Diskusi Golput
4 Maret 2009 8:51
JATIBENING – Pagi ini saat ritual berangkat kerja yang ditemani para penyiar radio Dakta 107FM Bekasi, lagi-lagi Utami dan aku berdiskusi soal Golput. Diskusi ini dipicu saat mendengar mantan Amir/Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) KH Abu Bakar Ba’asyir yang tidak setuju dengan fatwa haram golput, menyatakan dirinya masuk ke dalam golongan putih itu karena Islam tidak mengenal adanya sistem demokrasi.
Utami yang [sepertinya] paling anti dengan kata golput, langsung bereaksi dengan mengatakan ‘kalau semua umat Islam memilih golput, lalu siapa yang nanti akan memperjuangkan terwujudnya syariat Islam di negara kita?‘ sembari kutimpali pertanyaannya dengan mengatakan ‘jangan terburu-buru menyalahkan orang-orang yang memilih golput karena itulah keyakinannya.’
Sekedar flashback, memang kami sebelumnya pernah berdebat masalah ini. Aku yang mula-mula menyatakan bahwa bila tidak ada calon anggota legislatif yang kukenal dan menurutku layak sebagai wakilku di DPR/DPRD, aku lebih memilih golput. Utami pun serta merta menolak pemikiranku.
Tapi aku pun punya beberapa alasan. Yang pertama, bahwa menunjuk seseorang sebagai wakil kita adalah sama saja memberinya amanah. Bila amanah itu tidak dapat dilaksanakan dengan benar, bukan dia saja yang bersalah dan berdosa namun juga orang-orang yang mempercayainya untuk melaksanakan amanah itu. Ini kan konsekuensinya berat, dunia dan akhirat.
Alasan yang kedua, aku tidak akan memilih orang-orang yang meminta dirinya untuk dipilih. ‘Bagaimana mungkin, kalau mas mau kenal sama caleg ya mereka harus memperkenalkan diri dong..’ ujar Utami menyanggah pendapatku.
Memang benar, kalau tidak beriklan bagaimana kita mengenal pilihan kita? Tapi maksudku, seharusnya yang beriklan bukan pribadi-pribadi itu, apalagi dari kocek pribadi. Harusnya partainya lah yang mengiklankan mereka. Partainya lah yang memperkenalkan calon-calon legislatif itu.
Toh gampang kok membedakannya: Kalau iklan dari partai ya jumlah orang yang diiklankan tentu tidak cuma satu, pasti banyak. Coba lihat spanduk-spanduk para caleg yang mengotori sudut-sudut kota ini. Satu spanduk, satu wajah caleg. Wajah dengan titel akademis dan agamis berenteng, tersenyum manis dan penuh dengan janji-janji politik. Bukannya itu pemborosan? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berpromosi seperti itu? Mengapa tidak partainya saja yang mempromosikan dirinya? Toh bila terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen, gajinya pun akan dipotong untuk kehidupan partainya. Fair kan?
Kembali ke pagi ini, diskusi [atau tepatnya debat kusir kali ye?] mencair setelah kami mendengar mekanisme pencoblosan surat suara. Ternyata, kita diperbolehkan untuk memilih partainya saja, bukan orangnya. ‘Nah, kalau ini, insyaAllah aman‘ ujarku sambil kujelaskan kepada Utami bahwa memilih partai berarti kita menyerahkan amanah kepada para pemimpin partai atau Majelis Syuro partai bersangkutan. Giliran siapa yang hendak menjadi anggota parlemen, itu terserah partainya. Bila ternyata orang yang dipilih sebagai anggota legislatif lalu bermaksiat di jalan Allah, siapa yang bertanggung jawab dunia akhirat? InsyaAllah bukan kita sebagai pemilih partainya kan?
Jadi, boleh nggak tidak golput?















4 Maret 2009 12:02 at 12:02
Golput doesn’t help anything. Kata Dave Mustaine (Megadeth) waktu kampanye “Rock the Vote” di US sana, dia bilang, “think about it. By not voting, it’s like giving your vote to the party you don’t want to win.”
Jadi ya, choose the best among the worst. Gimana lageeee?
Sebel sih sama caleg-caleg enggak berpendidikan itu. Kalau bisa punya duit pasang billboard di Jalan Fatmawati(salah satu caleg PKS tuh), apa ya nggak mubazir. Mending dia sumbangkan uangnya untuk amal pembenahan suatu sekolah kek. Kalau memang bagus hasilnya kan bisa diketahui oleh masyarakat akan sumbangsih “real” nya. Nggak cuman asal “nyangkhem”: pilih aku, aku akan membuat perubahan.
Oh well. Aku pilih Manchester United aja deh.
10 Maret 2009 16:10 at 16:10
saya awalnya ingin golput, tapi beberapa hari terakhir ini sudah menemukan orang yang cocok buat saya “contreng” mas
13 Maret 2009 15:07 at 15:07
belon tau nih
mau golput apa ga ya ?
16 Maret 2009 6:45 at 6:45
Salam lagi yi,
setelah saya mengomentari tulisan tentang rokok sekalian saya komentari juga tentang golput hehehe.
Pertama : simple aja. Dari lahir saya golput sampe sekarang. Dan simple aja masalah yea and nay ini bukan model yang saya pilih untuk memilih pemimpin.
Kedua : untuk campaign sendiri orang sekarang sudah membelokkan arti katanya. kata-kata campaign bagi saya baru dikenal setelah revolusi amerika saya kira. ketika orang-orang rame-rame mendatangi George washington untuk secara sukarela menjadi pemimpin mereka. rame-rame rakyat datang kepada seseorang untuk diminta menjadi pemimpin itu mungkin tepatnya untuk kata campaign.
Tapi sekarang justru kata campaign adalah mendatangi rakyat untuk memilih dia menjadi pemimpin.
Hal ini mirip kesalahan kata untuk schooling itu sebabnya rabindranath tagore pernah menyuruh rakyat india untuk deschooling. hampir mirip kesalahannya.
Ketiga :
Demokrasi di Indonesia adalah setali tiga uang dengan demokrasi amerika. hampir mirip tapi di Indonesia demokrasinya adalah seperti kata Fuji film
” LEBIH INDAH DARI WARNA ASLINYA “. Mekanisme yang sangat canggih oleh KPU tapi dari segi tehnologi seperti tehnologinya mr flinstone. atau lebih tepatnya mr barney. Pengalaman pribadi saya dengan Doktor fahmi dari BPPT yang mengurusi KPU tahun 2004 jelas memperlihatkan kemampuan yang biasa-biasa saja.Mengapa amerika memilih model demokrasi? Simple aja jawabannya. setelah Conquistador kalah dan banyak lari ke selatan, tinggalah amerika yang inggris atau perancis. Berhubung para koboi adalah rata-rata bekas pencuri, jambret dan lain-lain yang dibuang dari tanah aslinya dan tidak punya seorang raja maka dipilihlah diantaranya mereka sendiri. Itu sebabnya demokrasi kurang begitu diminati di inggris atau eropa pada umumnya. monarchi lebih menarik bagi mereka. Dan saya kira kalo kita mau mirip eropa mending milih Hamungkebuwono atau “BAPAK DAYAK ” kaya gue gitu hehehhe.
Keempat : Ada yang bilang bahwa “Anak kandung demokrasi adalah ekonomi” dan saya mengamini itu. Itu sebabnya ekonomi indonesia mirip-mirip ekonomi amerika. Dan lihatlah sekarang. Krisis amerika di bagi rata dengan krisis indonesia. “Mekanisme pasar bisa mengurusi dirinya sendiri” ungkapan paling canggih yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu oleh pakar-pakar ekonomi amerika terkemuka plus anggukan amin dari para ekonom indonesia sampai saat ini dan sekarang ungkapan paling bodoh yang saya dengar. dan uppsss ada lagi Bretton woods 1971 memutuskan uang jangan lagi di konversi ke emas. Saya ngak tau apa ada pejabat BI waktu itu yang ikut.
Apa Sri mulyani juga ikut ?
Kelima : Produk pemimpin dari Pemilu liat aja sekarang. SBY dan yusuf kalla saya kira pemimpin yang sudah sangat baik untuk Indonesia masa kini. Karena memang cuma segitu Indonesia sekarang. Mo di gas poll juga tarikan mesinnya cuma 125 cc aja. Wajah SBY yang sembab dan tidak segar memang mencerminkan wajah muram Indonesia Kekinian. Dan diantara yang lain SBY memang terbaik untuk Indonesia yang 125 CC engine. Sedangkan JK adalah juara kedua. Dan juara kedua adalah ” Juara pertama dikalangan para pecundang”. Dan saya kira memang mereka berdua adalah produk demokrasi Indonesia yang paling baik untuk saat ini. Tapi kalo boleh memilih Amin Rais juga terbaik tapi dia bukan produk demokrasi tapi produk UGM hahahhahaha.
”.
Itu artinya ” Daerah pogung dan sekitarnya
Keenam : Solusi untuk Indonesia sekarang adalah sebuah tablet : tablet perbaikan ekonomi. Saya kira bila seseorang mau menang dalam pergolakan demokrasi model Indonesia ini sebaiknya yang punya uang banyak.
Anda tau berapa orang indonesia yang mempunyai simpanan dibank diatas 2 milyar ?? hanya 0,2 %
Itu artinya kelas yang berduit tidak banyak. dan itu artinya tidak banyak yang bekerja dan itu artinya model ekonomi yang salah. Dan yang terakhir itu artinya Menteri ekonominya yang…..tebak sendiri.
Dan itu artinya terlihat jelas di muka SBY yang sembab.
Ketujuh : Ekonomi syariah lumayan bagus perkembangannya. Ini Model alternatif walaupun bagi saya pribadi masih sedikit kabur konsepnya. Seharusnya team penyuluh jargon-jargon ekonomi syariah harusnya turun ke desa-desa. Minimal ada model lain seperti ini dibandingkan model ekonomi sekarang yang dianut Indonesia ” Mekanisme pasar dapat mengatur dirinya sendiri”….
Ketujuh : Aku sendiri belum tau tablet apa yang pas. Belum ada tablet model murti-bing seperti di hongaria. Dan biarkan esok menjawabnya. Atau seperti di russia jaman lenin dan stalin ” Mereka pura-pura bekerja dan kami pura-pura membayar”.
Salam
Rahmad
17 Maret 2009 7:54 at 7:54
dari umur pertama kali bisa nyoblos diriku ga pernah nyobloz di pemilu, sampai sekarang, abis tuh caleg banyak bener ampe kaya baca koran dah klo buka kertas pemilu, trlalu bnyak janji yang diumbar2, tapi kenyataannya smua janjinya ga ada yg ditepatin yang ada malah ngumbar brantem diruang sidang, terus tidur kalau lagi sidang…
terus juga setiap menjelang pemilu jalan2 kotor dengan atribut atribut partai, merusak keindahan…dan juga buang2 uang…
pemilu caleg besok diriku ga akan milih sapa2, karena mereka hanya ngumbar janji….lagian juga sapa ya mereka, kenal juga engga, mereka juga kalau udah duduk di dpr/dprd tidak akan inget kita kita yang memilih, mereka hanya mementingkan diri sendiri dan partainya….
19 Maret 2009 11:29 at 11:29
Salam
Vox Populi Vox Dei. Saya setuju dengan itu dan lebih setuju lagi kalo Vox nya adalah Golput. Justru Golput biasanya terdiri dari orang-orang yang jauh lebih mengerti kekotoran-kekotoran politik baik itu politik dengan haluan kiri nasionalis ataupun agama. Memilih PDIP atau GOLKAR sama tidak menariknya dengan memilih PPP atau PKS. Dan jika tetap memilih itu artinya sama saja pilih semuanya alias golput-golput juga.
Pilihan tidak ada yang menarik semua. Pemilu 2009 saya berani jamin golput 73 %
Salam
28 Maret 2009 9:38 at 9:38
assalamu alaikum wr. wb.
Saudaraku tersayang…
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/
semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.