Journal Haji Week 2 (02/01/06-08/01/06)

MAKKAH – 2 Januari 2006

Utami mengajakku mencari mahtab ibu dan bapak di Misfalah. Hanya tahu daerah Misfalah tapi kami tak tahu ada di mahtab nomor berapa. Bermodal nekad, selepas subuhan dan sarapan di KFC depan Haram, kami pun berjalan kaki ke arah Misfalah.

Naik taksi dari MisfalahTanya sana tanya sini, akhirnya kami pun menyerah. Kami tidak dapat menemukan makhtab Ibu hari itu. Kami sudah menelpon ibu beberapa kali tapi HP ibu tidak dapat dihubungi. Kami pun pulang naik taksi ke Hafair, dengan biaya SR 15.

Malamnya, pertemuan pertama Kelompok 3 bertempat di kamar 102, kamarnya pak Tri. Pertemuan yang diikuti oleh semua anggota berjalan penuh keakraban dan santai. Ada beberapa tanya jawab seputar ritual ibadah haji yang dijawab oleh Ustadz Komar dengan sangat lugas.

MAKKAH 3 Januari 2006 – 03.00 Bertempat di Multazam lantai 3 Masjidil Haram, kami dipertemukan dengan Aa Gym untuk pertama kalinya. Daarut Tauhiid (DT) menyediakan waktu bagi kloter 66 JKS untuk sholat tahajud berjamaah dengan Aa dan teh Nini. Aa bermunajat menghadap ke Ka’bah dan semua jamaah haji berlinangan air mata, tak sanggup untuk menahan rasa syukur yang amat sangat, yang sangat besar dilimpahkan Alloh kepada kami.

Foto Kabah PertamaDisinilah, untuk pertama kalinya aku memotret Ka’bah. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh kita lakukan, karena membawa kamera ke dalam Masjidil Harampun sudah dilarang oleh ashkar, apalagi memotret Ka’bah. Namun karena banyak teman-teman melakukannya, tak urung membuatku nekad memfoto Ka’bah, yang belakangan menjadi obsesi tersendiri yang membuahkan hukuman Alloh ditimpakan kepada diriku, astaghfirullah.

Siangnya, aku dan Utami kembali mencoba mencari makhtab ibu di Misfalah. Alhamdulillah, kali ini doa kami terkabul. Utami dipertemukan dengan orang tuanya. Kami pun beristirahat cukup lama di makhtab Ibu, yang ternyata sudah dekat kami kunjungi hari kemarin.

Sorenya, Alloh memberiku kesempatan untuk sholat fardhu pertama kali di lingkaran Ka’bah. Aku sholat Maghrib berada pada barisan ke empat dari depan Ka’bah. Masya Alloh, nikmat sekali!

MAKKAH – 6 Januari 2006 Pukul 01.00 Kang Komar memintaku untuk menemaninya live siaran via telepon untuk mengisi MQ Pagi, yang biasanya dibawakan oleh Aa. Pada hari itu nampaknya Aa tidak bisa siaran dan Kang Komar diminta untuk menggantikan Aa.

Ada rasa gugup juga, mengingat MQ Pagi Aa Gym ini di-relay oleh ratusan radio di Indonesia dan disiarkan secara streaming oleh beberapa radio internet. Namun kang Komar meyakiniku untuk tetap tenang.

Dan ditemani oleh backsound kawan-kawan yang sedang tidur (maaf kang dudi, pak edward & pak abdullah!), kami berdua pun siaran dengan memanfaatkan speakerphone hp Nokia 9500 milik kang Komar. Alhamdulillah, siaran yang 30 menit itu dapat kami selesaikan dengan cukup baik.

Mengantar Ibu yang tersesat..
Paginya, sepulang dari subuhan di Harom, beberapa rekan jamaah akhwat (halo Fenny & Elis!) membawa pulang seorang ibu tua yang tersesat. Ibu itu tidak tahu dimana makhtabnya. Dari tanda pengenal yang dikenakan, ternyata makhtabnya ada di Misfalah. ‘Whew, udah pengalaman ini pak karu ke Misfalah‘, kata Feny. Alhasil, aku pun didaulat untuk mengantarnya pulang.

Mengantar Ibu Tersesat ke MisfalahBerhubung hari itu hari Jumat, kami pun Jumatan dulu di Harom untuk pertama kalinya. Aku ditemani kang Dudi, rekan sekamarku. Masya Alloh, Harom hari itu penuh sesak. Kami pun tak dapat tempat untuk Jumatan. Seusai sholat Jumat, kami pun mulai berjalan ke arah Misfalah. Baru tahu kami, bahwa hari Jumat tidak ada angkutan yang lewat Masjidil Harom, karena begitu penuh sesak oleh manusia.

Tapi, subhanallah, ibu tua itu ternyata kuat sekali berjalan kaki! Kamipun yang lebih muda, jadi jiper dibuatnya. Tak terasa, meski siang hari itu terik sekali, karena diiringi lautan manusia dan semangat sang ibu, kami pun melupakan rasa penat dan sengatan panas kota Makkah. Hasil bertanya sana sini, kami pun sampai lah ke tempat makhtab ibu tersebut.

MAKKAH – 7 Januari 2006 Selesai subuhan di halaman depan hotel Dar Al Tawhid, Aa memberikan beberapa instruksi mengenai tanazul yang Insya Alloh akan dilakukan besok.

MAKKAH – 8 Januari 2006 TANAZUL Makkah – Mina

Selesai mandi wajib, kami pun berbaris menuju Harom. Di depan pelataran hotel Dar Al Tawhid, Aa sudah menunggu. Kami sholat tahajud dan subuh disitu sebelum menunggu komando untuk mulai bergerak, berjalan kaki ke Mina.

Setelah beristirahat sebentar di boulevard Aziziah, kami pun meneruskan perjalanan ke Mina.

Berpose bersama Aa & Teteh di MinaTak terasa 3 jam berjalan kaki, kami pun sampai ke Mina pada pukul 09.26 pagi. Kami pun memasuki tenda, yang seharusnya belum boleh ditempati. Ya, DT selalu melakukan tanazul, atau berjalan kaki dari Mekkah-Mina, dilanjutkan Mina-Muzdalifah-Arafah dan kembali lagi ke Mina dan Mekkah. Karena DT melakukan start lebih awal, pihak pemerintah Arab Saudi belum membuka fasilitas di tenda Mina pada hari ini, sehingga untuk makan dan minum kami pun harus membeli makanan ringan di tenda luar.

Malamnya, kami pun diberi kesempatan untuk berfoto bersama Aa dan teh Nini seusai sholat Isya dan tausiyah Aa Gym di tenda Mina.

4 pemikiran pada “Journal Haji Week 2 (02/01/06-08/01/06)

  1. Saya terharu baca cerita ibadah haji antum tahun 2006 silam,…memang ada kekhasan ibadah haji tanazul dan yang jadi kebiasaan positif jemaah haji DT
    Artikel antum di blog ini juga bagus=bagus, bolehlah mampir ke blog aku ya…siapa tahu ada yang layak dibaca…nuhun (salam kenal dari hamba yang dhaif)…

    assalamu’alaikum akhi achmad..
    sesama makhluk dhaif haruslah saling menyampaikan kebenaran.. sayang URL blog antum tidak tertulis dengan benar jadi ana tidak bisa melakukan kunjungan balasan. bisa kirimi lagi URL yang benar? jazakallah akhi.

  2. Sangat menarik ketika disimak,sangat indah untuk dilakukan, sangat berat bisa dilakukan mengingat semuanya ini hanya bisa dilakukan oleh orang berduit dan ruwet masalah ekonomi. semoga haji dan semua pelaksanaan ritual haji mejadi simbol keimanan dan ketqwaan, merubah pola hidu lebih baik, serta setia trhada Allah dan Nabi. amin

    amin, pak, terima kasih. haji tidak melulu orang berduit saja lho, banyak yang berangkat ke tanah suci karena memang Allah menghendakinya meskipun ia bukanlah orang yang mampu. berhaji memang rahasia Alllah SWT dan oleh sebab itu saya setuju dengan anda, semoga haji menjadikan orang yang melakukannya dapat menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, dunia akhirat.

  3. Memang benar, haji bukan hanya bagi orang berduit, akan tetapi karena pangilan-Nya. ini terbukti, waktu itu saya memang tidak mungkin menunaikan Ibadah Haji, ternyata saya dapat beasiswa, bisa melanjutkan kuliah S1 di Umm al-Qura University. Dengan demikian, saya bisa melaksankan ibadah haji berkali-kali selama menjadi mahasiswa. Jazakumullah…

    alhamdulillah, benar kang qosdie, saya juga banyak punya cerita tentang orang-orang yang secara khusus diundang Allah ke baitullah dan arafah walaupun secara ekonomi tidak mampu. hanya Allah yang mampu memberangkatkan kita semua, papa atau tidaknya kemampuan kita.

    Kapan berangkat Haji lagi? saya di ajak dong…..

    yuuk, minta sama-sama agar kita dapat kembali ke Tanah Suci.. ‘duh nikmatnya. kabulkan ya Rabb, amiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s