Journal Haji Week 3 (09/01/06-15/01/06) – Puncak Ibadah Haji

MINA – 9 Januari 2006

bersiap ke arafahPukul 03.44, rombongan Daarut Tauhiid telah bergerak menuju Muzdalifah. Di Muzdalifah, kami beristirahat sejenak sembari menunggu azan subuh. Aa pun mengimami sholat subuh. Setelah itu, kami pun berjalan kembali menuju Arafah, tanah yang akan bersaksi bagi kami di akhirat kelak.

Berjalan kaki selama hampir 5 jam dari Mina – Muzdalifah – Arafah membuat kakiku lecet-lecet. Lecet berat tepatnya. Alhamdulillah tepat pukul 8.32 kami pun menginjak Arafah. Sesampai di tenda, aku langsung rebahan, meminta tolong pak Adrian dan pak Gunung untuk mengobati kakiku.

Tepat sebelum lohor, Aa Gym memberikan khotbah Arafahnya. Khotbah yang sederhana tapi sangat dalam maknanya. Salah satunya Aa mengingatkan betapa banyak mukminin yang jauh lebih khusyu’ sholatnya, lebih baik ibadahnya tapi Alloh malah mendahulukan kita berhaji. Betapa haji ini berat bukan hanya saat ini saja tapi justru setelah kita pulang ke tanah air.

diTendaArafahSetelah khotbah selesai, kami pun larut dalam doa Arafah. Cukup panjang doa yang kami baca, tapi aku tak mau sedikitpun waktu terlewati tanpa bermunajat kepada Alloh. Tak ada jaminan dari Alloh aku akan dapat memohon dan memanjatkan doa di tempat ini lagi, tempat yang didatangi oleh ribuan malaikat, yang melaporkan setiap doa yang kita panjatkan kepada Sang Khalik.

Setelah ashar, rombongan kembali bersiap menuju Muzdalifah. Awalnya aku hendak ikut bis, mengingat kakiku yang sangat lecet. Tapi Utami dan kawan-kawan menyemangati aku dan Alhamdulillah, pilihanku tak salah. Aku kembali berjalan kaki ke Muzdalifah.

Perjalanan yang awalnya terasa berat, menjadi ringan karena ratusan ribu jamaah juga banyak yang berjalan kaki. Kalimat talbiah dan kumandang takbir, bergantian bersahut-sahutan, membuatku lupa dengan penat dan lecetnya kaki ini. Terlebih saat Aa Gym kadang berjalan ke rombongan belakang untuk menyemangati para jamaahnya.

muzdalifahAkhirnya, malam itu kamipun selamat sampai di Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu-batu kecil yang akan dipergunakan untuk lempar jumrah keesokan harinya. Bergegas kami mencari tempat untuk tidur dan bersama pak Agus Pramono, habib Zaglul serta para istri, kami pun terlelap dibawah jutaan bintang gemintang yang menggantung di atas sana.

2 pemikiran pada “Journal Haji Week 3 (09/01/06-15/01/06) – Puncak Ibadah Haji

  1. Ass,
    Koq cerita “pembalut di telapak kaki” gak ada??
    Apa terkena sensor? he he he

    Kapan mengulang lagi ya Ji??

    Wass,

    ADR

    wa’alaikumussalam,
    benar ‘ji, sempat terlintas mau nulis soal pembalut itu sebagai rasa terima kasih atas keikhlasan antum sehingga ana bisa jalan kaki balik ke Mina.. tapi setelah dipikir-pikir kok ntar jadi terfokus pada masalah pembalut itu jadinya ya kena sensor deh, hahahaha..

    amiiin.. ‘duh, setiap mendengar kata ‘kloter’ langsung teringat tanah suci.. semoga Allah mengijinkan kita kembali lagi ke sana, amiiin..
    jazakallah ‘ji..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s