Si Udin

20 April 2010 12:19

Pemuda kelahiran 1977 itu menelponku subuh kemarin. Ia baru saja tiba di terminal bis Pulo Gadung, mengantar seorang khadimah baru pesananku yang dibawanya dari Jepara. Namanya Muhammad Fakhruddin, biasa dipanggil Udin, pemuda desa Tunggul Pandean di Kecamatan Nalumsari Jepara, tempat aku ber-KKN [Kuliah Kerja Nyata] tahun 1994. Di desanya itulah kami berkenalan dan bersahabat selama 3 bulan lamanya.

Udin adalah pemuda yang lumpuh kakinya sejak kecil karena polio. Hanya kaki kanannya saja yang menopang tubuhnya, dibantu ‘kruk’ yang setia menemaninya kemana pun ia pergi bahkan sampai Jakarta ini. Kaki kirinya tidak bisa berfungsi sama sekali karena ukurannya yang lebih kecil dari kaki sebelahnya.

Namun ia adalah pemuda muslim yang taat, jujur dan kuat. Walaupun ia kemana-mana memakai kruk, tak pernah ia meminta seseorang untuk menolongnya berjalan melintasi rintangan, naik tangga, di eskalator sebuah mal atau menaiki gerbong kereta misalnya. Bahkan saat aku hendak menolongnya, ia pun dengan halus menampiknya ‘Gak usah mas, aku bisa.’. Hm, dari dulu si Udin selalu begitu.

Udin sejak kecil rajin beribadah, dari pertama aku mengenalnya 16 tahun yang lalu. Mengaji dan sholat selalu dilakukannya. Setiap ada panggilan azan, ia sudah ada lebih dahulu di musholla, lebih cepat dari kita yang berkaki normal. Beritikaf dari maghrib sampai Isya pun sering dikerjakannya, menunggu waktu sholat sembari tadarus.

Kedua orangtuanya sudah tiada. Ibunya meninggal tahun 2002 dan bapaknya baru berpulang lebaran yang lalu. Jadilah ia harus menanggung beban kehidupan ini dengan 4 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Yang paling kecil pun baru kelas 6 SD dan dititipkannya di sebuah panti asuhan di Mayong, Jepara.

Si Udin saat ini bekerja sebagai kenek dump truk yang beroperasi dari Kudus ke Jepara, 5 rit seharinya. Saat aku menanyakan berapa penghasilannya, ia hanya menjawab ‘Alhamdulillah cukup mas.’ Tak tahu, cukup untuk sehari-hari atau untuk kebutuhan keluarganya bulan ini.

Ia sudah dua kali ke rumahku. Sebelum ini, pada suatu pagi di bulan Mei 2004 ia tiba-tiba muncul naik ojek dari Pulo Gadung. Tak membawa apapun. Jangankan tas perbekalan, baju pun hanya yang dikenakannya saat itu beserta kruk setianya. Kedatangannya karena diperintahkan bapaknya untuk meminta tambahan modal usaha mereka yang mencetak genteng secara swadaya. Ia berangkat dari Jepara tak bermodal apa-apa, hanya alamat rumahku yang didapatnya dari bulik/tanteku di Semarang. Allah lah yang memudahkan segala urusannya, sehingga dapat menemukan rumahku dengan mudah. Sebuah perjumpaan yang indah setelah 10 tahun berpisah.

Tadi pagi, saat aku mengantarkannya ke terminal Pulo Gadung untuk pulang ke Jepara, kami berdiskusi banyak hal di mobil. Dari masalah akidah, anak-anak, haramnya rokok, keinginannya untuk berhaji dan menikah sampai bertanya apa lagi keinginanku yang belum aku capai.

Belum sempat aku jawab, si Udin berkata terlebih dulu bahwa ia tidak ingin menjadi orang kaya. Mengapa, tanyaku. Ia menjawab, kalau menjadi orang kaya, biasanya banyak maunya. Sudah punya satu, ingin dua. Belum punya yang ini, ingin yang itu. Sudah dibeli yang ini, ingin yang lebih bagus. Begitu seterusnya tidak ada habisnya. ‘Lha lalu kamu maunya gimana?’ tanyaku untuk menutupi malu ku bahwa apa yang dikatakannya baru saja terjadi pada diriku beberapa hari yang lalu.

Ia menjawab ‘Aku maunya yang cukup saja mas, tidak berlebih tidak juga kurang. Dengan cara itu aku lebih mudah bersyukur. Kalau banyak harta biasanya orang sering lupa pada Yang Memberinya. Kalau sudah kufur, Allah mudah memberikannya azab.’

Hmm, benar itu ‘Din, sembari aku mengangguk setuju bahwa ujian kelapangan hidup ini kadang melalaikan. Saat dimana kita tidak membutuhkan komunikasi dengan Allah SWT karena segala kebutuhan terpenuhi bisa menjadikan kita kering dalam berkomunikasi denganNya. Berbeda dengan saat orang ditimpa permasalahan dan kesempitan, biasanya butuh bantuan dan intensitas hubungan dengan Rabbnya pun terjalin mesra.

Namun sungguh celaka bagi mereka yang sebelumnya sudah menangis sembari meminta, kemudian Allah merahmati permintaannya dan kemesraan itu pun serta merta hilang karena segala permintaannya telah terpenuhi, siap-siap lah kelapangan itu akan dicabut lagi. Naudzubillahimindzalik.

Terima kasih ‘Din, pagi ini aku mendapatkan satu hikmah hidup darimu. Kecacatanmu tidak menghalangimu untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT. Selamat jalan sobat, semoga tiba dengan selamat di Jepara.

2 Responses to “Si Udin”

  1. Thomas Says:

    Salut buat Mas Udin. Pantang menyerah dan kekurangan fisik tak menjadikannya malas tapi tetap semangat.

    salam

    terima kasih dukungannya bro thomas. semoga bisa menjadi tambahan inspirasi dalam mensyukuri segala nikmat yang sudah diberikanNya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 255 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: