Cerita Umrah

29 Mei 2009 20:47

JAKARTA – Ada beberapa cerita yang dapat disimpan sepanjang perjalanan ibadah Umrah kami tanggal 17-25 Mei 2009 yang lalu. Berikut sedikit diantaranya.

Ustadz yang Mualaf

Pertama kali mengenalkan dirinya di bis saat menjemput kami di bandara King Abdul Azis, pak ustadz kita ini berkata ‘nama saya sejak tahun 1993 adalah Abdullah Hidayat Ramadhan‘. Aku berbisik kepada istriku, ‘jangan-jangan dia ini mualaf ‘mi‘. Istriku pun mengangguk.

Pada suatu kesempatan kami pun menanyakan hal itu kepadanya, dan ia pun membenarkan serta bercerita proses perpindahan agamanya 16 tahun yang lalu itu. Hal yang paling menarik dari cerita beliau adalah hidayah yang didapat justru saat ia berada di dalam tempat ibadahnya. Ia melihat betapa banyak perempuan yang berpakaian namun terbuka auratnya. Padahal mereka datang ke tempat itu untuk beribadah. ‘Ini tidak benar‘ gumamnya. Sejak saat itu ia bersumpah bahwa itu adalah kali terakhir ia masuk ke sana.

Setelah mencari dan menggali banyak agama di muka bumi ini, ia pun memilih Islam pada bulan Ramadhan sebagai agamanya hingga kini, Subhanallah. Tinggal-lah kami para jamaah yang termangu. 16 tahun memeluk Islam namun pengetahuan agamanya melebihi kita yang sudah seumur hidup mengenal Islam. Apa kita yang kurang belajar atau sudah puas dengan keislaman kita yang sekarang?

Untuk ustadz Abdullah bila membaca tulisan ini, salam ukhuwah stadz!
Artikel mengenai ustadz Abdullah Hidayat Ramadhan ini bisa dibaca selengkapnya di situs Koran Republika edisi Januari 2010

Nikmatnya Beribadah

Bagi para jamaah yang sebelumnya pernah berhaji, pasti merasakan nikmat beribadah yang berlipat ganda saat melakukan umrah reguler. Ya, karena perbedaan menyolok adalah betapa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi begitu banyak tempat yang lengang karena jumlah jamaahnya yang jauh lebih sedikit dibanding saat berhaji. Ya mungkin perkecualian untuk umrah Ramadhan, yang kabarnya kepadatannya mirip saat musim haji.

Tidak hanya di lingkaran Ka’bah, di Raudhah pun demikian. Bila dulu saat berhaji aku hanya bisa sesekali sholat fardhu di Raudhah, saat umrah kemarin Alhamdulillah Allah memudahkan untuk bisa berkali-kali bahkan bertadarus sembari menunggu waktu sholat berikutnya.

Namun perjuangan juga tetap dibutuhkan saat memasuki Hijr Ismail. Ya karena tempatnya yang sempit dan banyak orang yang selalu ingin mendirikan sholat dua rakaat sembari bermunajat di sana, tetap saja suasana di dalam Hijr Ismail bagaikan saat berhaji dulu. Berdesak-desakan adalah hal wajar. Yang penting, jangan sampai kita mendzolimi jamaah lain dengan main sikut atau tidak memberinya tempat. Yakinlah bila kita memberikan sedikit ruang kosong untuk sholat, insyaAllah Allah memudahkan kita juga.

Mencium Hadjar Aswad pun demikian. Antrian, saling rebut dan sikut tetap sama. Alhasil, niat untuk mencium batu hitam itu pun perlahan-lahan aku singkirkan karena tidak tega bila mengajak Utami ikut berjuang menciumnya.

Cara Allah Menyuruh Bersedekah

Banyak cerita yang mengatakan bahwa apapun tindak tanduk kita di tanah suci itu kontan balasannya. Nampaknya itu terjadi pada diriku kemarin. Saat setelah sholat Isya selesai, keluar dari Masjidil Haram kami pun pergi ke pertokoan di dekat hotel Hilton. Saat di eskalator, aku melihat orang naik eskalator tanpa mengenakan sandal. Aku hanya bergumam, ‘dia itu gak tau apa bahayanya naik eskalator tanpa pakai sepatu atau sandal?‘ sembari meringis membayangkan bila jari orang itu terjepit eskalator.

Dan malam keesokan harinya, diriku lah yang menaiki eskalator yang sama dan juga tanpa memakai sandal. Sore itu ternyata Allah membuat diriku lupa menaruh dimana sandalku.  Walaupun sudah aku cari-cari tapi tetap tidak ketemu juga. Entah lupa nomor rak-nya atau memang saat itu Allah sedang mengujiku, wallahua’alam. Yang jelas, setelah aku berada di eskalator di pertokoan yang sama itu aku pun tersadar telah mengucapkan hal yang salah kemarin. Segera aku beristighfar, memohon ampun atas prasangka yang buruk terhadap mahluk ciptaanNya.

Mungkin karena istighfarku diterima dan memang masih rejekiku, keesokan harinya secara tak sengaja aku melihat tas sandalku ada di rak di dekat pintu keluar. Alhamdulillah, sandalku kembali! Utami segera mengingatkanku untuk memberikan sandal yang baru aku beli kemarin kepada yang lebih membutuhkannya. Saat meninggalkan masjid aku pun meminta kepadaNya agar dimudahkan untuk bertemu dengan orang yang tidak memakai sandal. Dalam sekejap Allah mempertemukanku dengan pemuda yang mendorong kursi roda namun tanpa alas kaki. Ia pun bergembira saat menerima sandal baruku. Memang Allah Maha Mengabulkan Doa & Pemberi Rejeki.

Bukit Magnet & Percetakan Al-Qur’an

Saat di Madinah, aku melihat tempat kunjungan dalam city-tour mirip dengan saat kami berhaji. Aku dan Utami lalu mengusulkan untuk menambah kunjungan ke bukit magnet. Sang ustadz setuju dengan syarat para jamaah umrah lainnya sudi menambah SR20 per orang sebagai uang bensin dan uang lelah bagi sopir. Setelah masing-masing mengumpulkan uang, kami pun berangkat ke Jabal Magnet, di luar kota Madinah.

Tidak percuma kami mengeluarkan uang tambahan karena apa yang kami lihat memang menakjubkan. Betapa deretan bukit-bukit di sebelah kiri maupun kanan itu memiliki daya magnet horisontal. Menurut sang ustadz, daya magnet ini terasa sepanjang 14 km, Subhanallah.

Untuk membuktikannya, bis yang kami tumpangi berhenti di titik akhir jalan itu. Mesin bis tetap dihidupkan, persnelling dinetralkan dan saat tuas rem diangkat dan kaki kanan sopir dilipat ke kursi, bis pun perlahan-lahan berjalan. Aneh, padahal jalan di tempat bis berhenti itu mendatar, namun bis tetap bergerak dan makin lama semakin cepat.

Saat bis itu mencapai kecepatan maksimal, aku turut mengecek lewat GPS dan terlihat kecepatannya 128 km per jam, melebihi kecepatan maksimal speedometer di bis yang hanya 120 km/jam. Subhanallah.

Sebagai paket dari perjalanan ke bukit magnet, kami pun dibawa ke tempat percetakan Al-Qur’an. Disini para akhwat tidak boleh masuk ke percetakan, hanya boleh berada di showroom. Kami yang dibawa ke dalam ruang percetakannya menyaksikan betapa besarnya percetakan ini.

Percetakan yang merupakan waqaf dari Raja Penguasa Dua Kota Suci ini sanggup mencetak 28 juta eksemplar Al Qur’an tiap tahunnya dan telah diterjemahkan ke dalam 58 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Saat kami pulang, masing-masing dari kami pun diberi satu Al Qur’an, gratis. Mau yang besar atau kecil, silakan pilih.

Pernak-pernik di Rumah Allah

  • Masjidil Haram & Masjid Nabawi sudah barang tentu berbeda dengan masjid di negara kita. Begitu juga para jamaahnya, yang datang dari segenap penjuru dunia. Oleh sebab itu pasti banyak jamaah yang berbeda mashab dengan yang kita anut (syafi’i) yang menimbulkan perbedaan di dalam tata cara sholatnya. Misalnya kita bisa temukan jamaah yang tidak bersedekap saat berdiri, namun hanya meletakkan tangannya di kiri dan kanan. Juga ada yang duduk tahiyat akhir tidak menaruh pantatnya [tawaruk] namun mirip saat ia duduk di tahiyat awal. Kesemua aneka ragam perbedaan itu bukanlah menjadi persoalan dan hal untuk dipermasalahkan, apalagi ditertawakan. Kadang terbersit di hati ini kita lah yang paling benar ibadahnya. Bila orang lain beribadah tidak seperti kita, dianggap salah bahkan bid’ah. Ini yang harus dibuang jauh-jauh, bukan hanya di Baitullah tapi juga dalam keseharian kita, selama permasalahan itu bukan lah masalah akidah.
  • Permasalahan lain yang cukup mengganggu pada awalnya adalah bebasnya orang melintasi tempat sholat kita. Pernah sekali dua aku menahan dengan tangan, mencegah mereka melewati batas sujudku. Tapi kadang karena yang melewati itu bergerombol, kita jadi tak kuasa menahannya. Padahal dalam hadits Rasulullah yang sahih, kita bisa memukul orang itu bila tetap ‘ngeyel‘ melewati batas sholat kita. Namun kenyataan di lapangan, agak susah menerapkan hal ini karena memang bila kita berada di shaf-shaf depan, hampir tidak ada tempat untuk berjalan selain melewati orang yang sedang sholat.
  • Di kedua masjid ini, kita memperoleh pahala berlipat ganda untuk setiap sholatnya. Di Masjidil Haram 100.000 kali dan di Nabawi 1000 kali. Oleh sebab itu tak heran banyak orang yang tetap melakukan sholat sunnah di waktu-waktu yang bukan waktu utama, misalnya sebelum dan sesudah Ashar, serta setelah Subuh. Padahal seperti kita ketahui, sholat sunnah rawatib adalah 2 rakaat sebelum Subuh, 2 atau 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur serta 2 rakaat setelah Maghrib dan Isya. Bila sudah demikian, rasanya tak mengapa kita terus melakukan sholat-sholat sunnah diluar sholat rawatib diatas.
  • Setiap selesai sholat fardhu, muazin selalu mengumandangkan iqomah untuk sholat ghaib/jenazah. Terkadang di Masjidil Haram terdapat jenazahnya, kadang tidak. Namun ada tidaknya jenazah pada saat itu, sholat ghaib tetaplah dilaksanakan. Aku menyarankan jangan tinggalkan ajakan sholat ini. Tentu kita ingin bernasib seperti jenazah itu pada saatnya nanti bila kita telah mati, kita mengharapkan banyak yang mensholati jenazah kita bukan? InsyaAllah dengan terbiasanya kita mengikuti sholat jenazah, Allah akan memperhitungkan sebagai amalan yang bermanfaat bagi kita, amin.

Mengazzamkan Niat

Dua kali sudah kami ke tanah suci. Anehnya, setiap manasik aku merasa Allah memberiku semacam tanda untuk lebih mengazzamkan niat beribadah di tanah suci.

Yang pertama saat manasik haji 4 tahun yang lalu. Dalam sebuah paparannya, ustadz Sholih Sofyan menceritakan ada jamaah terdahulu yang terobsesi dengan thawaf. Saking terobsesinya, ia pun selalu thawaf sebelum sholat fardhu dimulai. Bila kita di Mekkah 25 hari, bisa dihitung ia mengelilingi Ka’bah minimal 25x5x7=875 putaran!

Berangkat dari situ, waktu berhaji aku tidak sekuat itu meniatkan diri untuk berthawaf. Aku hanya berniat untuk thawaf minimal setiap masuk ke Masjidil Haram tiap harinya, sebelum duduk. Alhamdulillah, rata-rata selama 25 hari di Mekkah aku thawaf dua kali dalam sehari.

Begitu pula saat manasik umrah. Pemilik biro travel yang mengantar kami berumrah menceritakan ada jamaah umrahnya yang sanggup menkhatamkan Al Qur’an 3 kali. Bisa dibayangkan, umrah yang hanya efektif 7 hari beribadah namun sanggup khatam 3 kali. Mendengar cerita itu, serta merta aku berniat untuk mengkhatamkan Al Qur’an satu kali selama umrah, walaupun ‘prestasi’ terbaikku hanya sanggup mengkhatamkan dalam 1 bulan, itu pun di bulan Ramadhan.

Jadi benang merahnya adalah, walaupun umrah ini panggilan dari Allah jua, janganlah menjadikannya sebagai wisata rohani saja. Karena perjalanan ke Baitullah adalah perjalanan yang suci, yang membutuhkan banyak tenaga, pikiran maupun harta benda maka sebaiknya perjalanan suci itu jangan hanya kita isi dengan ibadah yang begitu-begitu saja, harus ada niat kuat untuk lebih mendekatkan diri dalam rangka terus mencari ridha Allah SWT.

Semoga apa yang ditulis disini bukan merupakan suatu kesombongan, pamer, ujub atau riya’, karena semata-mata memang tulisan ini dibuat untuk membagi informasi yang -insyaAllah- bermanfaat bagi yang mau membacanya. Semoga Allah mengampuni bila ternyata terdapat sedikit lintasan itu di hati..

One Response to “Cerita Umrah”

  1. nha Says:

    Sengaja mencari cerita yg membahas ttg umrah..utk mmantapkan keinginan n mnyempurnakan niat+motivasi utk brangkat.. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Tulisan ini menambah smangat utk mengaktualkan nya..
    Smoga dpermudah,amiinn..

    amin Allahumma amin, semoga diijabah segala keinginan untuk berangkat ke tanah suci memenuhi panggilan Allah SWT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 255 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: