara setelah Sholat Jumat, sang imam pun cukup membacakan surah yang tadi dikupas oleh pak Menteri, Surah Al A’raf ayat 179 (QS 7:179).

Selesai sholat, aku pun bertafakur, bermunajat dan berdoa kepada Illahi Robbi. Purna berdoa, aku baru menyadari bahwa suasana di sekitar Masjid begitu hening, tak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang. Subhanallah, betapa Negeri Serambi Mekkah ini begitu menghormati waktu ibadah, sehingga semua kegiatan jual beli pun berhenti bila tiba waktu sholat, persis seperti keadaan di tanah suci.

Ah, aku begitu beruntung siang itu, dibukakan mataku bahwa betapa nikmat beribadah di Masjid yang bersejarah ini, bergabung bersama ratusan jamaah yang lain. Terima kasih ya Rabb, Engkau kabulkan doaku lagi..

2 pemikiran pada “Jumatan di Baiturrahman

  1. Subhanallah, saya belum pernah mendapatkan rezeki singgah di Masjidil Haram, namun sungguh beruntung kami orang Aceh kiranya jika aura yang dimiliki Bairurrahman, tak usahlah sama seperseratus pun bolehlah, seperti aura Masjidil Haram.

    Jazakallah Akhi, antum memberi alasan lain bagi saya untuk bersyukur hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s