Journal Haji Week 1 – Umrah

MAKKAH – 1 Januari 2006 Pukul 04:00 Kami tiba di Makkah Al Mukarramah. Langsung menuju Hafair, dan bersama 3 Karu lainnya [pak Tri, Kang Denden & ‘Habib’ Zaglulsyah] beserta Kang Komar sebagai Karom, langsung membagi-bagikan kunci kamar. Kami menempati rumah No. 394.

Ketua KBIH, Bpk Sholih Sofyan , menginstruksikan untuk menunda Umroh sampai waktu dhuha, mengingat biasanya pada waktu itulah keadaan di Masjidil Haram tidak terlalu padat.

Pukul 10.00 rombongan berangkat menuju Masjidil Haram. Rombongan dipecah per kelompok dan kami pun memasuki Masjidil Haram melewati pintu yang disunnahkan, Pintu Babussalam, nomor 23.

Masya Alloh, di jembatan Babussalam badan ini bergetar saat hendak melihat ka’bah untuk pertama kalinya. Saking gemetarnya tubuh ini, sampai aku tak kuasa menahan angin yang keluar. Batal-lah sudah suciku. Saat itu kawan-kawan sudah menuruni tangga Babussalam saat aku berbisik ke Utami, ‘nduk, aku batal. Harus wudhu lagi nih. Kamu mau ikut rombongan atau ikut aku?

Istriku mantap, mengikuti suaminya. Padahal kami berdua pun tak tahu harus kemana bila hendak berwudhu. Maha Besar Alloh yang Maha Memberi Petunjuk. Aku pun bisa menemukan tempat berwudhu yang berada dekat Pasar Seng setelah bertanya-tanya kepada jamaah asing baik dengan bahasa isyarat ataupun bahasa Inggris.

Setelah berwudhu, kami pun melewati lagi Pintu Nomor 23. Disinilah kami menyadari betapa manasik haji sangatlah diperlukan. Benar kata pak Sholih, haji haruslah berilmu. Bukan maksud menyombongkan diri, tapi apa yang Daarut Tauhiid berikan kepada calon jamaah haji saat manasik, dengan intensitas yang luar biasa, membuat kami serasa hafal dengan medan perjuangan yang sesungguhnya.

Kami pun melakukan thawaf sebanyak 7 putaran. Kembali, saat thawaf aku hampir tak kuasa menahan getaran tubuh ini. Ya Rabb, Ka’bah begitu dekat, begitu nyata. Maha Besar Engkau yang mengijinkan hambaMu yang sarat dosa ini mengitari tempat suci ini. Tapi kali ini aku dapat menahan untuk tidak membuang angin. Kalau air mata, biarlah tumpah ruah seberapa banyak ia mengiringi doa dan istighfarku.

Selesai thawaf, kamipun sholat 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim, meminum air zam-zam yang berlimpah, melakukan sa’i dan tahalul. Purna sudah umroh kami, yang kami lakukan berdua saja, tanpa bimbingan siapapun kecuali bimbinganNya, Subhanallah.

Di bukit Marwa, kamipun bertemu kembali dengan rekan serombongan, yang mudah ditemukan karena memakai syal Daarut Tauhiid yang berwarna hijau. Setelah sholat Lohor pertama kali di Haram, kami pun berjalan kaki pulang ke Hafair.

3 pemikiran pada “Journal Haji Week 1 – Umrah

  1. Masya Allah … ternyata tahun 1426 H sama-sama nginap di daerah Hafair (saya di maktab 26) nih Bro Oni … pernah mampir ke Rumah Makan milik orang Bogor yang nylempit di gang kecil di Ummul Qura Road nggak ?

    subhanallah.. memang dunia kadang terasa kecil bro.. kenal di milis taunya pernah sedaerah waktu di hafair, hehehe. tentu, jamaah di hafair pasti pernah ke rumah makan bogor itu kang. syukron pak haji..

    oya, btw, saya oyi, bukan bro oni.. 🙂

  2. Assalaamualaikum wr wb

    Insya Allah Saya akan berangkat tahun ini dan akan ditempatkan di mahtab hafair.
    Mohon informasi tentang mahtab hafair sperti : berapa jarak dari masjidil haram, jalan yang mudah untuk ke masjdil haram, tempat makan yang sesuai dengan lidah kita, apotik, dan segala sesuatu yang penting untuk saya ketahui

    Wassallamualaikum Wr wb

    wa’alaikumussalam,

    subhanallah, semoga anda benar-benar dapat berangkat dan pulang sebagai haji yang mabrur, amin.
    hafair-haram secara umum konturnya datar namun menanjak saat mendekati masjidil haram. jarak terjauh
    dari masjidil haram sekitar 1,5 km. kalau berjalan kaki kurang lebih 30-40 menit.

    bila capai berjalan kaki bisa menumpang kendaraan umum, biasanya 1 riyal mereka mau terima. bahkan
    kalau beruntung, ada pengendara yang tidak mau dibayar alias gratis.

    soal apotik, terdapat apotik yang cukup lengkap obat2nya. di jalan raya juga terdapat laundry, pangkas rambut, hotel, restoran baik milik orang arab maupun penyewa dari indonesia. jangan khawatir dengan kebutuhan sehari-hari, banyak terdapat warung arab yang menjajakan banyak produk2 seperti di indonesia.

    bila hendak memperbanyak sholat di masjidil haram, saya biasanya berangkat sebelum ashar dan pulang setelah isya. kembali lagi ke harom saat sholat tahajud sampai subuh selesai. biasanya setelah itu saya pulang dan sholat dzuhur di masjid dekat maktab.

    akhirulkalam, selamat jalan, selamat menikmati jamuan Allah di Tanah Suci. jangan lupa doakan kaum muslimin di indonesia terutama yang sudah menginginkan berhaji namun belum mendapat ijin dari Allah SWT.

    ps: jangan lupa mampir di bawah hotel hilton untuk beli teh susu dan kebab sebagai pengisi perut, hehehe..

  3. Assalam. Ibu mau ty hafair itu sekitar berapa kilometer dari masjidil harom

    terimakasih
    wassalam

    wa’alaikumussalam,
    hafair sekitar 1,5 km. kalau berjalan kaki 15-20 menit sampai haram. naik ‘omprengan’ 1 atau 2 riyal.

    salam untuk ibunda ya, semoga menjadi haji yang mabrurah, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s