Menyiapkan Target di Bulan Ramadhan
20 Agustus 2009 11:54
JAKARTA – Tinggal sedikit lagi masuk bulan suci Ramadhan 1430H. Sudah tiga Ramadhan ini rumah kami selalu dihiasi atribut menyambut datangnya sang bulan suci. Ini kami lakukan agar anak-anak tergugah semangat dan motivasinya untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tema tahun ini adalah ‘Ramadhanku Bercahaya Bersama Abi & Ummi‘. Desain itu kami cetak dalam ukuran 1m x 1.5m dan digantung di dekat musholla rumah, yang diharapkan berfungsi untuk mengingatkan anak-anak bahwa saat ini adalah saat yang sangat berharga untuk beribadah sebanyak-banyaknya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga sudah mempunyai target ibadah masing-masing. Si Ummi kemarin menyerukan kepada Ingga dan Najah, akan memberi Rp 50.000,- untuk satu juz Al-Qur’an yang diselesaikan. Mata Ingga pun berbinar-binar, mungkin ia membayangkan akan memperoleh uang seperti di permainan PetSos-nya [yang menjengkelkanku itu] lalu bisa beli ini itu. Ia pun bertanya, ‘Bila khatam Qur’an, bisa dapat satu setengah juta dong ‘mi, nanti uang ummi habis.‘ Si Ummi pun menjawab, ‘Tak apa-apa. Yang penting anak ummi bisa khatam Qur’an.‘
Sah-sah saja kan, menggugah semangat anak-anak lewat iming-iming sesuatu, baik berupa barang ataupun uang? Karena terkadang anak-anak drop semangatnya di tengah jalan. Bosen lah, capek lah, dan banyak lagi alasan lainnya. Biasanya dengan memberikan suntikan semangat demikian, mereka pun sadar, mereka mempunyai target yang harus dipenuhi.
Bagaimana dengan orang tuanya? InsyaAllah, kita pun tidak mau kalah dengan anak-anak . Bila saat umrah 9 hari saja bisa khatam 1 kali, seharusnya 30 hari bisa lebih dong ya, hehehe. Tapi aku sadar diri, ghirah di sini tidaklah sekuat di Tanah Suci, apalagi waktunya yang susah bila harus lama bertadarus setiap selesai sholat fardhu. Target khatam 1 kali masih realistis namun harus ditambah dengan target menghafalkan semua surah di juz ke 30, insyaAllah.
Nah, bagaimana dengan anda, sudahkan mempunyai target ibadah di bulan suci kali ini?
Bagi pengguna aplikasi CorelDraw [versi 11 atau yg lebih besar] yang mau mengunduh file gambar diatas, silakan download disini (70 Kb).
Berlibur ala ‘Free and Easy’
16 Juli 2009 22:50
Tulisan ini dilengkapi dengan file excel untuk panduan itinerary.
JATIBENING – Berlibur di musim libur sekolah dapat dipastikan dimana-mana tempat hiburan, atraksi, penginapan serta transportasi mencapai puncaknya. Bagi kita yang hendak melakukan perjalanan tamasya, ada baiknya menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari sebelum hari-H. Selain dapat menghemat biaya, juga memudahkan kita untuk merencanakan tempat wisata yang akan dikunjungi.
Baru-baru ini kami mengajak anak-anak berlibur ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia selama 4 hari 3 malam. Memang cuma 4 hari namun persiapannya sudah kami lakukan sejak 3 bulan yang lalu. Dimulai dari pemesanan tiket pesawat dan hotel, merencanakan transportasinya, membikin rencana tour hari per hari sampai estimasi biaya yang dibutuhkan. Semua direncanakan berdasarkan budget yang tidak terlalu besar namun juga sebisa mungkin tidak mengorbankan kenikmatan berlibur.
Semua berawal saat kami melihat iklan sebuah biro travel perjalanan yang menawarkan paket Free and Easy. Jadi travel tersebut hanya menyediakan tiket pesawat dan hotel, selebihnya terserah anda. Yang penting pada hari keberangkatan diterbangkan ke negara tujuan, dibawa ke hotel lalu pada hari kepulangan dijemput dan terbang kembali pulang. Mereka hanya menyediakan buklet tempat-tempat wisata yang disarankan namun tidak menyediakan tour apalagi guidenya. Pokoknya, terserah saja dah mau kemana juga.
Hmm, kalau gitu, mending gak usah pakai biro travel. Urus saja sendiri semuanya, ya nggak? Klik untuk info lebih lanjut yang lebih seru..
Novel Najah
20 Maret 2009 17:45
Untuk dua cahaya kami, Ingga dan Najah. Abi ummi bangga sekali dengan kalian!
JATIBENING – Diawali dari kegemaran sang kakak membaca, lama-lama pun menular ke Najah, anak kami nomor dua. Buku yang suka dibaca Ingga salah satunya adalah seri Kecil-kecil Punya Karya (KKPK) terbitan Mizan. Seri ini menampilkan deretan karya ‘novelis-novelis’ kecil yang rata-rata masih di tingkat Sekolah Dasar (SD), seperti buku Kado untuk Ummi karangan Siti Izzati, pelajar kelas III SD yang baru berusia 8 tahun.
Berangkat dari situ, si Najah rupanya tidak hanya gemar membaca, namun juga ingin mempunyai karya sendiri. Kami pun membiarkan Najah memakai komputer untuk mengetik. Kadang ia dibantu Ingga, yang sering kurang sabar memberi tahu adiknya mengetik di Microsoft Word namun kadang sangat wise dalam memberi contoh tulisan atau menyumbangkan ilustrasi. Walaupun terkadang lebih sering sendiri, kami sebagai orang tuanya tidak mau cawe-cawe atau ikut campur. Kami ingin hasil karyanya benar-benar tulisan dari seorang gadis kecil kelas 1 SD.
Selamat Hari Ibu
22 Desember 2008 12:43
JAKARTA – Hari Sabtu kemarin, Ingga dan Najah taunya mempunyai rencana sendiri. Mereka hendak memberikan kado bagi umminya. Bukan kado ulang tahun, namun untuk hari Ibu, yang memang jatuhnya berdekatan dengan hari ulang tahun umminya.
Saat tahu abinya hendak berbelanja perlengkapan olah raga di suatu mal, Ingga pun langsung membuat daftar barang pesanan kepada adiknya beserta sejumlah uang [yang katanya hasil tabungan mereka berdua]. Daftar barang itu pun diserahkan Najah kepadaku saat ia melihat sebuah toko buku di mal tersebut.
Oh, ternyata mereka hendak menghadiahkan sebuah buku untuk umminya yang memang hobi membaca. Saat kutanya, berapa jumlah uang yang hendak dibelikan buku, Najah menjawab ‘dua puluh lima ribu‘ seraya menambahkan ‘kata kakak, kalau uangnya kurang, minta abi aja‘. Bagus, a smart suggestion, pikirku, hehehe..
Najah tak perlu lama-lama mencari buku yang hendak diberikan kepada umminya. Ia telah berpikir untuk membeli buku resep masakan. ‘Karena ummi suka masak dan kemarin ummi bingung mau masak gulai untuk abi‘ katanya, yang mengingatkanku saat Utami menanyakan hendak diapakan daging kambing qurban tempo hari.
Subhanallah, anakku memang ajaib. Hal-hal kecil seperti itu selalu diingatnya, bahkan saat kami tidak sedang mengajaknya berbicara, ia sering merekam pembicaraan yang kami lakukan.
Jadilah pada hari itu kami pulang dari mal dengan membawa sebuah buku yang hendak mereka hadiahkan untuk umminya malam ini di rumah. Sampai aku menulis tulisan ini, Utami pun belum tahu apa kado dari anak-anaknya itu.
Selamat Hari Ibu, istri & ibu dari anak-anakku. Semoga engkau tetap menjadi madrasah dan samudera ilmu bagi buah hati kita, amin.
Pernikahan Adikku Sayang
5 Agustus 2008 11:10
JATIBENING – Akhirnya, adik bungsuku Chita menyudahi masa lajangnya dengan menerima pinangan Bona, teman kuliahnya di UI, pada tanggal 26 Juli 2008 yang lalu. Chita, juga adik perempuanku yang lain – Wiwiek, berbeda agama denganku. Jadi saat pemberkatan nikahnya di gereja HKBP Cibubur, aku pun tak bisa menyaksikannya.
Pulau Beras Basah
3 Juli 2008 22:02
BONTANG – Salah satu tujuan utama berlibur ke Bontang kemarin adalah mengunjungi sebuah pulau pasir di perairan Laut Bontang. Saat menjelang keberangkatan, aku sudah menceritakan kepada Ingga dan Najah bahwa nantinya kita akan bermain di pulau yang isinya pasir putih melulu dan air laut yang jernih. Mereka makin tidak sabar saja menunggu hari keberangkatan itu.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Om Thom sudah mencharter speed boat untuk menuju ke sana. Jaraknya yang hanya 5 mil atau sekitar 8 km dari Boat House [pangkalan speed boat di daerah Marina Bontang] ditempuh dalam waktu 15 sampai 20 menit saja. Aku yang sudah lama tidak merasakan sensasi naik speed boat ini benar-benar menikmatinya, demikian juga Utami, Ingga dan Najah. Tatkala ada gelombang yang diciptakan kapal yang melaju menuju arah sebaliknya, speed boat agak berguncang keras, namun anak-anak malah menikmatinya. Syukurlah, aku sudah takut saja mereka mabuk. Maklum, naik mobil saja mabuk apalagi naik kapal, hehehe.. Read the rest of this entry »
Terima Kasih Istriku
24 Juni 2008 10:32
JAKARTA – Hari-hari kerja biasa kita berdua berangkat bersama, kali ini aku hanya mengantarkanmu ke terminal mobil omprengan di depan komplek perumahan kita. Kau cium tanganku sebagai tanda takzim-mu kepadaku, semoga menjadi tanda keikhlasan untuk pergi sendirian ke medan jihad pagi itu. Kerelaanmu untuk berdesak-desakan, kepanasan dan berkeringat serta hilangnya waktu untuk membicarakan topik yang sedang hangat diperbincangkan di radio kesayangan kita, semoga itu juga tidak mengurangi niatmu.
Bukannya aku sedang ingin sendiri istriku. Bukan pula gara-gara kenikmatan yang baru kutemukan ini membuatku lupa padamu. Namun ijinkan aku tak mengantarmu dua-tiga hari dalam satu pekan saja, agar keinginanmu memiliki suami yang bugar, sehat dan tidak kegendutan dapat aku hadirkan. Keridhaanmu sangatlah aku harapkan karena aku tak berani membayangkan azab Allah yang akan menimpaku bila kau tak ridha atas apa yang aku lakukan sekarang.
Sungguh, aku tidak lagi selingkuh. Aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi suami yang engkau harapkan, suami yang tidak ‘memberatkanmu’. Kamu tetap percaya padaku kan?
Terima kasih istriku, demi Zat yang diriku ada di tanganNya, kau tetap tak terbandingkan. Aku jauh lebih mencintaimu daripada sepeda baruku ini…
Kebetulan yang Bukanlah Kebetulan
26 Maret 2008 14:16
JATIBENING – Pagi kemarin saat sedang menuju tempat beraktifitas, telepon Utami berbunyi. Ternyata dari mbak/pengasuh anak-anak di rumah. Ia meminta maaf karena mas kawin/mahar yang aku serahkan saat menikahi Utami hampir 11 tahun yang lalu telah terjatuh dari tempatnya dan pecah kacanya. Sejenak aku marah, menanyakan kepadanya bagaimana bisa bingkai uang itu yang tergantung rapi selama ini kok bisa jatuh dan pecah. Karena Puji, nama pengasuh anak-anak itu, telah meminta maaf dan menyadari kesalahannya, akhirnya dengan perasaan sedikit kesal aku maafkan dan kututup telepon. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, diingatkan oleh Utami untuk mengucapkan kalimah istirja’ itu.
Sorenya, sesampai di rumah aku lihat mas kawin tersebut. Yah, benar, sudah berantakan uangnya. Jumlah uang sebesar Rp. 18.497 yang menyimbolkan tanggal pernikahan kami pada 18 April 1997 sudah berantakan tak karuan. Untungnya, kaca bingkai itu tidaklah pecah. Kaca itu masih sanggup menahan kepingan uang untuk tidak berserakan dan hilang.
Kiat Meninggalkan Anak untuk Pergi Berhaji
28 November 2007 9:32
JATIBENING – Meninggalkan anak-anak untuk pergi dalam waktu yang lama tentu tidak mudah, meskipun kepergian itu untuk memenuhi panggilan dari Sang Rabbal ‘alamin.
Pada saat kami berhaji, si Ingga hampir 8 berusia tahun sementara si Najah masih 3,5 tahun. Sejak kita mendapat kabar dari Mbak Evelin dari KBIH Daarut Tauhiid bahwa kita mendapat kuota, secara perlahan kita mulai mengkondisikan anak-anak bahwa mama & bapak-nya (itu panggilan kita sebelum berhaji, yang secara sepihak lalu diganti oleh si Najah menjadi Ummi & Abi, dengan alasan karena kita sudah berhaji, Subhanallah anakku yang satu ini memang omongannya sering membuat kaget) akan meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama.
Karena anak-anak bersekolah di SDIT dan TKIT (keduanya di Raudhatul Muttaqin, Jatimakmur, Pondok Gede) mereka mendapat pengetahuan yang cukup tentang haji dari guru-guru di sekolahnya, sehingga kala kita sampaikan bahwa kepergian ummi & abi-nya untuk memenuhi panggilan-Nya, mereka tidak keberatan. Ingga si sulung mengerti bahwa kami pergi untuk menunaikan salah satu rukun Islam. Sementara Najah, jika ada yang bertanya padanya ‘Najah nanti sama siapa kalo mama pergi haji?’. Dengan mantap dia akan menjawab ‘’kan dijaga sama Allah’. Bahkan Najah juga membawa satu hafalan hadist dari gurunya yang kebetulan sangat pas untuk bapaknya yaitu ‘innamal a’malu bin niat’ tentu saja bersama artinya yang diteriakkan keras-keras layaknya kalau menghafalkan di sekolah ‘sesungguhnya amal itu tergantung niat’. Masya Allah, sebuah peringatan bagi kami untuk meluruskan niat haji kita hanya karena Allah semata.














